Luculah, karena Kreatif Saja Tidak Cukup

Jakarta, Humoria – Kreativitas dan humor biasanya seiring sejalan. Tapi, untuk bisa menguasai atau mendongkrak kreativitas dengan bumbu humor yang mumpuni, bukanlah cara yang mudah. Maklumlah, ada banyak alasan bahwa segala sesuatu yang berbau kreatif, sebetulnya, tidak sepenuhnya lucu. Sebaliknya, hal-hal beraroma humor sudah bisa dipastikan kreatif.

Hal itulah yang mendasari Institut Humor Indonesia Kini (IHIK3), sebuah wadah kolaborasi praktisi, akademisi, dan pencinta humor, beberapa waktu lalu, tepatnya pada 18 Juni lalu, menggelar acara dengan tema “Menguasai Dua Teknik Humor untuk Meluweskan Akal” di Jakarta. Hadir sebagai pembicara dalam acara ini jenakawan IHIK3 Yasser Fikry dan peneliti IHIK3 Ulwan Fakhri. Puluhan peserta pun tertarik hadir untuk menyerap ilmu kanuragan humor yang hendak disebarkan IHIK3.

Menurut Yasser, ada banyak orang yang gagal untuk melucu karena tidak mengetahui latar belakang lawan bicara. Hal-hal seperti inilah yang diurai dalam kegiatan yang digelar seharian tersebut.

Dikatakan Yasser, lantaran tidak mudah membuat orang tertawa, beberapa orang yang niatnya membuat tertawa ujung-ujungnya justru berbuah amarah. Penting bagi pelempar humor untuk memahami latar belakang orang yang hendak diajak tertawa. Salah satunya adalah mencari tahu kesukaan atau hobinya, agar humor yang dikeluarkan memiliki kaitan dengan lawan bicara.

“Ketika orang membuat humor dan orang itu ketawa, itu adalah salah satu produk kreatif karena musti diciptakan. Jadi, humor yang diciptakan harus punya kaitan dengan orang yang diajak bicara. Misalkan sama si A ngomong tentang sepak bola, tapi orang itu tidak ngerti sepak bola ya nggak akan nyambung. Jadi kita harus bikin suatu kaitan dengan orang yang diajak bicara, agar bisa nyambung,” kata Yasser.

Yasser juga mengingatkan, lucu sangatlah subyektif karena lucu untuk diri sendiri belum tentu lucu buat orang lain.

“Lucunya Cak Lontong dan lucunya Komeng jelas itu beda. Jadi ketika nggak lucu, bukan berarti tidak lucu. Mungkin itu tidak ada di referensi kita. Materi dia nggak bisa bikin kita tertawa. Misalkan, gua tuh nggak suka hal-hal ynag berbau fisika lalu orang itu ngasih ke gua anekdot yang sifatnya fisika. Gua bilang nggak lucu karena emang gua nggak referensi tentang itu.” kata Yasser.

Menurut CEO IHIK3 Novrita Widyastuti, dirinya meminjam kalimat pengamat politik Rocky Gerung, filsafat itu meluruskan logika dan nalar, meluruskan yang tidak lurus.

“Sedangkan humor justru meruntuhkan nalar. Humor itu tetap menggunakan logika, tapi setelah itu kita runtuhkan. Nah, untuk meruntuhkannya itu memerlukan hal-hal yang memang tidak terduga dan tidak biasa. Suatu hal yang unik atau sesuatu yang baru. Makanya humor itu harus kreatif. Kreatif itu tidak harus lucu, tetapi lucu itu harus kreatif. Humor itu harus kreatif karena harus bisa memutar otak untuk mengeluarkan punch line yang tidak biasa dan tidak terduga,” kata Novri.

Kreatif Belum Tentu Lucu

Lebih jauh, Yasser juga memaparkan bahwa meski kelucuan adalah menjadi ciri kreativitas, tidak selamanya kreatif itu lucu.

“Kan Bob Mankoff bilang bahwa tidak semua yang kreatif itu lucu, tapi semua yang lucu sudah pasti kreatif. Jadi intinya adalah kreatifnya syukur-syukur bisa lucu, minimal kalau lucu lu bisa menghibur diri sendiri dan menghibur orang lain. Kan enak ya ketika lu ngobrol, dia ketawa, kita bahagia. Jadi ada yang kita dapat, juga ada yang kita kasih.”

Novri juga punya pandangan serupa dengan Yasser. Bagi Novri, terlepas dari teori, dirinya selalu melihat segala sesuatu, khususnya yang tidak biasa, tidak lazim, atau aneh, sebagai sesuatu yang lucu.

“Jadi buat aku, apa saja yang kreatif ya itu pasti lucu. Cuma kan lagi-lagi kita balikin lagi ke prespektif orang masing-masing bahwa selera humor orang ada yang seperti ini dan seperti itu,” kata Novri.

Menjadi Pintar

Salah seorang peserta, Beng, yang sudah beberapa kali mengikuti kegiatan berbau teori humor seperti yang digelar IHIK3 ini, banyak pengetahuan baru yang dapat terserap.

 

“Aku jadi pintar, jadi ke-update banyak wawasan dan menjadi sehat karena ketemu banyak orang dan ketawa-ketawa,” kata Beng.

Senada dengan Beng, Tomi yang juga rajin mengikuti acara IHIK3, menilai bahwa humor dan kreatif sangat dibutuhkan bagi orang-orang yang bekerja di industri kreatif. Bahkan, kegiatan ini membuat dirinya bisa bertemu dengan banyak orang dengan latar belakang berbeda-beda, misalnya dengan karyawan pajak, perbankan, kantoran, atau mahasiswa.

“Jadi mengetahui yang hits, tantangan-tantangan ke depan, itulah yang menarik. Itulah bahan bakar kreativitas. Dengan bertemu orang baru terjadi cross knowledge kemudian cross explotion. Menurut saya sangat baik dan harapannya bisa lebih banyak orang yang terlibat kegiatan semacam ini.

Novri berharap, peserta kegiatan seperti ini ke depannya bisa bertambah banyak. Terlebih, tambah Novri, misi IHIK3 memang menyebarkan virus humor kepada masyarakat umum, bukan bukan semata untuk stand up comedy atau dari sisi hiburan, sehingga orang bisa lebih kreatif.

“Lewat acara ini harapannya pengen nularinlah kreatifitas ke masyarakat gitu, supaya kita juga memandang segala sesuatu dari sisi kreatifnya dan akhirnya jadi bisa lucu,” pungkas Novri.

(Jihan Farah Amalia)

https://www.humoria.id/2022/07/luculah-karena-kreatif-saja-tidak-cukup.html

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Copyrights 2019 | IHIK