Institut Humor Indonesia Kini (IHIK)

Kajian Humor Indonesia dan Mancanegara

Stand up Comedy

jitet stand up

Stand up ComedyBukan Sekadar Komedi

Oleh Dr. Maman Lesmana (FIB-UI)

Pendahuluan

Jika dilihat dari aspek sejarahnya, stand-up comedy merupakan sebuah konsep yang relatif baru. Istilah itu sendiri baru ada di Amerika pada pertengahan abad 20. Pada akhir tahun 1950-an, muncul komedian baru, seperti Mort Sahl, Shelley Berman, Dick Gregory, dan Lenny Bruce yang memperkernalkan kepada audiens Amerika pada sebuah bentuk hiburan oratorikal unik yang menarik dan provokatif.  Munculnya stand-up sebagai bentuk berarti munculnya jenis baru dari retorika populer. Komedian stand-up bukan hanya pelawak seperti para pendahulunya, tetapi juga seorang orator lucu (Meier, 2016).

Dalam Brodie (2014) disebutkan bahwa stand up comedy adalah sebuah bentuk pertunjukan wicara (tutur kata), yang tujuannya adalah untuk menghibur orang. Caranya adalah dengan membuat  permainan kata atau menggunakan humor, agar orang jadi tertawa. Bentuknya hampir sama dengan orang yang sedang bicara santai. Bedanya, kalau di stand up comedy, antara yang tampil dan pendengar ada jaraknya, yang tampil berada di panggung sementara yang mendengarkan tidak; yang tampil berada pada satu kelompok kategori sosial, dan yang mendengar berada pada kelompok yang lain.

Sementara itu, Murray (2015)  mengatakan bahwa stand up comedy merupakan media yang sangat terbuka,  hanya antara komedian dan audiens. Seorang komedian tidak membawa naskah, instruktur atau sesama aktor yang akan memberi tanda jika ada kesalahan pada dirinya. Ia hanya sendirian di depan orang banyak. Tidak ada pembatas antara komedian dan orang banyak. Hubungan komedian hanya dengan pendengar. Komedian itu pengarang, instruktur dan sekaligus aktor. Kalau audiens tidak menyukainya, tidak ada orang lain yang disalahkan. Tapi, jika mereka menyukainya, semua pujian akan tertuju kepadanya. Kalau ia dapat membuat pendengar tertawa, maka ia akan mendapat banyak tawaran dan ia mulai dapat membangun reputasinya. Tidak ada bos yang menyuruhnya bekerja lebih keras atau menegur ketika gagal mendapatkan target bulanan. Tidak ada agensi yang mensyaratkan kalau dia harus berbadan tinggi atau pendek, tua atau gemuk. Sangat sulit untuk percaya, jika ada kritikus yang mengatakan bahwa dia tidak bagus, ketika semua audiens tertawa. Namun, ada beberapa hal yang harus ditekuni oleh komedian dalam meniti kariernya, yaitu harus menjaga penampilan agar lebih baik lagi dan harus mempunyai ide-ide baru. Jika demikian, orang akan terus menawarkan pekerjaan menguntungkan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.

Sementara, Stephani Koziski berpendapat bahwa fungsi  stand-up comedy adalah sebagai  kritik budaya yang membangkitkan sensibilitas para audiens dan mengungkap apa-apa yang terpendam dari budaya mereka. Jadi, menurutnya, seorang komedian stand-up haruslah seperti seorang antropolog atau kaum intelektual yang menekuni karakteristik budaya publik. Maka dari itu, banyak peneliti yang memfokuskan penelitian tidak hanya dari aspek lucunya, tapi juga dari ciri retorik pada penampilan stand-up comedy dan kecenderungannya terhadap kritik kultural. (Meier, 2016).

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ternyata, fungsi stand-up comedy itu bukan hanya untuk menghibur, tapi juga sebagai sarana untuk menyampaikan kritik terhadap keadaan sosial budaya pada suatu masyarakat.

Penelitian tentang “Stand-up Comedy”

Untuk menjawab pertanyaan di atas, ada baiknya kita amati beberapa penelitian yang pernah dilakukan menyangkut masalah stand up comedy. Di antaranya yang dilakukan oleh  Fabiola Scarpetta  and  Anna Spagnolli (2009) . Dalam penelitiannya, mereka membahas tentang empat pertunjukan yang dilakukan oleh para komedian stand-up Afrika Amerika di Los Angeles di depan para penonton kulit hitam dan kulit putih. Yang dianalisis adalah tentang cerita dan lelucon yang terdapat di dalamnya; dengan mencari aspek-aspek apa saja yang membuat lelucon itu mudah diterima dan menemukan perbedaan antara para penonton kulit hitam dan kulit putih, serta punch line yang terdapat di dalam cerita tersebut. Selain membahas hal tersebut, masalah lain yang diteliti adalah hal yang berhubungan dengan penonton, seperti keterlibatan penonton dan lelucon apa yang menarik bagi mereka. Akhirnya, ditemukan bahwa bahasa sehari-hari merupakan hal yang penting dalam melakukan stand-up comedy di atas panggung, karena dengan memahami bahasanya, dapat dengan mudah ditemukan punchline yang membuat penonton menjadi terhibur, meskipun topik yang ditampilkan sangat sensitif, seperti  masalah seks dan ras.

Sementara itu, Lockyer (2011) melakukan penelitian tentang stand-up comedy dari perspektif audiens. Menurutnya penelitian seperti ini masih langka. Karena itu, untuk memperbanyak penelitian tersebut, ia meneliti tentang daya tarik stand-up comedy dari perspektif  penonton, dengan mengungkapkan motivasi kehadiran mereka dalam melihat acara tersebut  secara langsung. Penelitian ini dilakukan melalui survei online dan serangkaian wawancara semi-terstruktur dengan penonton stand-up comedy secara langsung. Survei online dilakukan untuk mencari data tentang frekuensi kehadiran orang dalam menonton stand-up comedy  secara langsung,  jenis (tempat) pertunjukan stand-up comedy, yang lebih disukai pemirsa, dan bersama siapa pemirsa tersebut hadir: sendiri atau ditemani oleh yang lain; dan jika demikian, dengan siapa mereka hadir. Sementara, wawancara semi-terstruktur satu per satu dilakukan untuk menganalisis alasan spesifik mengapa penonton menghadiri stand-up comedy secara langsung. Dari data wawancara semi-terstruktur tersebut ditemukan bahwa ada lima alasan yang muncul, yaitu untuk menghormati pelawak stand-up comedy, mengharapkan sesuatu yang tak terduga; mempererat  kedekatan dan keintiman dengan audiens lain; mencari peluang untuk berinteraksi; dan berbagi pengalaman lucu. Artikel ini mengilustrasikan cara-cara berbeda di mana audiens terlibat dengan stand-up comedy secara langsung, baik secara umum maupun khusus.

Penelitian yang lain dilakukan oleh Boaventura (2014). Penelitian ini membahas sebuah pendekatan antara sastra dan stand-up comedy. Tujuannya adalah untuk menyelidiki jejak-jejak defamiliarisasi dari ucapan yang terdapat dalam stand-up comedy, gaya tulisannya dan kualitas dari penulisnya, dengan cara menganalisis teks genre tersebut, mengidentifikasi gayanya dan perannya dalam mise-en-scène (pengaturan dekorasi panggung). Teori yang digunakan dalam penelitiannya adalah teori Bakhtin (1997; 2012), Charaudeau (2008; 2010a; 2010b), Maingueneau (2008; 2012) dan Proença Filho (2005) tentang gaya dan perilaku etis (philosophy of responsible act). Penelitian mereka bersifat deskriptif dan kepustakaan dengan pendekatan kualitatif. Korpus penelitian diambil dari kutipan teks komedian Amerika, Jerry Seinfeld dan Mitch Hedberg. Dalam analisis tersebut, ditemukan tentang adanya kemampuan mengeksplorasi yang luar biasa dalam memainkan kata-kata, adanya gaya khas penulis yang mengesankan, serta adanya ikatan yang cukup kuat untuk mengidentifikasi stand-up comedy sebagai varian dari sastra.

Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Filani (2015). Fokus utama dari penelitiannya adalah menerapkan teori tentang jenis wacana ke dalam stand-up comedy. Untuk mencapai hal tersebut, ia menggunakan dua konteks dalam cerita lucu stand-up, yaitu  konteks lelucon dan konteks dalam lelucon. Yang dibahas dalam konteks lelucon, adalah komedian stand-up dan audiensnya; sementara konteks dalam lelucon, yang dibahas adalah ceritanya yang terdiri dari kata-kata lucu, tokoh dalam lelucon dan aktivitas/situasi dalam lelucon. Dalam praktiknya, konteks  lelucon berinteraksi dengan konteks dalam lelucon dan sebaliknya. Untuk tujuan analitis, studi ini mengambil data dari  para komedian stand-up pria dan wanita Nigeria. Analisis menunjukkan bahwa para komedian stand-up menggunakan jenis-jenis wacana dalam penampilannya, agar terjadi komunikasi antara mereka dengan audiensnya.

Penutup

Menjawab pertanyaan di atas, berdasarkan pendapat dan penelitian para pakar tentang stand up comedy, dapat dikatakan bahwa selain menampilkan yang lucu, seorang komedian stand up juga harus memiliki ilmu retorika dan pengetahuan tentang budaya yang memadai. Seperti yang dikatakan oleh Double (2013:19) bahwa selain lucu, ada beberapa unsur lain yang harus diperhatikan dalam stand up comedy. Pertama adalah personality, yaitu sesuatu yang digunakan seseorang dalam penampilannya di depan audiens, apakah karakternya berlebih-lebihan atau sesuai dengan karakter yang dimilikinya. Kemudian, direct communication, yaitu komunikasi langsung antara komedian dengan para audiens. Hubungan dua arah yang intens antara panggung dan auditorium, seperti sebuah percakapan yang berupa candaan dan tawa yang kadang-kadang direspon tidak menyenangkan.

Mengenai aspek retorika dan budaya yang harus dimiliki oleh seorang komedian dalam stand up comedy, Greenbaum (1999) mengatakan bahwa stand-up comedy adalah sebuah bentuk argument retoris di mana komedian membangun ethos (kredibilitas) dengan menciptakan personae (karakter atau suara) lucu, sambil melakukan kairos (pemilihan waktu) untuk memastikan dampak maksimum dari punch line-nya. (Meier, 2016).  Dari contoh-contoh lama yang diambil pada abad 18, berdasarkan bentuknya, humor dibagi menjadi tiga. Pertama adalah plot-based humor, yaitu humor yang di dalamnya terdapat alur cerita, seperti anekdot-anekdot pendek yang meniru perilaku orang di masyarakat. Humor ini berbeda dengan pun, parodi dan tipe-tipe lain dari humor yang tidak mempunyai plot. Kedua adalah comic rhetoric, yang genre dan tempatnya beragam. Stand-up comedy tidak hanya mempunyai sejarahnya sendiri, tradisi, kiasan dalam setiap budaya yang memproduksi dan mendukungnya, tapi juga meminjam dan menggunakan bentuk humor lain dan menampilkan tradisi-tradisi di mana pun berada. Ketiga adalah kairo, yaitu sebuah retorika yang terikat pada realita sosial, humor yang berdasarkan plot yang selalu berbicara pada waktu, tempat, audiens dan konteks yang khusus (Meier, 2016).

References

Brodie, Ian, 2014, A Vulgar Art: A New Approach to Stand-Up Comedy, USA: University Press of  Mississippi

Boaventura, Luis Henrique and Ernani Cesar de Freitas, “Style as a Bonding Element between Stand-up Comedy and Literature” in Intercom – RBCC, São Paulo, Vol.37, No.2, p. 223-239, July/December, 2014

Double, Oliver, 2013, Getting the Joke: The Inner Workings of Stand-Up Comedy, London: Bloomsbury

Filani, Ibukun, “Discourse types in stand-up comedy performances: an example of Nigerian Stand-up  Comedy” in European Journal of Humour Research 3 (1), pp. 41–60 www.europeanjournalofhumour.org, http://dx.doi.org/10.7592/EJHR2015.3.1.filani

Lockyer , Sharon and Lynn Myers. “‘It’s About Expecting the Unexpected’: Live Stand-up Comedy from the Audiences’ Perspective” in Participations, Jurnal of Audience and Reception Studies, Volume 8, Issue 2, November 2011, pp.165-188

Meier, Matthew R. and Casey R. Schmitt, 2016, Standing Up, Speaking Out: Stand-Up Comedy and the Rhetoric of Social Change, Routledge

Murray, Logan, 2015, Get Started in Stand-Up Comedy, UK: Hachette

Scarpetta, Fabiola  & Anna Spagnolli , “The Interactional Context of Humor in Stand-Up Comedy” in Journal Research on Language and Social Interaction Volume 42, 17 Aug  2009 – Issue 3 pp. 210-230

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 12 Juli 2018 by in Home, Stand Up Comedy and tagged .

Navigasi

%d blogger menyukai ini: