Ini Baru “Humor Cerdas”: Matematika Dalam Humor

October 11, 2024

Penulis:

Esha Rahman

“Matematika itu intinya bukan angka, persamaan, hitung-hitungan, atau algoritma, tapi tentang pemahaman” kata William Thurston (Mathematicians: An Outer View of the Inner World – Cook, h.76).

Memahami matematika yang Thurston (1946–2012) maksud sebenarnya tidak harus sampai menjadi profesor seperti dirinya. Setidaknya, pelajar bisa menyadari dulu bahwa matematika itu cara bernalar. Sayangnya, yang viral-viral belakangan malah menunjukkan sebaliknya: matematika itu ibarat mimpi buruk yang sengaja dihindari sepanjang hidup.

Misalnya, seorang warganet bernama Anas Baihaqi membagikan keresahannya mengenai anak magang di kantornya. Katanya, ada oknum pelajar jenjang SMK yang masih kesulitan menjawab penjumlahan sederhana seperti 6+8. Bahkan, ia tidak tahu cara membaca bilangan “101.500”.

Ada juga YouTuber Ferry Irwandi yang mengungkap fenomena miris. Saat ia mewawancarai belasan siswa SMP dari berbagai daerah dan meminta mereka menjelaskan rumus Phytagoras, cuma satu yang bisa menjawab benar. Beberapa di antaranya malah bertanya balik, “Phytagoras itu apa?” (@irwndfrry, 24/9/24).

Syukurlah kalau setelah membaca paragraf di atas, Anda masih terdorong untuk mengingat kembali rumus Phytagoras—minimal mencari tahunya di Google. Setidaknya, kalau tiba-tiba ditodong content creator di jalan nanti, Anda tidak blank-blank amat.

Namun sebenarnya, ada problem yang lebih besar dari narasi-narasi itu. Berdasarkan data dari PISA (Program for International Student Assessment) 2022, skor literasi matematika Indonesia adalah 366. Angka tersebut tidak hanya menjadi rerata terendah Indonesia sejak 2006, tetapi juga memperjelas ketimpangan kita dengan negara lain yang kisarannya 465–475.

Terobosan jelas diperlukan. Minimal, perlu ada pembenahan strategi yang sudah ada sembari mencari alternatif untuk membuat pelajar lebih tertarik dengan matematika hingga mampu memahaminya lebih baik.

Mengadaptasi ide dari seorang penggiat literasi matematika, John Allen Paulos, matematika ternyata bisa diselami lewat humor. Jelas Paulos, dalam Mathematics and Humor (1980, h.11), pada dasarnya memahami logika yang benar adalah kunci untuk “menangkap” sebuah humor. Ini mirip dengan proses kita memahami konsep matematika untuk menemukan penyelesaiannya.

Professor asal Amerika itu turut menjelaskan jika matematika maupun humor sama-sama bersifat “ekonomis”. Sebuah bukti matematis yang baik harus bisa disampaikan secara singkat dan padat agar tidak membingungkan. Begitu pun dengan lelucon, yang kalau diceritakan dengan bertele-tele akan membunuh unsur lucunya sendiri.

Kenalkan “Matematika dalam Humor”

Lantas, bagaimana aplikasi membuat pelajar tertarik dengan matematika lewat humor?

Pintu masuk konsepnya ada di Encyclopedia of Humor Studies (2014, h.487–491). Perlu diketahui dulu bahwa ada dua konsep persilangan matematika dan humor: Matematika dalam Humor (MDH) dan Humor dalam Matematika (HDM).

MDH merujuk pada konteks ketika konsep matematika digunakan dalam sebuah joke, meme, materi stand-up comedy, dan lain-lain. Sebaliknya, HDM adalah humor yang berada dalam konteks matematika itu sendiri.

MDH biasanya lebih umum digunakan daripada HDM. Sebab dalam MDH, matematika hanya digunakan sebagai faktor untuk meningkatkan tingkat kelucuan. MDH tidak mengandung teori matematika yang rumit dan khusus, sehingga lebih dapat menghibur lebih banyak orang, termasuk yang pemahamannya sudah mantap maupun masih awam.

Tengoklah contoh meme dengan bubble chat (x) horizontal dan (y) vertikal.

Meme tersebut mendorong pembacanya agar menangkap bahwa (x) merepresentasikan mantan pacar (ex). Begitu melihat bagian bawahnya, muncul pertanyaan: “Lalu (y) ini siapa?”

“Aku berpikir, maka aku tertawa,” pesan Paulos.

Dalam konteks ini, berpikir adalah bagian penting dalam proses merespons humor. Ketika kita mulai berpikir, kita akan menyadari bahwa meme tersebut sebenarnya membicarakan konsep koordinat kartesius—dua garis bilangan (x, y) yang saling tegak lurus.

Di sinilah momen “aha!” muncul.

Coba simak lelucon berikut:

Ada seorang pria tambun duduk di meja makan. Di hadapannya ada sepiring daging wagyu utuh. Ketika istrinya bertanya apakah ingin dipotong menjadi empat atau delapan bagian, ia menjawab, “Empat saja. Aku ingin menurunkan berat badan.”

Sekilas normal. Tapi jika dipikir, jumlah potongan tidak mengubah total berat daging yang dimakan.

“Aha!”

Lelucon ini menggambarkan konsep sederhana: membagi objek tidak mengubah total volumenya.

Ketika berhadapan dengan teka-teki matematika, biasanya kita bingung dulu. Momen “magis” muncul saat kita menemukan pola berpikir yang tepat.

Lewat The Humor Code (2014, h.56), Peter McGraw dan Joel Warner menyampaikan:
“Jika Anda tidak bisa lucu dengan cara ‘ha-ha’, setidaknya luculah dengan cara ‘aha!’”

Momen “aha” inilah inti dari humor cerdas—kepuasannya mirip dengan menyelesaikan soal matematika yang sulit.

Tantangan memahami matematika bisa ditembus lewat humor. Saat siswa mencapai pemahaman, mereka merasakan emosi positif sehingga ingatan bertahan lebih lama.

Mengingat tantangan pendidikan di Indonesia masih tinggi, konsep MDH layak dipertimbangkan di kelas.

MDH dapat mengatasi stigma negatif matematika, sekaligus menjadi cara baru mengukur pemahaman siswa.

Dengan menggunakan meme atau lelucon sebagai alat bantu, kita bisa memicu momen “aha!”.

Strategi ini bukan membuat matematika sepele, tapi justru membuatnya tidak lagi menakutkan—sehingga minat dan pemahaman meningkat.

Sebagai penutup, coba teka-teki ini:

Siska menemukan harta karun berupa uang 10.000 dollar yang terpendam di bawah akar. Ketika berhasil mengeluarkannya, berapa total uang yang ia dapatkan?

 

*Tulisan ini pernah dipublikasikan di Kumparan.com (21/10/25).

Penulis:

Esha Rahman

KOLOM & ARTIKEL TERBARU

KOLOM & ARTIKEL TERKAIT