SEJAK menjelang tahun 1940 ada dua tokoh seni rupa Indonesia yang dikisahkan selalu bertolak belakang satu sama lain. Mereka adalah Basoeki Abdullah (1915-1993) dan Sindudarsono Sudjojono (1913-1986).
Tolak belakang yang pertama berkait dengan ideologi seni.
Basoeki disebut-sebut sebagai pemuka dari aliran Mooi Indie, yakni seni lukis yang tema dan presentasinya berorientasi kepada market. Oleh karena pada masa itu market seni banyak dilakukan oleh pelancong Eropa, yang di Hindia Belanda terstatus sebagai turis, maka lukisan Basoeki disebut turistik.
Sedangkan Sudjojono adalah penentang Mooi Indie. Karya-karya Sudjojono berusaha menjauhi turis. Dengan menguar-uarkan konsep jiwa kethok (jiwa tampak) dengan gelora yang nasionalistik, maka karya-karyanya terkesan “murni sejati”, yang kemudian diakui sebagai lukisan serius, dan selebihnya idealistik.
Tolak belakang kedua adalah – ini yang unik – dalam gestur sosialnya, yang ditautkan atau dibandingkan dengan wujud visualnya, atau dengan karakter kekaryaannya.
Basoeki dalam kehidupan sehari-harinya dikenal sebagai seniman yang formal, berdisplin kantoran, dan elitik. Namun di balik itu Basoeki adalah seorang humoris dan suka berkelakar dan bercanda kepada siapa saja. Dengan para tamu yang baru pertama kali datang ke studionya, dengan para kolega, dengan client yang terdiri dari artis cantik, dengan para pengusaha kaya, sampai para petinggi negara.
Pelukis Basoeki Abdullah (1915-1993) bercanda dengan mata mainan. (Foto: Agus Dermawan T.)
Maka terbitlah momen menarik yang terjadi selama puluhan tahun. Pada banyak kali – kala menyambut para tamu perempuan – Basoeki mendadak mengeluarkan cicak karet, ular karet dan tikus karet dari kantongnya. Satwa-satwa lentur gulak-gulik itu lalu dilemparkan ke meja tamu.
Ketika seorang wartawan ingin memotret sosoknya, Basoeki buru-buru mengambil wig yang bermodel rambut Indian suku Sioux.
Pada kali lain Basoeki ditanya oleh pengusaha kaya yang berhasrat memesan lukisan potret. “Berapa lama lukisan bisa diselesaikan?” Basoeki menjawab, “Dua puluh menit!” Si pengusaha tak percaya. Basoeki lantas masuk ke studionya, dan segera mengenakan biji mata palsu di pelupuknya. Di hadapan si pengusaha Basoeki berkata, “Saya bisa cepat dalam bekerja, karena saya punya banyak mata.” Si pengusaha tentulah terbahak tertawa.
Di balik citranya aristokratik, “arogan”, suka beranggun-anggun dan “borjuis”, ternyata Basoeki kocak habis.
Namun, apakah sikap dan sifat kesehariannya itu pararel dengan citra visual yang ada dalam kanvasnya?
Ternyata sama sekali tidak. Lantaran apabila kita menyaksikan apa yang dilukiskan, semua canda itu sama sekali tidak tampak dalam gubahannya. Karya-karya Basoeki hadir tertib, formal, dengan kaidah-kaidah teknik seni yang nyaris sedikit pun tidak menyeleweng. Dalam konten, lukisan Basoeki juga menghindari humor, sehingga tidak sebersit pun ada unsur lawaknya. Dan itu ditampakkan dalam ribuan karya.
Kok bisa?

Basoeki Abdullah kala menjadi “cover boy” majalah Vista. Dengan topi Indian. (Foto: Agus Dermawan T.)

Lukisan Basoeki Abdullah, “Penari Thailand”. Akademis dan serius. (Foto: Agus Dermawan T.)
**
Sebaliknya adalah Sudjojono. Dalam berbagai pertemuan resmi atau tak resmi, di warung atau di forum diskusi, pelukis pendiri Persagi (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia 1938) ini selalu kelihatan serius. Dengan pipa rokok menggantung di bibir, ia acap menyapa dengan kalimat, “Bagaimana kebudayaan kita. Aman ya!” (Baca: Humor Diringkus Seni Serius, IHIK3, 20 September 2026)
Ketika meriung di sekitar meja yang bersuguh kopi hitam dan ubi lembu goreng, Sudjojono banyak bicara soal perkembangan seni rupa dunia, nasib seni rupa tradisional Nusantara, sampai relief-relief di Candi Sukuh. Bicara urusan sosial politik, filfasat seni Plato, sampai pemikiran estetika Baumgarten dan Immanuel Kant. Juga lukisan Jan Sluijter yang sangat ia kagumi, sampai puisi Reiner Maria Rilke dan Utuy Tatang Sontani.
Serius! Sehingga Sudjojono pun sampai tahun 2000 oleh sejarah (yang juga maunya serius) dianggap sebagai salah satu pemikir seni lukis Indonesia terbesar.
Namun ketika menghadapi kanvas, keseriusan yang mengusung pemikiran berat itu menyingkir entah ke mana. Di kanvasnya Sudjojono justru banyak menghadirkan humor, dengan jalan rasa dan pikir yang merdeka, egaliter, kadang tak terduga seperti pementasan ludruk di kampung-kampung. Jejak-jejak sosial, politik, filsafat dan sebagainya memang masih membekas di sana-sini. Namun presentasi visualnya yang kocak mendominasi di banyak sisi.
Karya-karya berkonten seperti itu dikerjakan sejak ia mengawali karir sampai di ujung jalan keseniannya. Saksikan ciptaannya yang amat tersohor, “Cap Go Meh” (1940) yang melukiskan bandot tua penuh gairah di tengah keramaian perayaan Tionghoa. “High Level” (1975) yang menggambarkan orang-orang kaya yang sedang mengagumi dan siap membeli patung abstrak yang sama sekali tidak dimengerti bentuknya. Juga lukisan “Sippp Dalam Segala Cuaca” (1985) yang mendongeng ihwal seorang ningrat sedang mengendarai sepeda seraya menggotong harta benda dan wanita-wanita cantiknya.

Pelukis Sudjojono (1913-1986). Selalu kelihatan serius, angker dan filosofis. (Foto: Dokumen)
Semua itu disampaikan dalam gaya lukisan yang tidak berpegang pada satu kaidah. Ada yang masih realistik, ada yang sangat ekspresif, dan bahkan ada yang menuju abstrak. Yang penting, konten seru di situ tersampaikan dengan sempurna. Dan jejak jiwa dalam kanvas masih terbaca.
Kok bisa?
**
Sejumlah hipotesis yang mencoba mengurai fenomena yang menyimpan kontradiksi itu.
Salah satu dari hipotesis mencurigai bahwa seniman (acapkali) memakai humor hanya sebagai topeng dalam interaksi sosial – seperti Basoeki Abdullah. Kehumoran itu sengaja dimunculkan sekadar untuk menelusuri cara penyesuaian diri seniman dengan orang yang ada di hadapannya. Dan sekaligus untuk menyembunyikan apa yang seharusnya tidak terlihat kepada orang lain. Lelucon dianggap sebagai strategi untuk mendekatkan pribadinya (yang dirasa tidak sempurna) kepada publik.
Namun ketika berkarya si seniman melepas kehumoran itu, dan lantas masuk ke dalam pergulatan pikiran dan emosi yang jujur. Bahkan, seperti Basoeki, kepada denyut yang romantis dan melankolis. Seniman yang berkemampuan memisahkan secara tegas antara humor interaksi sosial dengan sifat formal karya ini disebut sebagai compartmentalized artist, atau seniman kompartemental. Hal ini sering dikaitkan dengan konsep ironi situasional atau dikotomi kreatif, yang dalam ilmu psikologi biasa diistilahkan sebagai sad clown paradox, atau “paradoks badut sedih”.
Sangat sedikit seniman seperti Basoeki Abdullah ini.
Pelukis ternama Harijadi Sumadidjaja (1919-1997) adalah contoh khusus. Sebagai manusia publik Harijadi suka mengobrol menggebu, ndagel, bahkan menyanyi di panggung sampai lupa turun. Namun ratusan kanvasnya tak ada satu pun yang mengundang tawa. Sejumlah karyanya malah menyimpan perenungan filosofis sekaligus menegangkan, seperti “Awan Berarak, Jalan Bersimpang”, yang menjadi koleksi Presiden Sukarno. Atau “Sosialisasi Pemilihan Umum” yang terjual 244.000 dolar Singapura dalam lelang Larasati Jakarta-Singapura, 28 Januari 2024.
Sementara seniman yang dalam kehidupan sehari-harinya tampak serius dan non tawa, namun ternyata penuh gurau dalam ciptaannya, ditengarai sebagai seniman paradoksikal. Jenis seniman macam ini – seperti Sudjojono – memakai pendekatan konten artistik sebagai strategi merengkuh perhatian. Dan untuk mencapai rengkuhan maksimal, seniman acap menggunakan ironi masyarakat sebagai isi. Lantaran ironi ini dianggap sebagai ihwal yang paling gampang dikomunikasikan ke masyarakat. Dalam lukisan Sudjojono, ironi-ironi itu dihadirkan dalam kejenakaan, dalam humoritas, yang ujungnya beraroma kartunal, karikatural, dan bersifat satire.

Lukisan Sudjojono yang humoristik, “Sippp Dalam Segala Cuaca”. (Foto : Agus Dermawan T.)
Tak hanya Sudjojono yang menyembunyikan kejenakaan dalam kehidupan keseharian, namun ber-ihik-an dalam visual lukisan. Pelukis Otto Djaya, (yang 275 karyanya – koleksi keluarga Inge-Marie Holst – dihibahkan ke Pemerintah Indonesia pada September 2026), hidup sehari-harinya dipenuhi dokumen aspirasi perjuangan bangsa. Namun lukisannya acap menggambarkan kejenakaan Petruk, Gareng, Bagong si punakawan.
Maka Basoeki Abdullah, Sudjojono, Otto Djaya dan Harijadi Sumadidjaja, adalah contoh para seniman yang mengusung dunia jenaka dari sisi mana saja.
Dari situ lantas tertulislah pantun dua tokoh yang bermusuhan itu, yang sama sekali tak pernah diungkapkan secara lisan dan tulisan.
Pantun Sudjojono untuk Basoeki:
Siang gerimis mari minum kopi luwak,
pikiran jadi lapang inspirasi berkelindan.
Sebelum melukis Basoeki melawak,
jangan-jangan itu cuma iklan jualan!
Pantun Basoeki untuk Sudjojono:
Ke kota Kertosono mobil menuju,
jalannya pelan lantaran macet.
Lukisan Si Djon dibikin lucu-lucu,
untuk melawan pasar yang seret.
Cakeeeppp!
***
AGUS DERMAWAN T.
Pengamat budaya dan seni.