Canda Ria Keramik Dunia

November 1, 2026

Keramik F.Widayanto, “Ganeshi”. (Foto: Agus Dermawan T.)

Penulis:

Agus Dermawan T.

 

PADA bulan Februari 1981 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, tergelar Pameran Keramik Humor Tiga Kota. Pameran yang diadakan oleh Lembaga Humor Indonesia dan Dewan Kesenian Jakarta ini menarik perhatian karena dua hal.

Kesatu, ini adalah pameran keramik pertama yang sengaja melucu di tengah gelora seni rupa Indonesia, yang selama seratus tahun pengennya serius, tampil gagah, dengan pretensi masuk sejarah. Kedua, keramik yang biasanya selalu hadir formal, “tradisional” dan “berwibawa”, mendadak tampil kocak dan bikin pelihatnya tertawa.

Namun kejenakaan pameran itu, menurut sejumlah pengamat, sedikit terganggu. Gangguan justru datang dari pengantar pameran yang ditulis A. Girindra Soegijo. Pengantar itu dianggap sama sekali tidak lucu, lantaran terlalu teknis dan membuat pembacanya meringis.

Mari kita baca sebagiannya.

“Air dan api/panas merupakan lambang dari kehidupan. Seniman keramik membutuhkan kerjasama secara langsung dengan keduanya. Air membantu proses pembentukan, sedang api merubah karya sementara menjadi hanya definitif atau final.”

Ikranagara (1943-2023) budayawan, penulis dan pemain teater, lantas protes. “Pengantar Girindra terlampau serius. Bikin humor jadi kendor,” katanya.

Tapi kekecewaan Ikranagara lantas dilibas oleh Arwah Setiawan (1935-1995), humorolog kampiun, tokoh di balik pameran itu. Ia justru terpingkal-pingkal membaca pengantar Girindra.

“Ini sungguh lucu! Justru seriusnya yang kontras ini mengajak semua orang ngguyu,” katanya.

Ia mengatakan bahwa sesuatu yang sangat berbeda dalam satu rangkaian suasana yang sama, akan menimbulkan keanehan. Dan persis seperti rumusan Teguh Srimulat, keanehan di situ menjadi lucu. Sementara semua tahu, “ketidak seriusan” keramik humor digarap dengan keseriusan yang tidak bisa diganggu.

 

**

 

Dalam pameran yang diikuti belasan seniman itu cukup banyak karya yang ngihik. Keramik Boedi S.R., perupa sekaligus penyanyi dan pelawak Srimulat, adalah contohnya. Ia mencipta keramik yang menggambarkan lelaki duduk sedang membuka sarungnya. Tatapannya tertuju kepada benda kecil, yang ternyata adalah “alat”nya sendiri. Bukaan sarungnya itu menjelma menjadi semacam bak air untuk mandi atau cuci-cuci.

Keramik Subroto Sm, “Un Separated Relation”. (Foto : Dokumen Subroto Sm)
Keramik Subroto Sm, “Un Separated Relation”. (Foto : Dokumen Subroto Sm)

 

Keramik Piet Stockman dari Belgia, “Dua Puluh Lima Teko Penyat”. (Foto: Agus Dermawan T.)

Keramik Piet Stockman dari Belgia, “Dua Puluh Lima Teko Penyet”. (Foto: Agus Dermawan T.)

 

Subroto Sm. mencipta keramik berjudul ilmiah, “Un Separated Relation”. Karya ini berwujud cangkir dan tatakannya sedang berebut bidang, sehingga lempeng keramik di situ tampak bersambung dan tarik menarik. Keramik ini menggiring pelihat untuk menafsirkan makna simboliknya, di balik visual yang mengagetkan dan mengundang tawa. Sehingga ada yang membaca bahwa itu adalah metafora dari sang pemimpin (cangkir) yang tak rela sebagian perannya diambil oleh wakilnya (tatakan). Hahaha. Karena lucu dan multi tafsir, keramik Subroto ini dijadikan gambar sampul katalog Pameran Keramik Humor Tiga Kota.

Subroto mencipta keramik ngguyu itu di Jepang pada tahun 1976, atas dorongan Profesor Tsutomu Hiroi, yang dikenal sebagai pematung kontemporer Jepang. “Buroto-san, anata wa me o hiku yōna, hitobito o shiawaseni suru tōki o tsukutte iru ndesu yo ne?” kata Tsutomu. Terjemahannya kira-kira. “Tuan Broto, kamu bikin keramik yang ngepop dan bikin orang bergembira, ya.”  Maka jadilah keramik itu.

Kecenderung pikiran seni Jepang untuk melucu ternyata bukanlah fenomena baru. Karena itu sudah diancang-ancang oleh para seniman Jepang sejak negeri itu kalah dalam Perang Dunia II.

Pada tahun 1948 di Jepang berdiri kelompok perupa keramik Sōdeisha (Klub Tanah Liat Merangkak). Kazuo Yagi, pendiri klub itu, mengatakan bahwa cara terbaik untuk menghilangkan trauma perang adalah melucu. Dalam konsep lucu itu Kazuo mengijinkan para seniman meninggalkan fungsi praktis dari keramik. Sehingga para keramikus pun – tanpa perlu “mohon ijin” – menggubah kreasi sebebas-bebasnya.

Kazuo menyarankan agar keramikus menghindari sebutan “hanya pembuat chawanya atau mangkuk nasi”. Dan ia meyakinkan para seniman bahwa hasil penjualan keramik lucu bisa untuk beli ribuan mangkuk berisi nasi berlauk chicken katsu. Tentu dengan catatan: kalau laku.

 

**

 

Di Jepang, soal seni bebas merdeka, yang ujungnya menghasilkan keramik banal dan jenaka, juga ditandai dengan munculnya gerakan Zakka, yang beringsut dari Kyoto sampai Tokyo. Gerakan ini diawali dengan kesukaan orang-orang Jepang kepada barang-barang kecil. Seperti mug, sumpit, tempat pinsil, gayung air, pot bunga, penindih kertas, dan seterusnya. Agar tidak membosankan, Zakka mengarahkan penciptaan kepada yang lucu-lucu. Sehingga yang hadir di hadapan mata tampak cute, imut, mengajak orang untuk senyum-senyum sendiri. Omoshiroi, kata pendekar samurai Miyamoto Musashi.

Kreasi keramik mashab Zakka juga mengeksploitasi berbagai bentuk benda kecil yang sangat diakrabi masyarakat. Penyimpulan “benda kecil yang sangat diakrabi masyarakat” itu di antaranya diambil dari arsip Kepolisian Negara Jepang. Syahdan institusi kepolisian ini dalam setiap tahun mengumpulkan ratusan ribu benda-benda kecil temuan: milik masyarakat yang tercecer atau ketinggalan, untuk dikembalikan.

Seniman Zakka pun mengeramikkan benda-benda kecil itu dengan pembesaran skala. Ketika diketahui bahwa barang yang sering ketinggalan adalah earphone, maka earphone pun dijadikan obyek. Humornya, benda yang aslinya berukuran sebiji cermai itu hadir dalam seni keramik sebesar buah mangga. Bayangkan ada earphone sebesar mangga.

(Catatan samping: soal terkumpulnya barang temuan, bagi masyarakat Jepang adalah ihwal yang biasa. Karena sejak sangat lama orang Jepang pantang menyentuh barang yang bukan miliknya, meski barang itu sedang tercecer terlunta lantaran ditinggalkan si empunya.

Satu fenomena mustahil dan sangat lucu bagi orang Indonesia, yang sering enteng tangan mengambil barang yang ketinggalan, dengan dalih “meringankan kerja Kepolisian”.)

 

**

 

Keramik Eric van Eimeren dari Amerika. Tangki oli bingung sendiri. (Foto: Agus Dermawan T.)

Keramik Eric van Eimeren dari Amerika. Tangki oli bingung sendiri. (Foto: Agus Dermawan T.)

 

Keramik Takashi Murakami, “Sepasang Tamu Tak Terduga”. (Foto: Agus Dermawan T.)

Keramik Takashi Murakami, “Sepasang Tamu Tak Terduga”. (Foto: Agus Dermawan T.)

 

Akhirnya, pada halaman ini tersaji sejumlah keramik lucu dari berbagai negara, yang digarap dengan konsep humor, atau yang secara tak sengaja menjadi bodor.

Pertama tentu keramik Subroto Sm. yang sudah terbicarakan di atas.

Lalu keramik karya Piet Stockman dari Belgia, yang ada pula ceritanya. Piet pada mulanya menggubah teko keramik berbentuk simetris. Eh gagal. Ia menggubah lagi, gagal. Bikin lagi dan gagal lagi. Setelah dijajar-jajar, buah kegagalan itu melahirkan inspirasi brutal. Diilhami “ayam penyet” Mojokerto, teko-teko gubahannya yang sudah sempurna lantas digencet. Jadilah “Dua Puluh Lima Teko Penyet”.

Keramikus Eric van Eimeren dari Amerika membuat tangki minyak menyerupai hewan yang berjalan bingung ke sana kemari. Ya, seperti sindiran soal bisnis minyak yang melompat-lompat tanpa kendali. Keramikus Takashi Murakami dari Jepang menggubah karya dengan tema yang menjadi miliknya: monster jenaka. Karyanya halus, tertib, penuh warna dan mengajak orang tertawa di belakang meja kerja.

Keramikus Indonesia F.Widayanto mencipta keramik Ganesha Ganeshi yang seru dan tambun. Ganesha yang luar biasa gemuk bisa digambarkan sedang duduk di singgasana yang kecil kursinya. Sedangkan Ganeshi acap dikeramikkan sedang paesan alias berhias diri. Matanya yang sipit tampak melirik ke sana dan ke sini.

 

Keramik F.Widayanto, “Ganeshi”. (Foto: Agus Dermawan T.)

Keramik F.Widayanto, “Ganeshi”. (Foto: Agus Dermawan T.)

 

Sebagai keramikus yang berada di koridor serius, Widayanto sekali waktu membuat keramik yang beraroma humor. Bukankah humor itu serius? Dan kehumoran keramik Widayanto selalu dicapai apik ketika ia mencipta figur-figur ke-gemuk-an. Karena itu studionya juga memproduksi keramik-keramik berobyek kerbau yang gemuknya keterlaluan.

Jarang yang tahu bahwa penciptaan kerbau-kerbau gemoy itu diilhami oleh pantun pendek yang berbunyi:

Gundul dalam semak.
Kerbau mandul banyak lemak. 

Sekian dan permisi.

 

***

 

Agus Dermawan T.
Pengamat budaya dan seni.

Penulis:

Agus Dermawan T.

KOLOM & ARTIKEL TERBARU

KOLOM & ARTIKEL TERKAIT