Sejak 5 abad lalu, Jakarta itu kawasan penting. Sebab dari dulu, tanah ini pusatnya perdagangan internasional.
Pedagang dari Tiongkok, Arab, Eropa, serta negara & suku bangsa lain pun singgah bahkan menetap di sini.
Karena penduduk Jakarta sangat beragam & punya latar belakang masing-masing, jangan kaget kalau interaksi keseharian mereka kadang menimbulkan kesalahpahaman.
Di situlah humor muncul!
Dalam buku Ketawa Ketiwi Betawi: Humor dari Batavia sampai Jabodetabek (Abdul Chaer, 2007), kami menemukan humor-humor interkultural yang lahir akibat perbedaan bahasa, budaya, hingga pengalaman hidup antarpenduduk Jakarta. Berikut di antaranya:
Suatu hari, seorang pedagang Arab naik trem dari Matraman ke Kampung Melayu.
Ketika kondektur meminta karcisnya, ia diam saja. Barangkali sibuk mikirin usaha dagangnya yang lagi sepi.
Akhirnya, kondektur terpaksa bertanya sambil membentak:
“Ente abunemen [langganan]?”
Pedagang itu balik memarahi kondektur, “Ana bukan abunemen! Ana Abu Bakar!” (Chaer, 2007, h.20-1)
Tahun 1950-an, form pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM) masih tersedia dalam dua versi: Bahasa Belanda & Indonesia.
Suatu hari, seorang berkulit putih, tinggi, & besar datang ke loket pembuatan SIM. Petugas pun langsung memberinya form berbahasa Belanda.
Orang bule itu tampak kesusahan mengisi form tersebut. Ternyata, ia orang Indo [campuran Indo-Eropa]. Bisanya Bahasa Jawa & Melayu saja. (Chaer, 2007, h.35-6)
Akhir 50-an, Babah Liem, seorang pedagang Pasar Tanah Abang, mengikuti jejak warga Tionghoa Jakarta yang ramai-ramai mengajukan diri jadi WNI.
Setelah memeriksa berkas permohonannya, hakim bertanya padanya: “Kalau benar Babah sudah lama di sini, sebutkan nama tokoh-tokoh Indonesia!”
“O itu gampang,” sahut Babah Liem. “Toko De Zon di Pasar Baru Toko Eropa & Modern di Noordwijk [Jalan Juanda]…” (Chaer, 2007, h.7-8)