Samsul, Celingukan, & Nepobaby

Samsul, Celingukan, & Nepobaby

 

Meminjam istilah Ken Jennings dan Patrick Giamario, kita sekarang sedang mendiami “Planet Lucu” (Planet Funny), tepatnya di Era Serba-Gembira (The Age of Hilarity). 

 

Sebabnya, gerbong-gerbong dalam kehidupan kita memang sedang ditarik oleh lokomotif humor. Periklanan, lingkungan kerja, bahkan kesehatan – karena kini yoga tertawa (laughter yoga) juga tengah menjangkiti berbagai belahan dunia, semuanya terserang “virus” humor. Tentu saja, ranah politik termasuk di dalamnya.

 

Lihatlah bagaimana para kontestan Pilpres 2024 dengan terbuka mengakomodasi beragam strategi humor untuk mencari perhatian dan meyakinkan publik. Ada yang memakai jargon-jargon komedik yang sedang hangat di kuping masyarakat saat berpidato di panggung debat, ada yang suka mengunggah meme di akun media sosial pribadinya, ada juga yang secara eksplisit memakai “riang-gembira” sebagai narasi utama kampanyenya.

 

Intinya, humor (termasuk efek menyenangkan yang ditimbulkannya) benar-benar merasuk dan dijadikan ekspresi politis para capres dan cawapres di pemilihan kali ini.

 

Namun, publik perlu berhati-hati. Walau humor adalah hal yang disukai lapisan masyarakat bawah hingga atas, humor yang berasal dari politikus layak dikunyah secara kritis.

 

Mengutip John Morreall dalam artikelnya Humour and the Conduct of Politics yang dimuat dalam Beyond a Joke: The Limits of Humour (2005), humor dari para politikus dapat digolongkan sebagai instrumental humor

 

Ia berbeda dengan aesthetic humor, yang mampu menciptakan rasa bahagia otentik layaknya humor yang dilontarkan saat kita tertawa bersama dengan teman-teman di tongkrongan. Instrumental humor ala politikus tidak murni dibuat untuk menghibur, melainkan mendorong orang lain untuk berbuat sesuatu – jelas, yakni meraih simpati dan suara masyarakat.

 

Lebih lanjut, Morreall menjelaskan tiga fungsi mengapa politikus berhumor, yakni menetralisir dampak dari berita negatif, merendahkan lawan politik, serta membungkam kritik yang mengarah padanya. 

 

Menariknya, di antara capres-cawapres yang berkontestasi di Pilpres 2024, Gibran Rakabuming Raka adalah figur yang cukup doyan memaksimalkan fungsi-fungsi humor untuk kepentingan elektoralnya. Setidaknya, dari amatan penulis, dua dari tiga fungsi humor di atas telah dijalankan oleh tim sukses atau tim komunikasi Gibran.

 

Strategi humor Gibran yang Hampir Sempurna

Pertama, Gibran dan timnya pernah mempraktikkan instrumental humor untuk menetralisir berita negatif.

 

Desember 2023 lalu, Gibran keliru menyebut “asam sulfat” sebagai kebutuhan nutrisi untuk ibu hamil di sebuah acara di Jakarta Selatan. Padahal, asam sulfat merupakan unsur kimia yang sangat berbahaya jika dikonsumsi, lebih-lebih oleh seorang ibu yang berharap anaknya bisa tumbuh sehat. Istilah yang seharusnya adalah “asam folat”.

 

Dari keseleo lidah itu, label “samsul” – kependekan dari “asam sulfat” – jadi dilekatkan ke putra presiden Joko Widodo itu. Selain politikus PDIP, Masinton Pasaribu, para netizen juga meledek Gibran beramai-ramai dengan istilah tersebut.

 

Namun, bak mempraktikkan ilmu taichi, Gibran dan timnya malah menangkap dan melontarkan kembali serangan dari lawannya itu. Mereka merespons satire viral itu dengan mencuitkan kata “samsul” di akun X (dulunya Twitter) resmi Gibran dan memantik beragam reaksi dari publik (20/12/23). 

 

Dari situ, mereka menggulirkan isu “samsul” ini secara lebih bombastis, dimulai dari membuat jersey bernama punggung “Samsul” untuk digunakan Gibran saat bermain futsal di Cirebon (6/1/24) dan sepak bola di Maluku Tengah (8/1/24). Kemudian, Gibran dan sejumlah pendukungnya tampak mengenakan jaket bertuliskan “samsul” di debat keempat Pilpres 2024 (21/1/24). Bahkan, Gibran bersama timnya sempat membuat giveaway di Instagram dengan hadiah jaket tersebut (30/1/24). 

 

Tak ketinggalan, Kaesang Pangarep, Ketua Umum PSI – yang notabene partai pengusung Gibran sekaligus adik kandungnya – ikut-ikutan meniupi isu ini dan menjadikannya gimmick kampanye dengan muncul ke publik mengenakan kaus bertuliskan Pecinta Samsul Indonesia (3/1/24). Barangkali ada yang keselip menemukan di mana humornya, tulisan di kaus itu adalah plesetan dari singkatan partai yang berhasil ia ketua-umumi kurang dari 3 hari saja sejak resmi bergabung. Di kesempatan lain, Kaesang membagikan kaus tersebut saat berkampanye di Makassar (29/1/24).

 

Strategi ini seperti direplikasi kembali saat muncul satire “belimbing sayur” untuk menyindir Gibran yang beberapa kali mangkir di diskusi maupun debat terbuka selain debat resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU). Rasa belimbing sayur atau belimbing wuluh yang asam atau kecut dianalogikan mirip dengan nyali Gibran yang tak seberapa dalam menghadapi publik secara langsung.

 

Kedua, Gibran dan timnya mampu mendemonstrasikan sarkasme humoristis untuk mendegradasi citra lawan politiknya. 

 

Saat debat keempat Pilpres 2024 (21/1/24), Gibran menunjukkan gestur celingukan di sesi tanya jawab. Gibran melakukannya setelah jawaban cawapres lain, Mahfud MD, atas penanggulangan “greenflation” yang ia tanyakan ia anggap tidak nyambung.

 

“Saya lagi nyari jawabannya Prof. Mahfud, saya nyari-nyari di mana ini jawabannya, kok nggak ketemu,” kata Walikota Solo aktif yang enggan mundur untuk fokus berkontestasi di Pilpres 2024 tersebut. 

 

Sebelum kejadian itu, Gibran juga mulanya enggan menjelaskan lebih lanjut soal terminologi “greenflation”, hanya karena Mahfud merupakan seorang profesor.

 

Dengan menampilkan gestur celingukan dan ujaran asumtif bahwa seorang profesor mengetahui segala hal, Gibran dan timnya coba memainkan taktik penggunaan humor bernuansa sarkasme untuk merendahkan lawan politiknya. 

 

Dalam konteks ini, dengan pengalaman dan capaian akademis berada di bawah Mahfud, jelas tidak mungkin bagi Gibran untuk melontarkan sarkasme murni, misalnya lewat kata-kata yang kasar apalagi mengandung makian. Pasalnya, hal tersebut malah akan membahayakan image yang sudah susah payah dibangun, terutama sebagai anak muda yang beretiket – bukan beretika. 

 

Namun sayang, Gibran dan timnya belum memfungsikan instrumental humor secara menyeluruh. Ia hanya mendiamkan atau belum pernah sekalipun membungkam kritik yang mengarah kepadanya terkait pelabelan sarkastis “nepobaby”.

 

Media asing Al Jazeera-lah yang memopulerkan julukan itu ke Gibran dalam liputannya berjudul “Indonesian leader’s son brushes off ‘nepo baby’ tag in feted debate showing” (23/12/23). Artikel tersebut walaupun sebagian isinya mengapresiasi performa Gibran saat debat kedua Pilpres 2024 (22/12/23), tetapi tak luput pula untuk menyoroti proses pencalonannya yang problematik.

 

Istilah “nepobaby” merupakan kependekan dari nepotism baby, yang merujuk pada anak-anak yang menikmati koneksi dan bantuan dari orang tuanya untuk meraih sukses – biasanya di bidang yang mirip pula dengan orang tuanya.

 

Seperti telah kita ketahui bersama, Gibran bisa melenggang ke panggung Pilpres 2024 lewat bantuan pamannya, eks Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Anwar Usman. Dalam putusan nomor 90/PUU-XXI/2023, MK menetapkan bahwa pejabat yang terpilih melalui pemilu boleh mendaftar menjadi capres atau cawapres, meskipun belum berusia 40 tahun.

 

Menurut pakar, pembiaran ini – termasuk dari ayahnya yang telah dua kali membacakan sumpah presiden untuk senantiasa memegang amanat Undang-Undang Dasar dan menjalankannya – merupakan pelanggaran atas UU Nomor 28 Tahun 1999, Pasal 5 Angka 4, yang berbunyi: “Setiap Penyelenggara Negara berkewajiban untuk tidak melakukan perbuatan korupsi, kolusi, dan nepotisme.”

 

Tudingan Gibran sebagai anak kandung nepotisme kian tak terbantahkan setelah awal Februari 2024 Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) memberikan sanksi peringatan keras dan terakhir kepada Ketua KPU Hasyim Asy’ari dan enam komisioner KPU. Mereka dinyatakan melanggar kode etik, karena tetap memproses pendaftaran Gibran sebagai bacawapres di Pemilu 2024, kendati proses revisi syarat usia minimum capres-cawapres pada Peraturan KPU Nomor 19 Tahun 2023 sesuai Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 yang tersebut di atas belum tuntas.

 

Namun hingga mendekati 14 Februari 2024, Gibran dan timnya sama sekali belum membantah sarkasme “nepobaby” itu. Tidak ada respons lucu-lucuan dari mereka soal sindiran ini, berbeda dengan pelabelan “samsul” dan “belimbing sayur” yang begitu serius untuk ditangkis. Justru, di isu yang lebih krusial dan substantif ini, mereka malah adem ayem saja.

 

Hal ini pun memicu tanda tanya, setidaknya bagi penulis, apakah Gibran dan timnya yang sebelumnya cukup akomodatif dengan strategi humor politis sedang bersiap untuk merespons isu “nepobaby” di detik-detik akhir? 

 

Atau ternyata, malah sengaja tidak ditanggapi karena pelanggaran konstitusi berbalut sindiran tersebut sudah terlalu telak?

 

Ulwan Fakhri – Peneliti Humor Institut Humor Indonesia Kini (IHIK3) & Certified Humor Professional Association for Applied and Therapeutic Humor (AATH)

Sumber foto: IG @gibran_rakabuming

Copyrights 2019 | IHIK