Mendalami Fenomena Politik Tawa di Negeri Ini

Oleh Daniel Kurniawan & Ulwan Fakhri

Bagaimana humor dapat berkontribusi secara positif di era kini? Atau bagaimana bisa komika dewasa ini bisa menjadi “media” tersendiri di samping banyaknya media massa di Indonesia?

Itulah dua pertanyaan yang coba dikupas dalam Diskusi Humor dalam Kehidupan Dinamika Bermasyarakat, kerja sama IHIK3 dengan Universitas Multimedia Nusantara (1/9/22). Acara ini menghadirkan tiga pembicara: Silvanus Alvin (akademisi Universitas Multimedia Nusantara & penulis buku Komunikasi Politik di Era Digital), Novrita Widiyastuti (CEO IHIK3 & Humor Justice Warrior), dan Mamat Alkatiri (komika runner-up SUCI 7). Menariknya, ketiganya hadir mewakili tiga perspektif beragam: Mamat dari pelaku komedi, Novri dari perspektif konsumen komedi, sementara Alvin sebagai pengamat keduanya.

Sesi yang dimulai pukul 10:30 WIB ini dimulai dengan presentasi yang dibawakan oleh Alvin.  Ia berbicara dengan menyinggung terlebih dahulu mengenai Doctor Honoris Causa yang dimuat di PP No 43 Tahun 1980 yaitu “orang yang berjasa, berkarya bagi ilmu pengetahuan dan umat manusia”. Namun menurut Alvin, tidak cuma gelar Honoris Causa yang dibutuhkan bangsa ini. Gelar Doctor Humoris Causa juga layak dianugerahkan kepada para komika, karena ia tidak hanya mampu menghadirkan tawa bagi masyarakat tetapi juga menjadi aktor politik.

Menurut Aristoteles, manusia pada dasarnya adalah zoon politicon. Lebih lanjut lagi, Miriam Budiarjo dalam bukunya yang berjudul Dasar-Dasar Ilmu Politik menyebut politik adalah sebuah upaya untuk mencapai kesejahteraan. Maka lewat kritik-kritik berbalut humornya, komika pantas diganjar Doctor Humoris Causa, karena ia melakukan suatu aktivitas yang disebut “politik tawa”.  

Sesi kedua dilanjutkan oleh CEO IHIK3, Novrita, yang berpendapat dari perspektif netizen. Ia mengatakan bahwa  kita harus menjadi warganet yang berbakat.

Apa maksudnya? Netizen yang berbakat berkaitan dengan kemampuan literasi konsumen humor. Selain memahami berbagai masalah dan isu-isu yang menyangkut hajat hidup kita, sebagai konsumen humor, kita juga diharapkan menjadi seorang yang bisa mencernanya secara dingin. Jangan sampai isu yang sudah panas makin diperkeruh dengan melempar caci-makian atau hate speech. Jika ingin ikut mengkritisi keadaan, baiknya gunakan humor yang lebih ringan daya agresifnya, seperti satire.

Detailnya adalah seperti berikut ini. Dari ragam respons terhadap peristiwa atau isu, setidaknya ada empat jenis dengan karakternya yang berbeda-beda. Satire: Kritikan yang membawa nilai moral dan isu sosial yang disampaikan secara lucu. Sarkasme: Kritikan yang kasar dan kurang enak didengar. Lalu ada Mockery: Ejekan, olok-olok yang menyerang pribadi. Insult: Hinaan yang bertujuan untuk menyerang.

Novri pun membahas peran komika yang sudah ada sejak lama di peradaban kita, Court Jester, alias badut istana. Konsep Court Jester ini mengacu pada orang yang dipercaya kerajaan untuk dapat membawakan isu yang kompleks dan realita yang jujur di tengah masyarakat melalui humor. Court Jester ini juga ambil bagian dalam suatu aktivitas yang disebut politik tawa, konsep yang juga sudah digaungkan oleh Alvin di sesi pertama.

Lalu tiba giliran Mamat Alkatiri. Sebagai seorang komika yang sering membawakan isu dan masalah sensitif di atas panggung, ia melihat komedi sebagai medium untuk menyambungkan opini rakyat kepada pemerintah. Ia berpegang pada teori dasar komedi, yakni tragedy + time = comedy. Rumus ini mengartikan bahwa beragam problematika yang dihadapi dalam hidup ini, ketika disampaikan dalam momentum yang tepat, maka akan menjadi sebuah komedi. Inilah yang secara rutin dilakukan oleh para komika, termasuk dalam menjadi aktor politik tawa tadi.

Sesi lalu mengalir dan menyentuh topik Roasting. Roasting, menurut para narasumber, bukan hanya menunjukkan kedewasaaan seseorang yang menjadi objek tertawaan, tetapi juga kedewasaan iklim demokrasi suatu negara.

Selain roasting, topik yang tak kalah menarik adalah pembahasan mengenai media landscape dan komunikasi politik. Alih-alih terjebak dalam kategorisasi old dan new media, para narasumber juga menekankan bahwa komika telah menjadi bagian media itu sendiri. Sebab mereka turut menyebarkan konten-konten, baik di media sosial maupun dalam interaksi tatap muka. Cara komika mengemas suatu informasi yang dibalut dengan hiburan merupakan poin besar mereka saat ini disbanding media massa pada umumnya. Bahkan, beberapa kelompok masyarakat merasa lebih suka menyerap informasi dari komika ketimbang televisi, koran, hingga media daring.

Sejak awal hingga akhir, diskusi yang dimoderatori oleh Ulwan Fakhri ini berjalan dengan baik dan penuh gelak tawa. Banyak poin yang tidak bisa dijelaskan, namun yang jelas, diskusi ini mengandung begitu ragam makna.

Pertama, terakomodasinya diskusi humor di suatu institusi perguruan tinggi menunjukkan bahwa humor makin dianggap signifikan dalam kehidupan sehari-hari dan makin akrab dengan ranah akedemis atau teoritis. Di samping itu, diskusi ini menjadi refleksi sekaligus edukasi tentang bagaimana humor diproduksi sekaligus dikonsumi oleh masyarakat Tanah Air.

Salam IHIK IHIK IHIK…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyrights 2019 | IHIK