Komedi Membuka Ruang Diskusi dan Kritik

Komedi punya daya untuk mencegah orang yang dikritik marah. Alih-alih marah, yang dikritik bisa ikut tersenyum atau tertawa bersama audiens.

Oleh
SEKAR GANDHAWANGI
Aparatur sipil Negara yang akan segera pensiun maupun yang sudah pensiun tertawa lepas saat komedian Cak Lontong dan Nur Akbar menghibur mereka dalam acara Program Wirausaha ASN dan Pensiunan di Sentul International Convention Center, Bogor, Rabu (16/1/2019). Kegiatan ini sebagai ajang untuk menyiapkan ASN agar bisa berwirausaha setelah pensiun serta menampilkan juga produk-produk yang dihasilkan pensiunan ASN. Kegiatan ini dihadiri Presiden Joko Widodo.
KOMPAS/HERU SRI KUMORO

Aparatur sipil Negara yang akan segera pensiun maupun yang sudah pensiun tertawa lepas saat komedian Cak Lontong dan Nur Akbar menghibur mereka dalam acara Program Wirausaha ASN dan Pensiunan di Sentul International Convention Center, Bogor, Rabu (16/1/2019). Kegiatan ini sebagai ajang untuk menyiapkan ASN agar bisa berwirausaha setelah pensiun serta menampilkan juga produk-produk yang dihasilkan pensiunan ASN. Kegiatan ini dihadiri Presiden Joko Widodo.

JAKARTA, KOMPAS — Komedi membuka ruang untuk menyampaikan kritik dan mendiskusikan isu yang dianggap sensitif. Hal ini penting untuk menumbuhkan masyarakat yang tidak hanya reflektif, tapi juga toleran.

Menurut CEO Institut Humor Indonesia Kini (IHIK3) dan Humor Justice Warrior, Novrita Widiyastuti, candaan yang dilontarkan pelawak kerap mencerminkan kondisi masyarakat. Pada zaman dulu, pelawak istana atau court jester bertugas menyampaikan hal yang terjadi di masyarakat secara jujur, namun jenaka.

https://www.kompas.id/baca/humaniora/2022/09/01/komedi-membuka-ruang-diskusi-dan-kritik

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Copyrights 2019 | IHIK