PADA tahun 2003, pelukis I Made Bakti Wiyasa (Tabanan, Bali, 1974) membaca iklan kompetisi seni lukis nasional Indofood Art Award. Setelah menyimak tema kompetisi itu: “Merayakan pancawarsa reformasi Indonesia”, ia tersedak. Pasalnya, ia merasa tema itu dianggap mengada-ada. Reformasi sesungguhnya telah gagal, dan sama sekali tidak perlu diagul-agulkan, katanya. Namun Wiyasa tetap ingin terlibat dalam kompetisi.
Apa yang ia cipta dalam lukisan? Wiyasa menggambar orang Indonesia gembrot bercelana “Tali Jojon” (bretel, suspender) sedang mengacungkan tangan kanannya ke atas. Kepala orang itu copot, sehingga ditutupi kantong kertas. Sementara tangan kiri si orang tampak memeluk kepalanya yang sudah lepas.

Lukisan I Made Bakti Wiyasa, “Jarang Menggunakan Kepala” (2003).
Lukisan itu bertutur: inilah gambaran tentang orang-orang Indonesia. Mereka tidak lagi memakai kepala. Korupsi, kolusi dan nepotisme alias KKN tetap saja ada di mana-mana, di bidang apa saja. Termasuk tentu dalam forum juri kompetisi seni rupa yang ia ikuti. Karena itu Wiyasa berharap lukisannya dibuang jauh-jauh ke kali.
Namun apakah lukisan berjudul “Jarang Memakai Kepala” itu tereliminasi? Tidak. Mungkin lantaran “merasa takut” tersenggol sebutan mahluk KKN bermental miris, dewan juri (ndilalah saya ada di dalamnya) memasukkan karya Wiyasa ke daftar finalis.
Ini yang lain.

Pelukis masdibyo. Hahaaak!
Pelukis masdibyo (huruf kecil semua), merasa diri sebagai pelukis tiada artinya. “Saya hanya wong cilik yang sekadar suka menggambar”, katanya. Namun pada suatu hari di tahun 1989 masdibyo (aslinya bernama Joko Sudibyo, kelahiran Pacitan, 1962) ingin jadi wong gede. Ia berhasrat ikut Kompetisi Pelukis Muda – Memperingati 200 Tahun Revolusi Prancis. Hadiahnya, tur seni keliling Paris.
Namun begitu menghadapi kanvas, pikirannya menciut dengan praduga yang jauh melayang. “Aku ini pelukis apaan, oleh dewan juri lukisanku tidak akan dipandang,” gumannya berasumsi. Ia menganggap bahwa dewan juri – yang namanya sering disanjung – adalah mahluk KKN yang kegemarannya memenangkan sahabat dan saudara sekandung.
Maka masdibyo pun melukis dirinya sendiri sebagai petinju bercelana merah dengan tubuh kurus kering, yang baru saja mengknock out wasit (referee) di atas ring. Lewat lukisan bergaya naif, wajah petinju itu digambarkan melongo heran setelah berhasil menjatuhkan “lawan”. Judul lukisan itu “Bukan Jago Kandang”.
“Saya tidak ingin memenangkan kompetisi. Saya hanya ingin meng-KO dunia dewan juri seni, yang saya dengar sejak dulu sering bikin kontroversi,” kata masdibyo.

Lukisan masdibyo, “Bukan Jago Kandang” (1989).
Eh, apa dikata, lukisan masdibyo ternyata menjadi salah satu juara, mengalahkan ratusan pelukis kondang. Karena bukan juara utama, ia tak terbang ke negeri seberang. Tapi si petinju kampung pun (dengan gagah) melenggang pulang kandang.
**
Pada tahun 1999 pelukis spesialis orangutan Lim Hui Yung (kelahiran Jakarta, 1962) membaca iklan ajakan kompetisi Philip Morris Indonesia Art Awards di Jakarta. Sungguh ia tak ingin mengikutinya. Ia mengaku sering curiga, betapa para pemenang dan finalis kompetisi legendaris itu sering diduduki oleh para sobat dan kerabat personil dewan juri.
“Itu KKN seni rupa yang paling nyata,” katanya. Meski untuk membuktikan itu ia tidak memiliki dua alat bukti, sehingga kecurigaannya pun terbukti sebagai syakwasangka yang minim bukti.
Namun kali ini hasratnya untuk berlomba tidak terbendung, lantaran didorong ide yang datang diam-diam pada suatu malam. “Saya ingin membuat karikatur yang mengkritisi kompetisi ini. Agar tersadar tuh dewan penilai,” ujarnya.
Maka ia menggubah lukisan dengan konten yang makgedubrak tabrak langsung. Di kanvasnya yang kecil ia menggambar sejumlah orangutan sedang rame-rame menggelar lukisan ciptaannya. Lukisan yang ditunjuk-tunjukkan itu hanya berupa kanvas putih dengan sedikit noktah yang tak jelas komposisinya. Di belakang para orangutan itu terbeber spanduk bertulis Philih Murid Art Award. Baca: Philih Murid….

Lukisan Lim Hui Yung, “KKN Award” (1999).
Terusirkah karya banyolan yang sangat sinistik itu? Lukisan berjudul “KKN Awards” tersebut memang tidak memenangkan kompetisi. Namun sembilan pakar seni rupa yang menjadi juri kompak mengangkat si KKN masuk sebagai finalis. “Sial”nya, dalam pameran lukisan itu sukses memancing ihik-ihik-ihik penonton, dan menjadi bahan introspeksi.
Menolak menang lewat dagelan, bagai yang ditunjukkan oleh lukisan Wiyasa, masdibyo dan Lim Hui Yung, kelihatannya hadir sebagai fenomena yang tidak biasa. Meski sesungguhnya itu biasa, lantaran itu adalah bagian yang kadang niscaya dari manifestasi jiwa orang-orang yang tidak biasa. Bingung? Ini penjelasannya.
**
Dalam ilmu psikologi konten seni seperti ciptaan mereka bertiga itu ditengarai sebagai manifestasi dari rasa kawatir, yang sesungguhnya bermuara pada rasa “takut kalah”. Namun intelegensi paripurna seni mereka bisa memetamorfosakan kekawatiran dan ketakutan itu dalam keberanian yang disamarkan. Keberanian yang disamarkan itu terwujud dalam humor, atau banyolan. Dan lantaran mereka orang-orang yang kritis, maka banyolan visual yang dihadirkan juga bersifat kritikal.
Sigmund Freud (serius, nih) mengatakan bahwa kecenderungan orang melawan ketakutan dengan humor adalah bentuk perilaku taktis. Karena “humor refleksi ketakutan” dipercaya akan berfungsi sebagai mekanisme koping (coping). Satu perilaku yang secara otomatis mengajak seseorang menyusun strategi untuk menanggulangi stres, mengurangi stres, atau tekanan emosional.
“Humor berfungsi melepaskan energi psikologis dalam diri seseorang, atau ketegangan yang berlebih dalam jiwa seseorang. Dengan begitu rasa cemas tidak menumpuk di sistem saraf. Psikologi tahu, tumpukan rasa cemas di sistem saraf akan membikin seseorang jadi gila,” simpul atas telaah Freud.
Lebih jauh, humor atau banyolan, baik yang tulis, oral atau visual, akan merubah perspektif kognitif seseorang. Karena banyolan sanggup menertawakan situasi yang menakutkan, dan akan menjadikan “ancaman” memiliki proporsi lebih kecil, sehingga gampang dikontrol dan bahkan ditaklukkan. Dengan begitu, pada ujungnya, “ancaman” bukan lagi bahaya mutlak yang melumpuhkan.
Sementara dari pihak para juri, ilmunya beda lagi. Mereka melihat lukisan-lukisan banyolan kritikal itu dengan pemahaman lobus prefrontal. Satu istilah yang menjelaskan ihwal otak yang sanggup mengatur fungsi berpikir seseorang ke level sangat tinggi. Ketika lobus itu dipakai, para juri akan otomatis memproses informasi mengenai pesan apa yang tersembunyi dari balik humor atau banyolan. Dan lantas memberi sinyal kepada sisi otak lain untuk memahami bahwa yang didengar, dibaca dan dilihat itu sesungguhnya penting, dan ini dia: lucu. Bagi juri, lobus ini menebarkan hormon kebahagiaan. Bagi para juri, humor atau banyolan dapat membantu membangun hubungan koneksi.
Ada contoh lain lukisan kompetisi yang “menang” setelah takut kalah.
Untuk kompetisi Jakarta Arts Award 2010, Erianto (Padalangan, Agam Sumatera Barat 1983) mengirim lukisan yang berobyek paket kardus yang sobek di bagian tengahnya. Di satu sisi kardus itu terdapat tulisan alamat: To : Art Observer, Art Lover, Curator, Criticus and Art Space in All Big Cities. Lukisan tersebut berjudul “Dalam Kotak”

Bagian dari lukisan Erianto, “Dalam Kotak” (2010).
Lukisan Erianto tersebut berkata bahwa dalam kardus itulah lukisannya berada. Tidak usah dilihat, karena kardus tidak bisa dibuka. Karena lukisan itu sesungguhnya bukan apa-apa dan bukan karya siapa-siapa di mata dewan juri yang penuh kuasa.
Lukisan yang sinis tapi penuh metafora membanyol itu, eh, masuk sebagai finalis. Bahkan ada beberapa juri yang ingin menggeret lukisan itu sebagai calon juara. Tapi keberuntungan Erianto agaknya masih tersimpan rapat dalam paket kardus yang (ternyata) jenaka.
Ujung kalam adalah penjelasan.
Sebagai pelukis yang banyak rejeki, I Made Bakti Wiyasa kini mengelola Bakti Wiyasa Art Gallery di Bali. Beberapa lukisan Lim Hui Yung dikoleksi oleh Istana Kepresidenan. Erianto telah memamerkan karyanya di berbagai negara. Sedangkan masdibyo tercatat sebagai seniman inti dalam SBY Art Community yang dikelola oleh Susilo Bambang Yudhoyono, mantan presiden RI.
***
AGUS DERMAWAN T
Pengamat Budaya dan seni.