Menekel Isu Depresi pada Mahasiswa

Menekel Isu Depresi pada Mahasiswa
Ulwan Fakhri – detikNews
Selasa, 06 Feb 2024 13:18 WIB

Jakarta – Terlalu naif, sebenarnya, kalau berita bunuh diri di kalangan mahasiswa saat ini masih mengagetkan kita. Dari pernyataan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto, November 2023 lalu saja seharusnya kita telah menyadari bahwa medan perjuangan para mahasiswa baru (maba) ini sedari awal memang sudah berat.
Dalam screening internalnya, terkuak 60 persen maba UI sudah mengalami depresi, padahal perkuliahan belum dimulai. Gangguan terhadap kesehatan mental mereka ini berkaitan dengan masalah yang dialami di lingkungan keluarga. Alhasil, tugas dosen ketika perkuliahan dimulai menjadi makin berat, selain harus mengedukasi, tetapi juga sekaligus menjaga kestabilan mental mahasiswanya yang terlanjur menggendong setumpuk kegelisahan ke dalam kelas.

Di Amerika Serikat, situasinya pun tak jauh beda. Survei Healthy Minds pada tahun ajaran 2022/2023 menemukan bahwa 41 persen mahasiswa berbagai jenjang di sana mengalami depresi. Meski sedikit menurun daripada tahun sebelumnya (44 persen), tapi trennya sudah terus naik sejak 2014/2015 yang waktu itu masih di kisaran 20 persenan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Maka dari itu, intervensi perguruan tinggi di Indonesia bersama para dosen untuk menurunkan tensi mahasiswanya di dalam kelas makin mendesak. Universitas Gajah Mada, misalnya, sudah mengumumkan larangan dosen ‘killer’ mengajar –SOP-nya katanya sedang dipersiapkan.

Lantas, bagaimana dengan perguruan tinggi lain? Adakah inisiatif yang bisa dilakukan bapak dan ibu dosen untuk membantu generasi muda bangsa yang sedang berjuang meraih mimpi menuntaskan pendidikan tingginya?

Integrasikan humor dan komedi dalam mata kuliah

Peran humor dan komedi selama ini masih dikerdilkan sebagai hiburan semata. Padahal, aplikasinya begitu luas dan relevan untuk menekel isu depresi pada mahasiswa, bahkan sejak awal perkuliahan.

Ini saduran pengalaman Jess Landis, associate professor Franklin Pierce University di AS yang membidangi kajian Bahasa Inggris, gender, dan kepenulisan. Mulai 2013, ia menjadikan humor dan komedi sebagai bahan perkuliahan dalam first-year seminar course, semacam mata kuliah perkenalan bagi maba dan transisi dari sekolah menengah.

Landis, dalam Teaching Comedy (Hogue, 2023) mengobservasi bahwa humor dan komedi yang ia balut dalam kurikulum pengajaran telah memberikan keuntungan bagi para maba di kelasnya. Saya juga bisa mengonfirmasi sendiri temuan Landis tersebut setelah terlibat sebagai praktisi mengajar –baik di program Kemendikbud maupun insiatif mandiri kampus– dan mengintegrasikan humor dan komedi dalam beberapa mata kuliah.

Paling tidak, integrasi humor dan komedi ke mata kuliah bisa membantu mengurangi rasa keterasingan (loneliness) dan ketidakberdayaan (hopelessness) para maba. Pertama, humor dan komedi bisa mengatasi keterasingan dan merekatkan hubungan antarmahasiswa. Beradaptasi dengan orang-orang baru dari berbagai latar belakang tentu tidak mudah dan instan. Padahal, teman-teman seangkatan ini adalah support system yang ideal bagi maba.

Pancingan untuk para generasi Z ini supaya bisa berbaur lebih mudah adalah lewat kesamaan referensi meme, celetukan lucu yang lagi populer di medsos, ataupun film dan serial komedi yang sedang hangat. Biarkan mereka membagikan kelucuan yang mereka dapat di luar kelas dalam perkuliahan, dan, voila, satu tawa bakal membuat kecanggungan mereda.

Selain menemukan kesamaan, humor dan komedi juga akan membantu mempersiapkan para maba untuk bisa menerima perbedaan pandangan. Kebetulan, humor punya fungsi bercabang: menyatukan sekaligus memisahkan (Meyer, 2006). Jadi, hampir bisa dipastikan, meme di medsos yang bermuatan ideologi tertentu hanya akan lucu bagi audiens yang seideologis, tapi rentan ‘garing’ bagi yang berseberangan.

Berada di tengah orang-orang yang belum dikenalnya akrab, berat bagi beberapa maba untuk merasa berdaya dengan mengutarakan ketidaksepahaman terhadap suatu isu, apalagi jika ia kalah secara jumlah dengan kelompok status quo. Triknya, coba mintalah para maba untuk merespons meme, joke, atau klip komedi yang kontroversial tentang isu dan fenomena yang berkaitan dengan pembelajaran.

Setidaknya, subjektivitas ketidaksepahaman mereka akan lebih mudah keluar dengan balutan “menurut saya, humor ini tidak lucu.” Dari situ, barulah gali aspek “karenanya” dan biarkan mereka mengekspresikan isi kepalanya.

Lebih lanjut dalam Ludic Pedagogy: a seriously fun way to teach and learn (Lauricella & Edmunds, 2023), pentingnya strategi mengajar yang santai, melibatkan permainan, atau menggerakkan tubuh (minimal berdiri dan beranjak dari kursi) bakal membantu para maba untuk lebih santai dan memfokuskan stres mereka ke hal yang lebih esensial: materi pembelajaran.

Dengan mengalihkan kekhawatiran dari bagaimana beradaptasi di lingkungan baru, para maba akan lebih cepat terarahkan untuk belajar dan mengembangkan dirinya, sehingga bisa lebih siap dengan tantangan selanjutnya, bahkan tantangan kehidupan selepas lulus nantinya.

Terakhir, jangan khawatir, humor itu sifatnya multi-disiplin ilmu. Ada banyak sekali humor bertebaran tentang berbagai disiplin ilmu, dari linguistik hingga kedokteran, dan berbagai disiplin ilmu tadi pun bisa melihat humor dari kacamatanya masing-masing.

Tengoklah bagaimana kartun satire Alfred Gatspar yang merespons ide Mies van der Rohe, pionir arsitektur modern dengan minimalismenya. Di buku Laughing at Architecture (Rosso, 2019) diceritakan bahwa kartunnya berjudul Neue Lebensformen (New Ways of Living) pada1927 menggambarkan kehidupan desain rumah modern secara komedik, yang saking minimalisnya, tak ada bedanya dengan tempat tinggal dan gaya hidup manusia gua.

Lalu, adakah humor dalam disiplin matematika? Jangan salah, matematikawan asal Swiss, Leonhard Euler (1707-1783) pernah mengirim surat untuk mengumumkan kelahiran anak pertamanya lewat persamaan yang sederhana nan kocak: 1 + 1 = 3. Pun dengan disiplin ilmu lain, pastilah memiliki muatan humornya sendiri yang kontekstual serta relevan dengan materi pengajaran.

Tips dari Landis bagi Anda para dosen, yang juga saya sepakati, unsur humor dan komedi dalam mata kuliah tidak perlu dianggap sebagai sebuah beban. Sebab, para dosen tidak diharuskan untuk melucu seperti komika atau menayangkan meme di proyektor terus menerus.

Kalau tidak mampu menciptakan humor dan komedi sendiri, pinjamlah dari para humoris berbagai medium yang ada di seluruh dunia. Ketika sudah paham betul dengan apa yang hendak Anda sampaikan di dalam kelas, lanjutkanlah dengan mengkurasi humor-humor yang relevan.

Intinya, jadikanlah humor dan komedi sebagai strategi pedagogis: membuka diskusi dengan kartun yang bisa memantik beragam opini, mengkontraskan contoh yang benar dan keliru hingga jadi absurd dalam suatu teori, atau memberikan perintah kuis dan opsi jawaban pilihan ganda yang humoristis (injecting jest into test).

Dengan mengintegrasikan humor dan komedi ke kurikulum awal perkuliahan, artinya Anda, para dosen, sedang memberikan landasan pacu tambahan agar mental para maba lebih siap lepas landas mengarungi perkuliahannya ke depan.

Ulwan Fakhri peneliti Institut Humor Indonesia Kini (IHIK3), Certified Humor Professional Association for Applied and Therapeutic Humor (AATH)

Baca artikel detiknews, “Menekel Isu Depresi pada Mahasiswa” selengkapnya¬†https://news.detik.com/kolom/d-7178130/menekel-isu-depresi-pada-mahasiswa.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Copyrights 2019 | IHIK