HumOr No. 27/13-26 November 1991 (Hasil Perburuan)
HumOr No. 27/13-26 November 1991 (Hasil Perburuan) Wawancanda Christianto Wibisono: Modal Dengkul Untung Milyaran Ujar Direktur Pusat Data Bisnis Indonesia. Ini bukan sulap bukan sihir.
HumOr No. 27/13-26 November 1991 (Hasil Perburuan) Wawancanda Christianto Wibisono: Modal Dengkul Untung Milyaran Ujar Direktur Pusat Data Bisnis Indonesia. Ini bukan sulap bukan sihir.
HumOr No. 26/23 Oktober-12 November 1991 (Hasil Perburuan) Wawancanda Emha Ainun Nadjib: Saya Memang Jago Tak ada Emha Ainun Ajaib, Emha Ainun Nasib pun jadilah. Itu kata pepatah plesetan versi
HumOr No. 25 9-22 Oktober 1991 (Hasil Perburuan) Wawancanda: Ismail Saleh Orang Hutan Orang mengenal Ismail Saleh, SH sebagai Menteri Kehakiman yang banyak mengeluarkan jurus-jurus ampuh untuk memberantas korupsi dan
HumOr No. 24 25 September-8 Oktober 1991 (Hasil Perburuan) Wawancanda Okky Asokawati: Menyeleweng Itu Gampang Profesi peragawati sering dicurigai orang dekat dengan “bisnis seks”. Okky Asokawati, seorang peragawati dan sarjana
HumOr No. 23 11-24 September 1991 (Hasil Perburuan) Wawancanda: Didi Petet Jadi Handuk Didi Petet lebih dikenal daripada Didi Widiatmoko. Seandainya dia tidak diakui sebagai aktor maupun pelawak dan hanya
HumOr No. 22 28 Agustus-10 September 1991 (Hasil Perburuan) Wawancanda: Kris Biantoro Bukan Kerupuk Ia sudah lama tidak muncul di TVRI ternyata punya prinsip ibarat air mengalir, bendung sana keluar
HumOr No. 21 14-27 Agustus 1991 (Hasil Perburuan) Wawancanda: Bagito Buka Kartu Orang diwawancarai karena prestasinya, itu biasa. Begitu juga kalau Bagito Group diwawancarai. Tapi kalau sebaliknya?
HumOr No. 20 24 Juli -13 Agustus 1991 (Hasil Perburuan) Wawancanda: Jaya Suprana Bingung Lama tak pernah muncul, begitu muncul Jaya Suprana mengaku pernah menjadi WTS, pengamen, pelawak dan kawin
Gedung Kartun Majalah baru Zunar usik PM – Malaysia Kartunis politik terkenal Zulkiflee Anwar Haque akhirnya kembali bergelumang bersama dunia kreatif melalui majalah Gedung Kartun setelah meninggalkan organ PKR Suara