Mengenang Arwah Setiawan (bagian 3: habis)

Arwah Zaman edan

Mengenang Arwah Setiawan (bagian 3, habis)
Mati Ketawa Ala Indonesia: Humor itu Serius…!

REPUBLIKA.CO.ID,‘’Humor itu serius …!’’ Mungkin bagi sebagian orang, humor, ngebodor, atau kelucuan adalah soal sepele atau main-main. Bahkan, dalam banyak kajian humor sebenarnya hanya bisa dilakukan oleh orang jenius dan berani berpikir “di luar kotak”.

Untuk “menguliti” soal humor, ternyata belum banyak pemikir Indonesia yang melakukannya. Dan, dari sedikit orang itu ada satu tokohnya, yakni mendiang Arwah Setiawan. Nama ini unik, meski sangat serius karena sempat dianggap kelucuan karena memakai kata “Arwah”, itulah identitas sebenarnya dari mendiang lelaki yang disebut sebagai pemikir humor Indonesia.

Memang, dia sudah lama meninggalkan dunia fana ini, tapi sosok Arwah dalam dunia humor Indonesia tetap eksis dan sulit dicari tandingannya.

Ketika masih hidup, almarhum Arwah sempat bekerja di USIS (Kedutaan Besar Amerika). Ia pun pernah menjadi pemimpin redaksi di banyak majalah. Bahkan, Arwah sempat duduk sebagai redaktur pelaksana sebuah majalah paling serius di

Indonesia, yakni majalah sastra Horison. Sebelum wafat, dia sempat berkantor di Citra Audi Vistama (pelayanan profesional media audiovisual) sebagai kepala divisi kebudayaan, bersama Dwi Koendoro (kartunis Panji Koming) yang duduk sebagai direktur utama perusahaan.

Tulisan ini ditulis dalam rangka mengenang sosok Arwah Setiawan, sekaligus dan dalam rangka menyambut pergelaran seminar bertajuk “Humor Itu Memang Serius’. Acara ini akan berlangsung di Galeri Indonesia Kaya Grand Indonesia West Mall, lantai 8, pada Jumat 11 Maret 2016 pukul 15.00 -17.30 WIB. Perlu dimaklumi, seminar ini gratis, bila ingin hadir maka sebaiknya mendaftarkan diri dulu di www.Indonesiakaya.com, supaya mendapat tempat duduk. Dan, yang akan menjadi pembicara adalah Jaya Suprana, Arswendo Atmowiloto, dan Seno Gumira Ajidarma (moderator).Berikut pemikiran almarhum Arwah Setiawan tentang “Humor Itu Serius”  saat memberikan ceramah di Taman Ismail Marzuki, tanggal 26 Juli 1977. Tulisan serial ketiga ini merupakan serial terahir.

Humor Sebagai Obat Penenang dan Koreksi Sosial

Di samping kreatif, humor memiliki dayaguna yang sangat luas. Dayaguna humor agaknya sudah secara universal disadari, meskipun belum tentu diamalkan. Tidak hanya bangsa-bangsa demokratis –liberal, bahkan masyarakat-masyarakat “terpimpin” pun menyadarinya.

Di Uni Soviet misalnya, salah satu majalah yang paling menonjol adalah Krokodil, sebuah berkala yang isinya humor belaka.

Dan dari ujung kanan spektrum politik, Presiden Park Chung Hee dari Korea Selatan pernah menyatakan: “Lebih dari masa lalu, sekarang humor dapat memainkan peran obat penenang guna mengendorkan ketegangan dan menguraikan keresahan umat manusia dalam masyarakat yang kini ditimpa dehumanisasi ini.”

Ada dua jenis kegunaan humor: yang langsung dan yang tak langsung. Kegunaan langsung humor yang sudah paling banyak diketahui adalah untuk menghibur. Karena sudah disadari di mana-mana tak perlu dipanjanglebarkan di sini. Suatu kegunaan langsung yang penting dari humor adalah sebagai sarana koreksi sosial, sebagai bentuk kritik.

Humor Penyalur Nafsu Agresif Manusia

Dalam setiap masyarakat di seluruh dunia sudah pasti ada ketidakpuasan tertentu terhadap keadaan dan pihak yang dianggap penanggungjawab keadaan tersebut, yakni “penguasa”. Ketidakpuasan bisa disumbat – kritik tak boleh dikeluarkan.

Dalam hal begini, apabila alat-alat kekuasaan cukup ampuh, akan terjadi implosi, ledakan ke dalam, yang akan menghancurkan semangat warga. Sedang apabila alat kekuasaan kurang efektif, ketidakpuasan tadi akan membocor dalam bentuk gunjing dan sas-sus yang akibatnya tidak lebih baik dari pada meluasnya apatisme.

Atau isi hati rakyat dibiarkan keluar, kritik dilepaskan leluasa. Tapi kritik yang memekik-mekik dan memaki-maki dapat meliar menjadi hasutan ke arah tindakan kekerasan. Dan kritik yang ilmiah, dan yang disampaikan secara langsung atau tertutup, tidak begitu membantu dalam segi penyaluran rasa tak puas masyarakat banyak. Harus diingat fungsi kritik sosial ada dua: untuk memperbaiki kekeliruan, dan guna menyalurkan ganjalan dalam hati si pengritik maupun khalayak yang sependirian dengannya.

Atau kritik bisa dilontarkan bersama tawa. Berbeda dengan kritik yang tertutup dan ilmiah, kritik humor yang terbuka akan mengikutsertakan masyarakat banyak. Keterbukaan menyebabkan rakyat merasa diwakili, dan humor dinikmati khalayak ramai.

Di sini keterangannya mengapa Rendra mendapat sukses yang begitu besar. Dan berbeda dengan kritik yang berkobar-kobar, kritik humor sulit menyulut nafsu massa untuk mengamuk. Sudah terkenal dalam ilmu jiwa, humor justru menjadi pengganti kekerasan, penyalur nafsu-nafsu agresif dalam jiwa manusia.

Dalam Sejarah. Raja Ashanti dan Paus Adrianus VI tak Marah Bila Dijadkan Obyek Lucuan

Dunia dan sejarah penuh dengan masyarakat-masyarakat yang memanfaatkan humor dari segi ini. Encyclopedia Britanica misalnya mengungkapkan tentang suku Ashanti di Afrika yang secara berkala menyelenggarakan kesempatan bagi rakyat untuk memperolok rajanya.

Kepada seorang tamunya, pernah raja ini bahkan minta agar si tamu turut mengejek-ejeknya. Atau tentang Paus Adrianus VI yang semula sangat marah dengan syair-syair satiris yang ditulis orang mengenainya. Tapi kemudian dibiarkannya saja lawan-lawan pendiriannya bertindak demikian karena ia jadi sadar bahwa mereka, lewat cara yang relatif aman, hanya sedang menyalurkan perasaan yang kalau tidak begitu akan jauh lebih berbahaya akibatnya.

Salah satu kegunaan langsung lain dari humor adalah sebagai sarana yang menarik untuk menyampaikan informasi. Kita memang sedang diserbu informasi dari segala penjuru.

Tapi segala informasi itu datang dengan jurus yang lempang, sehingga awam cenderung jenuh dengannya. Maka informasi lewat humor, karena masih langka dan terbungkus kesegaran, kiranya akan lebih mudah sampai pada khalayak ramai.
Ilmu humor

Humor Sebagai Ilmu

Di samping kegunaannya yang langsung, humor juga dapat dimanfaatkan secara tak langsung, sebagai cabang ilmu tersendiri.

Ini baik guna memperkaya khasanan perbidangan ilmu, maupun guna melengkapi ilmu-ilmu lain yang sudah berjalan seperti psikologi, antropologi, sosiologi, sastra, politik dan sebagainya.

Para psikolog sudah lama memandang humor sebagai semacam jendela darimana dapat dijenguk relung-relung yang lebih dalam dari jiwa manusia. Di samping sikap, tutur bahasa atau cara busana, humor merupakan indikator yang sangat penting untuk mengetahui watak seseorang.

Hal ini tentu dapat kita perbesar sampai lingkup masyarakat. Watak suatu kelompok masyarakat, maupun bangsa, tentu juga terpantul dari humor yang hidup di dalamnya.

Tapi selama ini, untuk mengenal lebih banyak watak suatu kelompok masyarakat, yang dilakukan barulah penelitian terhadap kesenian tradisional, kepercayaan, folklore, atau struktur kekuasaan dalam masyarakat bersangkutan.Belum pernah yang terhadap humornya.

Maka, daripada dicap terlalu mengada-ada, sekali lagi saya terpaksa mengacungkan pembanding dengan menunjuk ke luar bahwa banyak sudah buku humor yang ditulis dalam kaitan demikian. Satu contoh yang bagus dan banyak dikutip adalah Constance Rourke punya American Humor, A Study in the National Character (1927).

Masa Depan Pengembangan Humor

Menyimpulkan segala yang dipaparkan di muka, kita dapat melihat adanya kepincangan besar antara besarnya kehadiran serta potensi humor di satu pihak dan kecilnya apresiasi serta pemanfaatan humor di lain pihak.

Apalagi kalau dibandingkan dengan bidang-bidang budaya lainnya. Maka rasanya boleh juga kita mulai memikirkan penghapusan sistem kasta dalam dunia budaya kita, di mana ilmiah lebih terhormat daripada indah, dan indah lebih mulia daripada lucu.

Atau di mana ilmu dan seni sudah diakui sebagai wilayah-wilayah kebudayaan yang “resmi” dan humor masih berkedudukan “underground”.

Barangkali ada baiknya dilancarkan suatu upaya yang lebih disengaja dan terkoordinasi untuk membudidayakan humor.

Misalnya, antara lain: dengan membentuk semacam pusat pembinaan humor yang mengadakan dua jenis kegiatan, yaitu di bidang praktik dan di bidang teori. Di bidang ptaktik umpanya menerbitkan majalah atau buku-buku, mendirikan semacam perkumpulan

humoris, membentuk bank naskah komedi. Atau menyelenggarakan secara berkala suatu (event) humor yang bisa mencakup bermacam kegiatan seperti festival lawak, pameran karikatur, sayembara penulisan humor, pembacaan anekdot (sebagai tandingan pembacaan puisi).

Di bidang teori, pusat ini dapat mendirikan suatu badan atau lembaga yang menjalankan penelitian humor, melakukan dokumentasi humor, menyelenggarakan ceramah, seminar atau diskusi tentang humor, menggiatkan kritik-kritik humor. Dan setelah tergeletak atau geleng-geleng kepala sejenak, baiklah dipikirkan lebih mendalam mengapa istilah-istilah seperti “Lembaga Penelitian dan Pengembangan Humor”, “Pengantar Ilmu Humor”, bahkan “Sarjana Humorologi” tidak boleh ditanggapi dengan serius.***

Selasa, 23 Februari 2016, 09:24 WIB
Mengenang Arwah Setiawan (bagian 3, habis)
Mati Ketawa Ala Indonesia: Humor itu Serius…!
Rep: muhammad subarkah/ Red: Muhammad Subarkah

Source:
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/02/23/o2zapl385-mati-ketawa-ala-indonesia-humor-itu-serius

Arwah-n-Darminto-dll

Dalam perhelatan Pameran Kartun Internasional Candalaga Mancanegra di Ancol, Jakarta,  1988, tampak Arwah Setiawan didampingi Darminto M Sudarmo (paling kiri), GM Sudarta dan Permadi, SH (ketiga dan keempat dari kiri)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Copyrights 2019 | IHIK