Institut Humor Indonesia Kini (IHIK)

Kajian Humor Indonesia dan Mancanegara

Black Humor

jitet tk bohong

Black Humor: Tak Sehitam yang Dibayangkan

By Dr. Maman Lesmana (FIB-UI)

Pendahuluan

Pada tahun 1993, Allan R, Pratt mengeditori sejumlah esai, yang kemudian diberi judul Black Humor: Critical Essays. Membaca judul ini, kita sudah dapat menebak bahwa buku ini berisi kumpulan esai yang membicarakan tentang tema yang sama, yaitu black humor. Meskipun pada awalnya para pembaca belum paham dengan apa yang dimaksud dengan istilah black humor,  tapi mereka yakin bahwa dengan membaca esai-esai yang ada di dalamnya, mereka pasti akan tahu tentang apa yang dimaksud dengan istilah tersebut.

Beberapa tahun kemudian, pada tahun 1997, Andre Breton menerbitkan sebuah buku berjudul: Anthology of Black Humor. Membaca judul buku tersebut, para pembaca juga pasti tahu bahwa sesuai dengan namanya antologi, buku itu pasti berisi kumpulan humor, meskipun mereka belum paham apa isi dari yang disebut dengan black humor.

Kemudian, pada tahun 2005,  J. Lewis Osler, juga menerbitkan sebuah buku yang berjudul Black Humor. Pada sampul buku tersebut diberi keterangan bahwa buku tersebut adalah sebuah novel, atau lebih tepatnya adalah sebuah medical novel, genre yang sangat berbeda dengan genre-genre novel sebelumnya, seperti phsycological novel atau historical novel.

Dari ketiga jenis buku di atas, semuanya menggunakan judul black humor. Lalu, apakah sebenarnya yang dimaksud dengan istilah black humor? Di Indonesia, sedikitnya ada dua kata populer yang menggunakan kata black, yaitu black-list (daftar hitam) dan black campaign (kampanye hitam). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud dengan frase daftar hitam adalah daftar nama orang atau organisasi yang dianggap membahayakan keamanan atau daftar nama orang yang pernah dihukum karena melakukan kejahatan dan yang dimaksud dengan kampanye hitam adalah sebuah upaya untuk merusak atau mempertanyakan reputasi seseorang, dengan mengeluarkan propaganda negatif. Hal ini dapat diterapkan kepada perorangan atau kelompok.Target-target umumnya adalah para pejabat publik, politikus, kandidat politisi, aktivis dan mantan pejabat (https://kbbi.web.id/).

Menurut Pengamat politik dari Universitas Indonesia, AgungSuprio, kampanye hitam biasanya hanya tuduhan yang tidak berdasarkan pada fakta dan merupakan fitnah dan cenderung merusak demokrasi  (http://www.tribunnews.com). Lalu, apakah arti dari kata black pada black humor sama dengan kata black pada black list atau black campaign? Apakah frase black humor juga akan diterjemahkan menjadi humor hitam? Sebuah istilah yang tidak popular dan janggal di telinga orang Indonesia.

Beberapa Pengertian

Black humor atau grotesque humor mempunyai sejarah yang panjang, mulai dari satir-satir Romawi danYunani Kuno, drama-drama misteri Eropa abad Pertengahan, tukang-tukang pamlet di Inggris pada abad kedelapan belas sampai pada stand-up komedi politik sekarang (Rishel, 2002: 172). Meskipun istilah ini baru, tapi sebenarnya sudah ada sejak lama dan muncul hampir di semua kebudayaan. Black humor memang lebih mudah digambarkan daripada didefinisikan  (Feinberg, 1978: 154). Sudah cukup lama, tak seorang pun dapat mendefinisikan black humor yang benar-benar tepat untuk memuaskan orang lain.

Ada beberapa kritikus belum setuju dengan istilah tersebut (Weienburger, 1995: 82). Meskipun belum ada kesepakatan tentang definisi black humor,  sebagian besar pembaca mempunyai pendapat tentang apa arti istilah tersebut (Feinberg, 1978: 154).

Penelitian tentang black humor yang sudah lebih dari lima puluh tahun berpendapat bahwa fungsi dari black humor adalah untuk mengungkapkan ketidakpuasan terhadap kaum mayoritas secara simultan dan paradoks. Setiap lelucon yang berasal dari  kaum minoritas muncul dari perspektif sinis dan sarkastis tentang topik yang tabu; seperti tentang kematian, korban ejekan atau penderitaan (Mc.Ghee, 1983).

Beberapa kritikus mengatakan bahwa black humor adalah istilah yang menunjuk pada sebuah “genre” yang sudah lama berkembang, tapi yang lain menyebutnya  sebagai “model” atau “teknik”,  bukan “bentuk”.  Sementara, para peneliti yang berhati-hati, mengartikannya sebagai “suatu sensibilitas atau nada”. Scholes yang ingin menggabung semua pendapat tersebut mengatakan bahwa black humor adalah “salah satu jenis, model, genre, bentuk dari sastra” (Weienburger, 1995: 82). Ada kritikus yang mengatakan bahwa black humor itu lebih banyak berbentuk satir (Weienburger, 1995: 87)  dan yang mengatakan bahw ablack humor memberlakukan kehidupan sebagai candaan (Weienburger 1995: 89).

Black humor merupakan campuran antara kepahitan, kesedihan, atau  rasa jijik dengan hiburan  (Feinberg, 1978: 154). Pada umumnya,  para ahli berpendapat bahwa black humor dianggap “melanggar” norma sosial Colleta (2003), memandangnya sebagai sebuah humor yang tidak menawarkan perbaikan atau alternative lain, kecuali tawa (Nilsen, 2000), juga menempatkan black humor sebagai humor yang tidak menawarkan perbaikan, tapi hanya mengangkat dunia sebagai sesuatu yang absurd, bukan ejekan yang mempunyai konotasi negatif  (Cross, 2011). Black humor ditempatkan sebagai penolakan pada semua yang ortodoks, naratif, social dan metafisis, tetapi black humor berharap ada fungsi atau hasil yang positif (Shaffer, 1988: 147). Sigmund Freud menggambarkan black humor sebagai sebuah keberhasilan dari ego yang tidak gentar dengan keadaan yang tidakcocokdan memberinya keadaan yang agung dan tinggi. Black humor menolak emosi–emosi negatif yang menguasai keadaan di mana ia muncul (Allen, 2007:59).

Black humor ditandai dengan peristiwa lucu yang mengerikan, ironi atau aneh  yang mengejek kebodohan orang (Merriam Webster, 1995:144). Setiap tawa dalam black humor timbul dari perspektif sinis dan  sarkastis dari pembuat humor tentang topik yang tabu, seperti kematian dan korban ejekan dan penderitaan. Efek dari black humor adalah untuk menghasilkan tawa dan kegelisahan secara bersama (Franzini, 2012:174). Vonnegut  berpendapat bahwa black humor menggambarkan tawa orang-orang ketika mereka putus asa dalam pergumulan politik. Mereka itu adalah orang-orang tidak punya kekuatan dan pengaruh.

Black humor adalah satu-satunya jalan bagi mereka untuk menghadapi frustrasi. Black humor adalah salah satu jenis humor yang tidak berarti, tapi bagi  orang yang bijak merupakan tekanan. (Du, 2013:782). Black humor bukanlah humor etnik seperti yang orang kira. Black humor, yang juga disebut gallows humor didasari atas ketakutan pada kematian. Kematian adalah hal yang sangat ditakuti oleh manusia.  Salah satu cara untuk menghilangkan rasa takut dan berusaha untuk menjadi lebih senang dengan humor tersebut, walau hanya sesaat (Seeward, 2014: 280).

Penutup

Demikianlah beberapa definisi tentang black humor. Melalui metode analisis komponensial Kempson dalam Wahab (1995) yang mengatakan bahwa kosa kata suatu bahasa bukanlah merupakan kumpulan kata yang tak berhubungan (Lesmana, 2010:130), dapat diungkapkan bahwa yang dimaksud dengan kata black di sini adalah berhubungan dengan kata-kata yang disebut dalam definisi di atas, seperti:sinisme, sarkastis, tabu, kematian, ejekan, penderitaan, satir, kepahitan, kesedihan, rasa jijik, absurd, mengerikan, ironi, aneh, kebodohan, kegelisahan, putus asa, frustrasi, anarkisme, ketakutan, anarkis dan horor. Jadi, intinya yang dimaksud dengan black humor adalah humor yang dilakukan dalam keadaan seperti di atas.

Berkenaan dengan adanya novel yang menggunakan judul seperti itu, hal itu disebabkan oleh adanya beberapa referensi yang menyebutkan bahwa black humor itu banyak terdapat di dunia sastra, seperti yang dikatakan oleh Smith bahwa black humor adalah teknik sastra yang bertujuan membuat orang agar tidak menangis. Humor ini ditemukan dalam penderitaan, keputusasaan atau ketakutan (1997:69). Sastra black humor seringkali menggambarkan kejadian-kejadian yang mengerikan, orang-orang yang tidak bahagia, dan anarkisme. Dalam menampilkan tokoh, black humor melepaskan diri dari tradisi realistik yang menempatkan tokoh dalam latar sosialnya dan dari modernisme, tapi lebih menekankan pada penyelidikan terhadap kejiwaan (Franzini, 2012:38).

Sastra black humor mirip dengan sastra eksistensialisme, yaitu dimulai dengan asumsi yang sama – bahwa dunia tidak masuk akal. Demikianlah Alan R. Pratt mendefinisikan istilah tersebut dalam pendahuluan buku kumpulan artikel yang dieditnya, Black Humor: Critical Essays. Dia kemudian mengilustrasikan definisinya dengan mengambil sebuah paragraph dariJean-Paul Sartre. Para penulis postmodern, terutama Thomas Pynchon, adalah salah satu praktisi terbaik dari sastra black humor.Dalam buku tersebut, Pratt juga menggunakan sejumlah nama lain dari black humor, di antaranya adalah apocalyptic comedy, dark comedy, pathological comedy, nihilistic humor, tragic farce,dan comedy of the absurd (Early, 2010:37).

Referensi

Allen,  Richard, 2007, Hitchcock’s Romanrics Irony, New York: Columbia University Press

Cross, Julie, 2011, Humor in Contemporary Junior Literarure, New York: Routledge

Du, Wenjiang (ed),2013,  Informatics and Management Science IV, London: Springer Verlag

Early, Gerald, Glenda Carpio, and Werner Sollors, Black Humor: Reflections on an American Tradition, Bulletin of the American Academy, Summer 2010,p. 37

Feinberg,  Leonard , 1978, The Secret of Humor, Amsterdam, Rodopi N.V.

Franzini, Louis, R. 2012, Just Kidding, Using Humor Effectively.  New York: Rowman and Littlefield Publishers Inc

Lesmana, Maman, 2010, Kritik Sastra Arab dan Islam,Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Mc Ghee, Paul  E. and Jeffrey  H. Goldstein, 1983, Handbook of Humor Reseach, Vol.1, Basic Issues, New York:  Springer-Verlag

Merriam-Webster (1995), Encyclopedia of Literature, Philippines: Merriam Webster- Incorporated

Rishel, Mary Ann, 2002, Writing Humor: Creativity and The Comic Mind, Detroit: Wayne State University Press

Seeward, Brian Luke, 2012, Managing Stress: Principles and Strategies for Health and Well Being, Burlington:  Jones  and Bartlett Learning

Shaffer, E.S., (ed),  1988, Comparative Criticism, An Annual Journal , Vol.10,  New York:L Cambridge University Press

Smith, Dennis Stanton, 1997, Vonnegut’s Slaughterhouse-Five, New York: Hungry Minds Inc.

Weienburger, Steven 1995,  Fables of Subversion , Satire and  The American Novel, 1930-1980, Athens & London:  The University of Georgia Press

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 9 Juli 2018 by in Home and tagged .
%d blogger menyukai ini: