Canda Laga Mancanegara I: International Cartoon Festival, Indonesia

candalaga

Canda Laga Mancanegara I = International Cartoon Festival, 1988, Semarang, Indonesia
by Lembaga Humor Indonesia.; et al

Author: Lembaga Humor Indonesia.; et al
Publisher: Semarang, Indonesia : Committee of the Canda Laga Mancanegara I, [1988]
Edition/Format: Book : Conference publication : Indonesian

Genre/Form: Exhibition catalogs
History
Exhibitions
Additional Physical Format: Online version:
International Cartoon Festival (1st : 1988 : Semarang, Indonesia)
Canda Laga Mancanegara I.
[Semarang] : LHI, [1988]
(OCoLC)597734716
Document Type: Book
All Authors / Contributors: Lembaga Humor Indonesia.; et al
OCLC Number: 22863379
Notes: English and Indonesian.
Description: 181 p. : chiefly ill. (some col.) ; 15 x 22 cm.
Other Titles: International Cartoon Festival.
Responsibility: penyelenggara, Lembaga Humor Indonesia (LHI) … [et al.].

Festival Kartun Internasional, Pertama di Asia Tenggara

http://darmintopapers.blogspot.com/2012/06/melebarkan-sayap-pergaulan-budaya.html

CANDA Laga Mancanegara, adalah sebuah kegiatan festival kartun internasional. Nama ini diambil dengan pertimbangan sejumlah unsur kelompok humoris yang melibatkan diri sebagai penyelenggara. Oleh karena itu Canda Laga Mancanegara, tidak dimaksudkan sebagai pertandingan lucu (kartun) yang diikuti hanya oleh para peserta luar negeri. Dalam kaitan ini penyelenggara yang sesungguhnya merupakan afiliasi sejumlah kelompok humoris, yakni: Lembaga Humor Indonesia (LHI), PERTAMOR (Perhimpunan Pecinta Humor), SECAC (Semarang Cartoon Club), dan KOKKANG (Kelompok Kartunis Kaliwungu), lebih berkeyakinan bahwa nama Canda Laga Mancanegara itu layak untuk dipakai guna memberi tekanan arti antarnegara, atau antarbangsa. Di dalam kamus WJS Poerwodarminto pun ada panduan logika mengenai makna manca yang berarti berbagai. Seperti misalnya: mancawarna yang artinya berbagai warna. Bila mancanegara mengambil titik tolak logika berbahasa itu, rasanya bukan sesuatu yang terlalu menyimpang.

Untuk apa kegiatan itu? Menjawab pertanyaan di atas, ada tiga point jawaban yang juga dimaksudkan sebagai nacang-ancang, bahwa kegiatan tersebut bertolak dari konsep: menggalang persahabatan dan perdamaian dunia lewat seni kartun; meningkatkan kebudayaan dan kepariwisataan di Indonesia; dan ketiga meningkatkan cakrawala pengetahuan dan daya nalar masyarakat lewat seni kartun/pers.

Esensi dari makna yang pertama:
Dari seni kartun, hendak menggapai persahabatan dan perdamaian dunia? Atau perdamaian dan persahabatan di dunia hendak digapai lewat seni kartun? Bukankah itu suatu hal yang berlebih-lebihan? Apa artinya sebuah kartun? Taruhlah sejuta kartun diletakkan di sekitar lokasi pertempuran, maka perang toh tetap akan meledak. Meriam akan berdentum, bedil akan memekik dan tank-tank akan menggilas habis segala yang merintangi jalannya. Tentu saja kita tidak akan berlarut-larut dalam pola pikir yang demikian naif.

Betapa pun, bukan hanya kartun, semua jenis kesenian akan sia-sia jika dihadapkan pada logika konyol semacam ini. Yang seringkali kita lupa barangkali, bahwa di balik tombol sebuah pangkalan perang yang sewaktu-waktu siap mengancam dunia, berdiri seorang atau dua orang manusia yang memiliki hati nurani. Yang memiliki rasa kemanusiaan, problem kemanusiaan. Ia juga bisa ketawa dan menangis. Ia bukan besi, bukan robot. Ia bisa terpengaruh jerit tangis seorang bayi. Ia juga bisa bahagia menyaksikan anaknya yang masih mungil bergegas menyambutnya sepulang dari kantor.

Begitu pun dengan rudal, bedil, atau apapun mesin tempur lainnya – di belakangnya tetap berdiri manusia – yang bisa terpengaruh oleh sentuhan-sentuhan kemanusiaan. Dan kartun paling tidak berpretensi hendak mencairkan ketegangan yang menggumpal. Barangkali di sana ada “bom” dendam yang sewaktu-waktu siap meledak – korban trauma kekejian dan kekejaman masa lalu. Kartun tidak ingin menawarkan agresivitas dan kebrutalan. Ia cuma mengajak manusia bermain-main dengan fantasi dan kecerdasannya.

Jadi secara sederhana, sasaran utama dari sebuah kartun adalah menyampaikan sisi-sisi aspek spiritual untuk masuk dalam benak penikmat. Bakal dibuang atau dirawat, itu terserah kepentingan dan kemampuan sang penikmatnya.

Meningkatkan kebudayaan dan kepariwisataan di Indonesia? Ini juga semboyan yang cukup logis. Kartun, betapapun juga sudah menjadi warga yang sah dari kesenian di Indonesia. Berarti juga warga yang sah pula dari kebudayaan Indonesia, ia perlu – bukan saja dilestarikan, tetapi juga dikembangkan. Dengan berkembangnya kartun di Indonesia, ia bisa mendatangkan sejumlah kemungkinan. Apalagi bila kartun Indonesia juga diakui secara lebih luas (misal: internasional), maka ia juga bisa punya peran dari sekadar makna budaya an sich. Sebagaimana pernah diucapkan Menlu Mochtar Kusuma Atmadja, bahwa diplomasi kebudayaan sebagai tahapan dan sistem dari diplomasi Indonesia yang pada tahun-tahun pertama kemerdekaan terutama mempunyai tujuan-tujuan politik, kemudian sejak akhir enampuluhan dilengkapi dengan diplomasi yang terutama ditujukan pada sasaran ekonomi dan pembangunan dapat dikatakan merupakan urutan perkembangan diplomasi Indonesia yang cukup wajar.

Lebih lanjut dikatakan oleh Menlu Mochtar, bahwa diplomasi kebudayaan pada prinsipnya mempunyai tujuan utama membangun citra Indonesia di luar negeri. Untuk itulah perlu dipikirkan diplomasi yang dilakukan oleh Indonesia itu ditambah dengan dimensi seni budaya atau kebudayaan.
Mengacu dari pandangan di atas, Canda Laga Mancanegara, diamksudkan sebagai upaya kecil pembangunan citra negeri ini bagi bangsa-bangsa lain. Jelas akan sangat tak ada artinya bila dibandingkan dengan program pemerintah ketika menyelenggarakan Pameran Seni Budaya 1990-1991, yang merupakan titik fokus penting dalam realisasi program diplomasi kebudayaan di forum internasional.

Hasil lain yang bisa diperoleh, dengan adanya Canda Laga Mancanegara, adalah kemungkinan bagi kartunis maupun penikmat Indonesia untuk menyimak lebih jauh sudah sampai di mana pencapaian mutu kartun dunia. Ini termasuk strategi yang cukup efektif, bila dibanding dengan mengharuskan diri berpusing-pising keliling dunia – tak semua kartunis mampu – dan tak semua penikmat mampu.

Mungkin strategi ini baru menyentuh satu aspek kecil dari harapan muluk yang dipancangkan, namun ia cukup memberi arti bagi “perjalanan” apresiasi para kartunis para pengamat dan penikmat kartun Indonesia tentang fenomena kartun yang terjadi di berbagai belahan dunia lainnya.

Mengenai dampak positif di sektor kepariwisataan, itu pun juga masalah yang cukup jelas. Penyelenggara telah menghubungi tak kurang dari 300 kartunis seluruh dunia, dengan harapan, sepuluh persen saja yang peduli, sudah sangat membanggakan bagi penyelenggara. Mereka bakal ikut serta dalam festival tersebut atau tidak itu masalah lain. Tetapi inventarisasi informasi itu bisa jadi akan berkembang, dengan demikian merupakan modal yang cukup berharga bagi Indonesia, khususnya bagi sektor kepariwisataan.

Kartun dan pengetahuan bagaikan ikan dengan air. Kartun tak akan hidup tanpa pengetahuan. Ia hidup sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Kartun di sisi lain adalah gambaran ilmu pengetahuan itu sendiri. Memang kartun menggarap sisi-sisi universal dari perangai manusia, tetapi perangkat manusia yang bernama pengetahuan dan teknologi akan selalu berubah, di situlah kartun menyesuaikan diri.

Mengolah kartun dengan tema-tema usang tanpa disertai keunikan pendekatannya, bakal ditinggalkan para penikmatnya. Kartunnya dianggap basi, sang kartunisnya disebut “kurang piknik”, miskin bacaan, miskin pengetahuan dan sebagainya.
Kartun yang lahir ke dunia, sesungguhnya menyiratkan kualitas pembuatnya.. Apakah itu menyangkut penguasaan masalah, teknis pembuatan, gagasan yang ingin disampaikan maupun kandungan humor yang ada di dalamnya. Dengan teori ini, maka tak diragukan bahwa di dalam seni kartun kita juga berhapan dengan ilmu pengetahuan dalam pengertian yang seluas-luasnya.

Kartun juga bisa merangsang daya nalar. Kemampuan berdaya nalar tajam juga diharapkan dalam menyimak hubungan antara kartun dan pers (ibu kandung kartun). Dengan harapan agar tak terjadi “keborosan” interpretasi sehingga bisa merugikan nilai-nilai yang layak diserap oleh khalayak.

Hubungan pers dan kartun, bagaikan hubungan ibu dan anak, dalam makna otorita, karena itu logis bila kartun cenderung tunduk pada alasan-alasan redaksional. Dalam makna ekspresi keduanya merupakan rangkaian yang sinergis. Bila salah satu dinonaktifkan bisa memunculkan kesan kurang semarak.

Kendati pun demikian, bila tak ada pers, kartun toh tetap saja dapat mandiri. Hanya saja, sebagai warga dari seni grafis, ketergantungannya kepada “media” (koran, majalah, buku, film, pameran, dst.) seperti tak bisa ditawar-tawar lagi. Kartun memang berlucu-lucu, tapi ia bisa juga menawarkan yang lebih dari itu. Masalahnya adalah “siapa” yang ada di baliknya dan “siapa” yang menjadi penikmatnya. Itu saja!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Copyrights 2019 | IHIK