Institut Humor Indonesia Kini (IHIK)

Kajian Humor Indonesia dan Mancanegara

Main Api dengan Humor Seksual

jitet sex leceh

Main Api dengan Humor Seksual

 One can know a man from his laugh.” – Fyodor Dostoyevsky

Konklusi Schnurr (2009) dari sejumlah riset yang ia kutip tak berlebihan. Ia terang-terangan menyebut bahwa humor mempunyai asosiasi yang sangat erat dengan maskulinitas. Salah satunya, selera humor laki-laki dianggap lebih tinggi daripada perempuan, karena kaum hawa dipandang gampang tersinggung atas gurauan lawan jenisnya. Franzini (2012) menegaskan argumentasi tersebut lewat pendefinisian selera humor (sense of humor) yang ia kemukakan, yakni sebagai “kecenderungan dan kapasitas seseorang untuk terhibur dan menghibur orang lain” (Franzini, 2012, h.28).

Definisi ini pada akhirnya memunculkan dua kubu yang berseberangan dan berbeda level (kata Franzini, seseorang harus menjadi penikmat dulu sebelum menjadi inisiator), yaitu inisiator humor (humor initiator) dan penikmat humor (humor appreciator). Ia lantas melanjutkan dengan mengutip riset dari seorang psikolog bernama Eric Bressler dan rekan-rekannya yang menyebutkan bahwa perempuan lebih menyukai pria yang humoris, dalam kata lain sebagai inisiator humor. Sebaliknya, pria cenderung mencari perempuan yang berposisi sebagai penikmat atas humor-humornya.

Namun, temuan di atas akan keliru kalau dimaknai pria mempunyai hak untuk bersikap diskriminatif atau merendahkan perempuan di kehidupan sehari-hari lewat humornya. Barangkali Anda pernah tahu atau mengalami sendiri, tak jarang humor dijadikan tameng atas perilaku pelecehan seksual di situasi atau momen tertentu hingga relasi antara inisiator ke penikmatnya (seperti atasan ke bawahan di kantor) yang tidak pas. Alasan semacam “ini cuma humor, kok” pun acap difungsikan untuk melawan ketersinggungan lawan bicara. Parahnya, insan dari kelompok komedian terkadang turut berperan mendegradasikan makna humor lewat karsa dan karya asal (Suprana, 2013). Ya, seringkali, humor bernuansa pelecehan masuk ke klasifikasi failed humor atau humor yang gagal, karena inisiatornya mencoba untuk melucu tetapi tak berhasil mendapat tawa karena bermacam-macam alasan.

Dari penjelasan Franzini (2012), tidak memperoleh respons tawa dari failed humor berbau seksualitas hanyalah dampak kecil. Jangankan “rakyat jelata”, komedian profesional saja banyak yang terpeleset oleh humornya sendiri, sebut saja James Corden yang malah membuat para korban pelecehan seksual Harvey Weinstein tersinggung saat ia melempar joke tentang kasus tersebut di amfAR Gala 2017 lalu atau Daniel Tosh yang dirundung warganet setelah joke-nya tentang pemerkosaan yang dipandang sebagai provokasi untuk melakukan tindakan asusila tersebut kepada seorang penonton yang meng-hackling-nya dimuat di sebuah blog post dan viral tahun 2012. Pemikiran Legman (1968), yang berlandaskan pada penjabaran Sigmund Freud di Jokes and Their Relation to the Unconscious, tak tanggung-tanggung menuding lelucon cabul yang ditujukan oleh seseorang ke lawan bicaranya sebagai pemerkosaan secara verbal (verbal rape).

Sebagai panduan paling sederhana untuk menghindari humor yang berpotensi sebagai sexual harassment, mungkin penjabaran Franzini (2012) berikut bisa dijadikan pegangan, baik bagi kaum adam maupun hawa. Memang, konteks yang disampaikan Franzini di dalam bukunya itu adalah di lingkungan kerja. Akan tetapi rasa-rasanya, tuntunannya dapat juga diterapkan di situasi lainnya ketika tabiat, kredibiltas, hingga posisi Anda dipertaruhkan secara sosial atau berada dalam pantauan orang lain; termasuk dalam ruang terbuka publik baik di dunia nyata maupun maya. Persepsi apresian, entah atas dasar ketidaktahuan atau faktor lain, sedikit banyak juga berpengaruh dalam menentukan apakah ia merasa dilecehkan atau tidak. Setidaknya, dengan menghindari contoh-contoh berikut, Anda bisa menyelamatkan diri Anda sendiri.

  1. Mengatakan candaan dan mengirimkan gambar atau tulisan berbau seksualitas atau ambigu yang berpotensi mengarah ke sana.
  2. Memberikan barang atau kado berbau seksual ke orang lain.
  3. Membercandakan urusan ranjang pribadi maupun orang lain.
  4. Membercandakan bagian tubuh, penampilan fisik, dan cara berpakaian orang lain, terlebih yang mengarah ke hal-hal seksual.
  5. (Serta membiasakan bersama) “menghukum” orang lain yang tidak memiliki selera humor ketika melontarkan lelucon seksual ke publik namun gagal mendapatkan respon positif.

Benar adanya bahwa penggunaan humor seperti di lingkungan kerja punya banyak manfaat, sebut saja mengurangi ketegangan dan stres, membangun toleransi, mengkritik dengan sopan, memotivasi orang lain, membuat lingkungan kerja jadi lebih nyaman, sampai jadi alat penyelesaian konflik (Sathyanarayana, 2007); namun, Schnurr (2009) tetap mengingatkan kalau humor juga sesuatu yang kompleks, ambigu, sekaligus berpotensi menimbulkan masalah dan mengancam profesionalitas. Terlebih ketika humor dikait-kaitkan dengan masalah seksual, kata Franzini (2012), yang kecenderungannya untuk gagal juga besar.

Lantas, apakah tidak ada tempat untuk guyonan cabul? Jaya Suprana, sang humorolog Indonesia, meyakini kalau lelucon bertemakan seks termasuk joke yang bermanfaat. Pasalnya, humor dapat membantu menyingkap tirai pembungkus seks yang bagi sebagian orang dinafikan (Suprana, 2013). Kuipers (2015) pun mengamininya. Di tengah masyarakat yang diobservasinya, berkat humor, seks walaupun masih tabu tetapi kini sudah menjadi topik yang bisa diperbincangkan. Humor seksual sendiri masih tetap lucu dan digemari seperti puluhan tahun lalu, tetapi kadar tabunya mulai berkurang.

Kendati demikian, pengklasifikasian humor seksual oleh Allan dan Burridge (2006) sebagai humor tabu dari segi bahasa perlu digarisbawahi dan dipahami bersama. Dalam kata lain, secara konteks, humor seksual sejatinya bukan makanan haram. Namun, pengantar menuju konteks tersebut selayaknya tak membuat pendengarnya muak duluan sebelum makanan itu “dihidangkan” di hadapannya.

Legman (1968) mencatatkan satu momen pengecualian ketika humor seksual dianggap oke, yaitu ketika guyonan cabul itu bersifat “cerdas”. “Cerdas” yang dimaksud di sini adalah ketika si inisiator humor mampu menyembunyikan kata-kata yang dianggap tabu di suatu kultur atau menghindari visualisasi seksual yang berlebihan. Kendati tetap saja ada kans joke ini berujung gagal, setidaknya joke teller tersebut bisa terhindar dari titel pemerkosa verbal yang dijelaskan Legman sebelumnya.

Hemat penulis, simpan saja guyonan tersebut di obrolan privat dengan orang-orang terdekat yang pastinya tak akan menuntut ketika joke tersebut keluar dari mulut Anda. Selamat “bermain api” di momen, situasi, dan audience yang tepat!

Ulwan Fakhri Noviadhista. Penulis adalah peneliti Institut Humor Indonesia Kini (IHIK3).

Referensi:

Allan, K. & Burridge, K. (2006). Forbidden Words: Taboo and the Censoring of Language. Cambridge: Cambridge University Press.

Franzini, L. (2012). Just Kidding: Using Humor Effectively. Plymouth: Rowman & Littlefield Publishers, Inc.

Kuipers, G. (2015). Good Humor, Bad Taste: A Sociology of the Joke. Berlin & Boston: De Gruyter Mouton.

Legman, G. (1968). Rationale of the Dirty Joke: An Analysis of Sexual Humor. New York City: Grove Press.

Sathyanarayana, K. (2007). The Power of Humor at the Workplace. New Delhi: Response.

Schnurr, S. (2009). Leadership Discourse at Work: Interactions of Humour, Gender, and Workplace Culture. Basingstoke, New York: Palgrave Macmillan.

Suprana, J. (2013). Humorologi. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 4 Juli 2018 by in Home and tagged .
%d blogger menyukai ini: