Meme and Pandemic Covid 19 On Streotypes Perspective

Meme dan Pandemi Covid 19 dalam Perspektif Stereotipe
(Meme and Pandemic Covid 19 On Streotypes Perspective)

Daniel Kurniawan

Universitas Indonesia

Email: Kurniawand44@gmail.com

 

Abstract

There is a discussion related to memes on social media, regarding the policy of limited dinner-in time by online news portals as an implication of the policy of PPKM in 2020-2022, by the government of Indonesia. One of them was published by Kuyou.com in July 2021, giving rise to stereotypical assumptions and mixed views on restrictions. In other words, that meme related to the COVID-19 policy gives the impression that people’s activities have become very limited. Also, those memes contained the netizens’ paradigm of PPKM policies, resulting in over-expressed responses from a lack of socio-cultural mobility and bad economic effects, which is relevant to the non-oral folklore definition. The author uses the method of analyzing the content of memes and the content of articles from Kuyou.com in the period of April-July  2022, by looking at the structured context of the memes and processing results created by the online news portal. The final significance of the author’s study gave rise to the function of memes as a new way to express non-oral folklore, in the form of memes and responses provided by online news portals.

Keywords: meme, stereotypical, PPKM, content analysis

 

Pendahuluan

Pandemi COVID-19 merupakan pandemi yang terjadi di seluruh dunia. Pandemi ini telah terjadi di Indonesia dan dimulai pada tahun 2019 di Wuhan, China. Pandemi di Indonesia telah terjadi di Indonesia pada bulan Maret 2020, hingga penulisan dibuat, masih cukup banyak kasus yang terjadi terkait pandemi COVID-19. Kebijakan untuk menangani masalah pandemi COVID-19 di Indonesia telah dilakukan, dengan berbagai macam cara dan perbedaan efektivitas satu sama lain. Salah satu kebijakan yang dimaksud adalah PPKM (Pembatasan Perilaku Kegiatan Masyarakat) (money.kompas.com, Juli 2021) merupakan kebijakan yang diambil setelah adanya PSBB atau pembatasan sosial berskala besar. PPKM diambil karena dinilai lebih relevan dengan situasi sosial masyarakat Indonesia.

Kebijakan dalam PPKM yang diambil tidak selamanya baik. Penulis menganggap kebijakan yang diambil pada masa PPKM ini juga mengandung kontroversi. Salah satu yang diambil yaitu kebijakan makan di tempat selama 20 menit. Kebijakan ini dinilai juga sebagai kebijakan yang mengundang tanda tanya. Mengapa kebijakan ini diambil? Apakah 20 menit itu yang cukup untuk makan di tempat? Dan masih banyak pertanyaan lagi yang penulis kemudian akan bahas dalam tulisan ini.

Kebijakan PPKM yang memiliki respon beragam ini, kemudian disambut masyarakat yang disebut sebagai meme. Meme ini merupakan sebuah istilah yang dipopulerkan oleh Richard Dawkins dalam Alifiansyah (2016) dalam usaha untuk mereplikasi adanya keterkaitan antara unsur biologis yang ada pada makhluk hidup. Namun, bila membahas meme sekarang ini, maka kita akan membahas mengenai respon yang beralih ke sosial budaya. Respon sosial budaya ini terkait dengan meme yang digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan sebuah kritik sosial. Kritik sosial yang dimaksud adalah terkait dengan kebijakan yang diambil mengenai meme.

Dengan kata lain, penulis mencoba mengkaitkan apa yang terjadi dalam PPKM di Indonesia dengan meme, dikarenakan adanya respon sosial-budaya yang terjadi, dengan menjadikan sarana meme sebagai kritik yang dilakukan terkait kebijakan PPKM. Kebijakan yang akan penulis bahas pada kali ini, terkait kebijakan makan di tempat selama 20 menit, dengan mengkaitkan hal tersebut dengan meme yang terdapat dalam situs kuyou.com.

Penulis mencoba menggunakan pendekatan yang sudah dilakukan dalam beberapa penelitian serupa terkait kaitan meme dengan ideologi, dengan menggunakan pendekatan literature review. Hal ini dimaksudkan untuk membantu penulis dalam menanggapi posisi meme yang secara umum menyampaikan hak dalam kebebasan berpendapat, sebagai alat pembelajaran dalam posisi kritis akan sesuatu fenomena, dan menjadi bentuk baru dalam menyampaikan folklore di Indonesia.

Penelitian pertama yang dilakukan oleh Sandy Allifiansyah (2016) membahas posisi meme sebagai sarana dalam menyampaikan kritik sosial sebagai bentuk media baru dalam menyampaikan hak dalam menggunakan kebebasan untuk berpendapat dan hal tersebut tidak dapat dituntut, dengan contoh kasus meme pada kenaikan BBM dan Pilkada 2014. Penulis memiliki posisi kontra argumen terkait pendapat Allifiansyah dengan menanyakan terkait hak cipta dari meme yang digunakan dan apakah meme ini bisa dituntut secara hukum apabila pelaku ini melakukan persebaran meme. Hal tersebut memunculkan komentar dari penulis terkait keberlakuan meme yang menarik untuk dikaji, dikarenakan meme dianggap sebagai bentuk baru dalam menyampaikan hak kebebasan berpendapat dan pembuat meme tidak perlu memiliki hak cipta, sehingga tidak dapat dituntut secara hukum.

Penelitian kedua yang dilakukan oleh seorang peneliti asal Amerika Serikat bernama Dominic D. Wells (2018), dengan membahas keterkaitan meme sebagai alat untuk edukasi mengenai berpikir kritis, dengan menggambarkan beberapa contoh meme politik di USA, sebagai sebuah sarana berpikir kritis. Penulis kemudian memiliki posisi kontra argumen terkait tulisan Wells yang menanyakan pendapat terkait bagaimana proses pembelajaran dalam berpikir kritis bisa menggunakan meme. Hasil yang ditemukan penulis terkait posisi tulisan tersebut sebagai metode yang cukup menarik, dikarenakan tulisan yang dibuat oleh Wells, menawarkan sebuah pandangan yang dapat mengasah mengenai cara berpikir kritis, dengan menjadikan meme sebagai cara pembelajaran efektif dan mudah dipahami.

Penelitian ketiga yang dilakukan oleh Herry Nur Hidayat (2019), menunjukkan posisi meme yang dapat dianggap sebagai bentuk baru folklore non-lisan, dengan membahas posisi meme sebagai bentuk baru folklore dalam masyarakat Minangkabau. Hidayat kemudian menyampaikan beberapa contoh folklore dan kaitan isi meme dengan kondisi yang saat ini dialami oleh masyarakat Minangkabau. Penulis memiliki posisi kontra argumen terkait keterkaitan fungsi folklore itu hanya sebagai bagian dari “budaya” atau memiliki fungsi yang lebih jauh daripada itu. Penulis memiliki ketertarikan akan fungsi meme yang memiliki keterkaitan dengan fungsi folklore, yang mampu memberikan keberagaman dalam memandang meme dan relasinya dengan folklore Indonesia.

Metode Penelitian

Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode literature review dan konten analisis  dengan mengambil sampel foto dan respons yang muncul dalam menanggapi meme tersebut, kemudian penulis berusaha mengkaji apa yang ada dalam artikel tersebut beserta meme tersebut,  dengan menggunakan teori semiotika. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan sumber artikel dari Kuyou.com pada bulan April 2022, dan judul artikel tersebut yakni “Kumpulan Meme Lucu dan Unik Pasca Perpajangan PPKM Level 4, Bisa Bikin Kamu Mules.” Meme tersebut kemudian dikaitkan dengan apa yang terjadi dalam proses pengkajian semiotika, sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Pierce.

Mengenai pembahasan dalam meme ini, penulis akan memulai pembahasan dalam keterkaitan meme yang ada dalam artikel di Kuyou.com, dengan aspek semiotika dari Charles Peirce. Semiotika Charles Peirce (dalam Chandler, 2017) memiliki tiga objek utama pembahasan. Yakni representan, objek, dan interpreter. Pendekatan Semiotika yang dilakukan oleh Charles Pierce berbeda dengan pendekatan yang dilakukan oleh Bapak Semiologi yaitu Ferdinand De Saussure (dalam Chandler, 20:29). Saussure menawarkan pendekatan dyadic dalam memahami arti semiotika, yang berbeda dengan Charles Peirce yang menawarkan konsep triadic, dengan menawarkan tiga konsep yaitu :a) The Representamen, b) An Object, dan c) An Interpretant. Pada butir pertama, Pierce mengatakan bahwa dimana tanda itu diambil. Pada butir kedua berbicara mengenai tanda itu diacu atau yang direpresentasikan (Chandler, 2017:29). Pada butir ketiga berbicara mengenai efek yang dihasilkan dari tanda. Maka jika kita berbicara mengenai ketiga makna dari arti tulisan ini, kita mengacu kepada segitiga Pierce yaitu tanda, objek, dan representan. Misalnya kita memahami sebuah meme dalam tulisan ini maka yang dilihat meme sebagai sebuah tanda dan objek serta representan.

Pembahasan meme ini akan berlanjut pada pembahasan mengenai stereotip dan folklore. Stereotipe dan folklore ini mengacu kepada pemaknaan meme. Pemaknaan meme ini terjadi pada tulisan yang terkait dengan stereotip yang mengacu pada pendapat dari Walter Lipmann. Walter Lipmann (1922) mengatakan bahwa stereotip merupakan sebuah salah satu cara yang mampu menjelaskan dinamika dan perkembangan kognitif terhadap proses yang terjadi dalam sosial-budaya.

Lipmann (1922) dalam Mahadev L Apte (1985). juga menjelaskan terkait stereotip dianggap sebagai konstruksi manusia yang mampu digapai, dan hal tersebut menjadi budaya yang bisa dianggap salah, dan menjadi produk budaya yang mendefinisikan kesalahan yang terjadi dalam pengambilan keputusan, dalam membahas manusia sebagai produk. Stereotip juga bisa dianggap benar, salah, dan dapat menjadi sebuah anggapan yang bisa menular dan bertahan lama di masyarakat. Dundess (1971) dalam Apte (1985) kemudian mencontohkan bagaimana stereotip itu dibangun. Semisal dengan  menggambarkan orang kulit putih dengan kulit hitam, dengan menggabungkan stereotip dan realitas sosial, dibandingkan dengan stereotip dan objektivitas sosial, yang menimbulkan etnosentrisme.

Dan mengenai folklore, penulis akan membahas terkait meme ini terkait dengan kepemilikan dan hak cipta. Apakah seseorang dalam membahas meme ini bisa terkait dengan salah satu ciri folklore menurut James Danandjaja (1984) yaitu anonim, lisan, dan lahir dari mulut ke mulut. Hal tersebut dikarenakan folklore dilakukan dengan sumber asli yang tidak diketahui, lisan, dan proses tersebut dilakukan secara turun menurun.

Pembahasan

(Gambar I)

Mengenai pada fase film Marvel yang direplikasi oleh pembuat meme, dalam konten artikel kuyou.com sebagai bagian dari perpanjangan artikel. Konten perpanjangan artikel ini digambarkan dalam 8 kronologi sepanjang PPKM di Indonesia: Kronologi fase perpanjangan PPKM dimulai dari  1) PSBB Darurat yang dimulai dari April-Juni 2020, lalu dilanjutkan 2) PSBB Transisi Juni-September 2020, 3) PSBB Ketat September-Oktober 2020, 4) PSBB Transisi 2 Oktober 2020-Januari 2021 dan 5) istilah PSBB diganti dengan istilah PPKM yaitu pada bulan Januari-Februari 2021, lalu dilanjutkan dengan 6) PPKM Mikro Februari sampai Juni 2021, 7) PPKM Darurat 1-20 Juli 2021, dan 8) PPKM Level 3 dan 4 21-25 Juli 2021 bahkan penerapan PPKM ini masih berlanjut hingga sekarang.

Dalam tulisan ini dijelaskan mengenai kritik sosial yang dilakukan masyarakat melalui meme. Kritik melalui masyarakat inilah yang dilihat dalam pembuat meme ini sebagai kebijakan yang tidak jelas. Dengan melihat keterkaitan dengan semiotika, proses representan digambarkan dengan adanya fase yang berbeda-beda, dengan adanya perbedaan gaya antar tulisan yang menjadi objek dalam berbagai fase penulisan “PPKM”, dan hal tersebut kemudian memiliki interpretasi bahwa proses PPKM  yang berlangsung secara lama tersebut, pada dasarnya tidak memiliki perbedaan yang signifikan dalam efek akhirnya. Dengan kata lain bahwa reaksi berlebihan tersebut lahir dan menjadi stereotip negatif akan kebijakan PPKM, dan menjadikan fungsi folklore secara anonim dalam menyampaikan pendapat tersebut, berhasil disampaikan dengan baik.

(Gambar II)

Meme ini berisi mengenai konteks pada kartun SpongeBob SquarePants yang berbicara mengenai kepanikan seorang Patrick Star dalam melihat tulisan yang kita tidak tahu apa artinya. Namun, penulis menginterpretasikan sebuah meme yang mana terkait pada PPKM level 4. Tulisan yang berjudul “Kota ini PPKM level 4” memperlihatkan mengenai kepanikan seorang Patrick yang digambarkan dengan bagaimana masyarakat menanggapi apa yang disebut terkait kebijakan PPKM Level 4. Hal ini kemudian bisa dikaitkan dengan bagaimana representan yang anonim tersebut, berusaha menggambarkan proses PPKM level 4 sebagai objek yang tidak diketahui dan menimbulkan kepanikan, sehingga memunculkan anggapan yang berlebihan, dan hal tersebut kemudian berkaitan dengan proses anonimitas dalam penyampaian Folklore di Indonesia.

(Gambar III)

Meme tersebut menggambarkan PPKM level 4 menimbulkan berbagai kontroversi akan aturan terkait PPKM level 4 yaitu makan di tempat selama 20 menit. Dalam konteks ini terjadi pertengkaran dalam antara gorila dan monster yang mana dilukiskan sebagai “nambah nasi” dan “nambah lauk.” Satpol PP dianggap memiliki stereotip datang dan membubarkan massa, dengan kata lain bahwa PPKM level 4 dianggap sebagai bencana yang menimbulkan pertengkaran tak habis-habis antar masyarakat.

Gambar IV

(Gambar V)

PPKM Level 4 yang digambarkan dalam meme tersebut, kemudian dikaitkan dengan seorang YouTuber bernama Tanboy Kun yang diberi waktu 20 menit untuk menyelesaikan tantangan nasi padang. Seperti kita tahu, Tanboy Kun  merupakan Youtube yang popular karena konten “mukbang” yang umum diberi tantangan. Secara umum, layaknya penulis, kita akan tertawa apabila mengerti konteks PPKM.

Hal tersebut juga digambarkan dalam meme lain yang menggambarkan pemberian makan di warteg bertanya mengenai waktu 20 menit yang berisi mengenai “Pake Kuah Bang?”, lalu dijawab, “Buset nanya bae, sisa 18 menit ini?”  Dua meme tersebut yang masih berkaitan satu sama lain, kemudian memunculkan perdebatan akan efektivitas dari kebijakan pembatasan makan selama 20 menit tersebut.

Kesimpulan

Dalam memahami meme diperlukan berbagai cara salah satunya adalah semiotika. Semiotika terkait dengan makna. Makna yang terkandung dalam representan ini terkait dengan unsur Representan, Object, dan Interpretan. Ketiga hal ini terkandung dalam gambar yang disampaikan dalam meme. Meme ini memiliki makna bahwa terdapat kritik social yang disampaikan oleh masyarakat secara berlebihan.

Memahami meme dalam tulisan ini juga terkait dengan aspek Stereotipe. Stereotipe dalam contoh tulisan ini yaitu bagaimana memahami kulit hitam dari pandangan kulit putih ini menghasilkan sebuah perbedaan makna yaitu terkait dengan bagaimana cara kita memahami meme. Memahami meme diperlukan unsur stereotipe karena dalam meme ini dihadapi dengan cara pandang yang berbeda-beda.

Meme juga dapat dikataakan sebagai sebuah folklor. Mengingat ciri-ciri yang sudah saya sebutkan diatas, mengisyaratkan bahwa meme merupakan bagian dari folklore karena salah satu ciri folklore yang disebut sebagai anonim dan mengingat terdapat perubahan cara memandang makna folklore karena dalam folklore ini bukan hanya membahas lagu rakyat, cerita rakyat, humor, dongeng, dan takhayul melainkan membahas perubahan media yaitu salah satu contohnya adalah meme.

Melalui tulisan ini dapat disimpulkan bahwa terdapat pemaknaan yang berbeda-beda dalam setiap meme. Dalam memahami meme yang merupakan bagian dari produk yang disebut humor diperlukan interpretasi yang berbeda-beda.

Ucapan Terima Kasih

Saya berterima kasih kepada IHIK3 (Institut Humor Indonesia Kini) yang membantu saya dalam proses diskusi penulisan, penyediaan buku referensi dan sebagai sponsor dalam menghadiri kegiatan symposium ini. Saya juga berterima kasih kepada Dimas Dwi Nugraha dalam menyusun tulisan ini serta ISJAI yang menyelenggarakan acara ini.

Referensi

1984                Danandjaja, J. Folklor Indonesia: ilmu gosip, dongeng dan lain-lain. Grafiti Pers.

1985                Apte, M. L. Humor and laughter: An anthropological approach. Cornell: Cornell university press.

2016                Allifiansyah, S. Kaum muda, meme, dan demokrasi digital di Indonesia. Jurnal Ilmu Komunikasi, 13(2), 151-164.

2017                Chandler, D. Semiotics: The Basic: 3rd Edition. London: Routledge.

2018                Wells, D. D.  You all made dank memes: Using internet memes to promote critical thinking. Journal of Political Science Education, 14(2), 240-248.

2019                Folklore in Meme: Minangkabau Folklore Survival Form in The Digital World. Proceedings of the Proceedings of the 2nd International Conference on Local Wisdom, INCOLWIS 2019, August 29-30, Padang, West Sumatera, Indonesia. https://doi.org/10.4108/EAI.29-8-2019.2288953

2019                Hidayat, H., Wasana, W., Pramono, P., Immerry, T., & Dahlan, F.

2021                Kompas.com. PPKM Adalah Singkatan dari Perberlakukan Pembatasan Kegiatan. https://money.kompas.com/read/2021/07/10/092118826/ppkm-adalah-singkatan-dari-perberlakukan-pembatasan-kegiatan

2021                Kuyou.com. Kumpulan Meme Lucu dan Unik Pasca Perpajangan PPKM Level 4, Bisa Bikin Kamu Mules. https://kuyou.id/homepage/read/24128/kumpulan-meme-lucu-dan-unik-pasca-perpajangan-ppkm-level-4-bisa-bikin-kamu-mules

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyrights 2019 | IHIK