“Perang” Memakai Humor

“Perang” Memakai Humor

Kalau Anda hidup di masa Nazi dan Adolf Hitler berkuasa, pastikan radio Anda tidak pernah bergeser ke frekuensi siaran radio milik negara musuh. Sebab, begitu kaki-tangan rezim memergoki Anda melakukan itu, Anda bisa dibunuh.

Merespons aturan “aneh” itu, radio dari blok sekutu, BBC, mencoba strategi ofensif yang revolusioner. Setelah merekrut dua orang Yahudi dalam pengasingan di Inggris yang merupakan eks editor koran dan pengamat politik, Bruno Adler dan Robert Lucas, alih-alih menyebar informasi biasa seperti ramalan cuaca atau berita perang (mungkin di masa itu, mendapat perkembangan terkini kontak senjata antarpleton sudah sewajar informasi apakah besok akan panas terik atau hujan deras), mereka menyiarkan beberapa program komedi satire.

Salah satunya adalah Kurt und Wili, serial radio berisi obrolan tokoh fiktif bernama Wili Schimanski, staf Kementerian Propaganda Nazi, yang membongkar strategi-strategi yang timnya lakukan kepada seorang warga Jerman biasa bernama Kurt. Rahasia-rahasia negara itu mereka bocorkan sembari minum bir dan bersantai di bar – kalau di sini, semacam aktivitas ngobrol di angkringan ditemani kopi dan gorengan, lah.

Kurt und Wili disiarkan dari tahun 1940 sampai Perang Dunia II berakhir pada 1945. Kedua kreatornya sejatinya tidak tahu seberapa bermanfaat dan berpengaruh program itu, sampai akhirnya BBC kebanjiran surat terima kasih dari orang-orang Jerman yang mendengarkan siaran tersebut secara diam-diam. Selain berterima kasih karena masih bisa membuat mereka tertawa di momen-momen mencekam, orang-orang itu juga merasa lebih diperhatikan oleh BBC (sebuah media massa yang ironisnya dikelola oleh musuh!) dibandingkan pemerintah mereka sendiri yang telah dibutakan ambisi memenangkan perang.

Fenomena ini menarik untuk didiskusikan saat ini, terlebih bila ditinjau dari kacamata percaturan politik internasional dan konsep power (kekuatan). Dalam topik ini, umumnya, pengamat dan praktisi hubungan internasional terbagi menjadi dua kubu: penganut hard power dan soft power.

Secara sederhana, kelompok hard power enthusiast meyakini penggunaan power yang berlandaskan pada tekanan, paksaan, atau kekerasan – misalnya dengan kekuatan militer dan aturan-aturan yang sifatnya mengikat serta bisa menghukum – efektif untuk melegitimasi kekuasaan atas negara lain.

Di sisi lain, para penganut soft power adalah mereka yang merasa strategi berdiplomasi lebih penting dan efektif untuk memengaruhi haluan suatu kelompok. Artinya, strategi soft power berorientasi untuk mengubah pola pikir negara lain supaya tindakannya juga ikut terkontrol.

Kebutuhan untuk membeli alutsista yang paling canggih hingga menyiapkan komponen cadangan (komcad) dalam menghadapi tantangan pertahanan negara di masa depan memang krusial. Akan tetapi, jangan lupa kalau di samping strategi hard power tadi, kita pun bisa mengandalkan strategi soft power, yang lebih cocok dipakai di iklim globalisasi seperti sekarang, memungkinan untuk dilakukan oleh pemerintah dalam waktu dekat, serta lebih ramah secara anggaran: “perang” menggunakan humor.

Ya, humor ini alat yang terlalu diremehkan, karena sejatinya ia lebih dari sekadar mentertawakan kalimat atau kejadian lucu belaka. Ketika dikemas sedemikian rupa, seperti Kurt und Wili tadi, humor terbukti efektif sebagai alat propaganda.

Zev Burton, dalam Two Fish in a Tank: How Jokes Can Give Hope to a Fractured World (2021), menyimpulkan bahwa dalam cuplikan cerita dari Perang Dunia II di atas, humor begitu efektif dalam memengaruhi masyarakat sipil yang tidak ikut berperang. Sebab di dalam humor, terdapat “kebenaran”.

Humor, terutama satire, punya peran besar dalam memojokkan pihak tertentu, sehingga terlihat sebagai “bad guy” yang perlu dilawan. Atau minimal, tidak perlu didukung lagi.

Mengapa bisa demikian? Dalam fungsi komunikatifnya, humor itu bak pisau bermata dua. Ia memang punya sifat alamiah untuk menyatukan sekaligus membelah. Nah, karakteristik humor yang membelah tadi dapat ditunjukkan dalam fungsi penegakan (enforcement) dan diferensiasi (differentiation).

Dalam fungsi penegakan, humor berfungsi seperti alat untuk mengadili. Lumrahnya, berbentuk cemoohan atas ketidaksesuaian apa yang seseorang katakan dan lakukan. Sementara dalam fungsi diferensiasi, humor dapat dipakai untuk menyoroti tindakan-tindakan orang lain yang menyimpang dari mayoritas publik, sehingga membuat mereka tidak dapat diterima dan layak ditertawakan (Meyer, Humor as a Double-Edged Sword: Four Functions of Humor in Communication, 2006).

Strategi lain

Nah, sembari menunggu pemerintah kita menyadari bahwa humor bisa menjadi bagian pertahanan suatu negara sekaligus memperkuat posisi kita atas negara lain, menyiapkan strategi narasi intinya (seperti siapa yang jadi target humor, siapa target konsumennya, medium apa yang sesuai, dan lain-lain), lalu mencoba memproduksi materi propagandanya, mari lanjutkan diskusi ini dengan penawaran pendekatan lainnya.

Menurut Anda, mengapa PBB atau perhimpunan internasional semacamnya, juga beragam konferensi global, sampai sekarang belum ada yang berhasil menciptakan saling pengertian antara bangsa-bangsa di dunia?

Kalau jawaban Arwah Setiawan, filsuf humor Indonesia, dalam pengantar buku Banyolan Antar Bangsa-nya Larry Wilde (1987), “Mungkin karena setiap perundingan dan tawar-menawar tidak berdasarkan rasa humor.”

“[Pasalnya,] kalaupun persoalan tidak bisa dipecahkan, paling tidak, diharapkan perang bisa dicegah,” tambahnya.

Selaras dengan itu, Burton juga bilang bahwa para diplomat perlu mengenal mengenal sekaligus memanfaatkan humor dalam aktivitas diplomasinya. Sebab setidaknya, ada dua manfaat yang bisa diperoleh.

Pertama, humor dapat mempererat hubungan antarkepala negara atau antardiplomat yang tentunya penting dalam hubungan masing-masing negara yang dipimpin atau diwakilinya. Kedua, humor bisa menjembatani isu-isu penting yang ingin atau sedang diselesaikan bersama.

Tentu bagi negara seterbuka dan sehumoris Indonesia, alasan-alasan tersebut seharusnya sudah cukup untuk membuat diplomat-diplomat kita lebih akomodatif terhadap humor. Jangan kaget, negara sekaku Korea Utara saja diplomatnya tidak antihumor, lho.

Gene Schmiel, mantan staf Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, penulis, sekaligus akademisi, punya momen mengesankan soal itu. Dalam sebuah jamuan makan malam suatu konferensi di tahun 1991, seorang diplomat Korea Utara mengklaim bahwa setahun sebelumnya dirinya pernah bertemu dengan Presiden George H. W. Bush di konferensi yang sama (ayah dari Presiden AS ke-43 George W. Bush yang lebih terkenal di Indonesia).

Klaim itu terdengar seperti omong kosong bagi para diplomat dan akademisi lain yang mendengarnya. Sebab, jangankan hubungan bilateral AS-Korut, relasi masing-masing diplomat lain dengan Korut juga tidak begitu mulus.

Tak selang lama, diplomat Korut tadi mengambil dompet dari sakunya. Sambil tersenyum, ia menunjukkan foto dirinya sedang berdiri sembari merangkul bahu Presiden Bush.

Tawa pun pecah, karena Bush yang diajak berfoto tadi hanyalah selembar kardus (cardboard figure), bukan versi “manusianya”. Ini trik yang lazim bagi para turis yang berkunjung ke Negeri Paman Sam untuk pamer kepada keluarganya di rumah (Welcome Home: Who are You? Tales of a Foreign Service Family, 1998).

Nah, sembari usulan penasihat senior Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Andi Widjajanto, terkait perlunya mobilisasi komcad dalam waktu dekat sebagai antisipasi ancaman perang dari China dipertimbangkan, kiranya kita juga perlu segera untuk memproduksi humor-humor yang politis dan propagandis secara terstruktur untuk menunjukkan bahwa power Indonesia baik yang hard maupun soft sama-sama matang.

Ulwan Fakhri – peneliti Insititut Humor Indonesia Kini (IHIK3)

sumber gambar: army.mil

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyrights 2019 | IHIK