Institut Humor Indonesia Kini (IHIK)

Kajian Humor Indonesia dan Mancanegara

Presiden Humoris, Tabu?

trump jitet

Presiden Humoris, Tabu?

“People buy from people they like, and people like humor.” – Segel & LaCroix

Di Indonesia, paradigma bahwa seorang pemimpin harus tegas dan selalu serius masih banyak penganutnya. Tak sedikit yang berpendapat kalau persona humoris orang nomor satu di negara ini ditonjolkan, bukannya diapresiasi, alih-alih justru disalahpahami sebagai pemimpin yang kurang berwibawa. Khususnya dalam eskalasi interest politik tahun-tahun terakhir ini (2014-2018). Dari pengamatan Darminto M. Sudarmo, pernah Presiden Joko Widodo berpidato dengan gelagat yang santai dan cukup lucu, tetapi sebagian warganet justru meledeknya (komunikasi personal, 21 Mei 2018). Sementara apresiasi untuk mantan presiden almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai satu dari sedikit kepala negara yang secara ajaib sanggup membuat Raja Fahd dari Arab Saudi tertawa sampai terlihat giginya; membuat mantan presiden Kuba, Fidel Castro, tertawa terbahak-bahak; dan menjadi rekan bercanda sepadan mantan presiden Amerika Serikat, Bill Clinton, sangat kecil sekali.

Sayangnya, di AS, realitas yang ada sangatlah berbeda. Dari sepengetahuan Darminto, di Indonesia belum ada staf atau konsultan humor di tim penulis naskah presiden sedari dulu (komunikasi personal, 21 Mei 2018). Namun di AS, Gedung Putih malah “memelihara” orang-orang lucu untuk menjalani profesi itu sejak berakhirnya era kepemimpinan Franklin Roosevelt tahun 1945 (Shaltz & Helitzer, 2016). Gaji mereka – yang berasal dari uang pajak itu – pun tak main-main.

Tahukah Anda, uang sebanyak US$500 (sekitar Rp7 jutaan dalam kurs sekarang) dibayarkan kepada seorang konsultan humor bernama Mark Katz hanya untuk menambahkan sejumlah lelucon one-liner di naskah pidato mantan presiden Bill Clinton dan wakilnya Al Gore? Bahkan untuk membuat sebuah naskah pidato humoristis (lucu), Katz bisa mengantongi sampai US$7.000 (setara Rp98,6 juta) saat itu (Segel & LaCroix, 2000). Katz sendiri merupakan mantan jurnalis yang kemudian masuk ke dunia politik sebagai orang “belakang layar”. Selain telah menulis dua buku – yang salah satunya tentang pengalamannya menjadi penulis humor di White House – serta esai-esai humor di Time Magazine, The New Yorker, dan The Washington Post, ia juga menjadi konsultan komunikasi humor untuk tokoh-tokoh papan atas bersama perusahaan yang didirikannya, The Soundbite Institute.

Selain Katz, faktanya masih banyak orang lucu lain di balik para presiden dan politisi AS. Landon Parvin pernah menulis naskah humor untuk Ronald Reagan dan George W. Bush. Ada juga John Schachter, yang menjadi humor writer untuk para politisi baik dari partai Republik maupun Demokrat (Lawrence, 2009). Presiden AS yang baru lengser, Barrack Obama, pun memiliki salah satu penulis spesialis humor di anggota tim penulis naskah pidatonya, yakni David Litt (Deb, 2017).

Humor, pada dasarnya, tidak untuk dipisahkan dari hal-hal yang serius, macam aktivitas bisnis bahkan pemerintahan. Sebagai bukti, delapan dari 10 responden dari survei yang diadakan oleh USA Today dan Gallup Poll justru menilai para calon presiden perlu atau sangat perlu memiliki selera humor yang baik (Lawrence, 2009). Setidaknya dengan humor, para pendengar bisa antusias mendengarkan pidato para kepala negara, tanpa merasa mengantuk dan bosan, misalnya. Terlebih ketika tujuan dari berpidato adalah memberikan informasi sampai mempersuasi, maka dari itu menjadi penting untuk menyampaikan pesan seefektif mungkin dan membuat audience mau mendengarkan hingga terpengaruh; humor bisa melancarkan misi tersebut. Sayangnya, kata Katz, humor masih menjadi “alat strategis yang sangat kurang dimanfaatkan” (Lawrence, 2009).

Mari kita lihat segelintir contoh penerapannya. Sebagai alat politis yang taktis, humor dapat membantu sang kepala negara untuk membela diri sekaligus menekel kabar bohong atau miring yang menerpanya. Di White House Correspondents Dinner tahun 2015, pergelaran yang dihadiri para publik figur serta jurnalis yang biasa meliput Gedung Putih, Barrack Obama berani menyindir 17 persen para pemilik suara di pemilu AS yang masih percaya dengan kabar burung kalau dirinya adalah seorang muslim (Levine, 2015). Sebuah cara yang “bersih” untuk membungkam haters, kalau kata anak zaman sekarang.

“Being president is never easy. I still have to fix a broken immigration system, issue veto threats, negotiate with Iran, all while finding time to pray five times a day.” – Barrack Obama

Bagi mayoritas presiden AS, humor bahkan sudah meresap di alat retorika mereka, karena humor mampu membantu menjinakkan kontroversi. Di acara yang sama tahun 2006, George W. Bush saat masih menjabat AS 1 malah tak segan untuk membawakan joke merendahkan diri sendiri (self-deprecating) demi meredakan tingginya tensi antara dia dan pers. Waktu itu, Bush berdiri di podium ditemani komedian dan aktor Steve Bridges yang mengimpersonasinya. Bush berperan sebagai “presiden normal” dengan perangai yang sopan dan ucapan diplomatis, sementara Bridges, si Bush KW, tampil 180 derajat berbeda dengan celetukan-celetukan “nakal” yang semestinya tidak pantas diucapkan oleh presiden pada situasi normal. Lihatlah ungkapan jenaka Bridges ini, yang mengacu pada ucapan Bush yang acap kontroversial.

The media really ticks me off, the way they try to embarass me by not editing what I say.” – Steve Bridges, impersonator George W. Bush

Bahkan, sekaku-kakunya karakter presiden pemenang pemilu AS 2016 lalu, Donald Trump, ia masih ada hasrat untuk membuat orang lain tertawa dengan humornya. Dalam pertemuan tahunan Gridiron Club Dinner bulan Maret lalu, Trump menunjukkan kalau selera humornya tak layak diremehkan dengan menjadikan menantu sekaligus penasihatnya, Jared Kushner; presiden Korea Utara, Kim Jong Un; sampai media besar macam CNN dan New York Times sebagai bahan candaan (Cole, 2018). Kendati sejumlah konsultan dan penulis humor mengkritik Trump yang tetap saja enggan meledek dirinya sendiri (Andrews, 2017), intensi Trump untuk mempertontonkan sisi humorisnya ini bisa jadi merupakan cara untuk “membeli” simpati oposisi dan orang-orang yang bukan pendukungnya. Masih ingat kriteria presiden idaman menurut survei dari USA Today dan Gallup Poll di atas, kan?

“It’s been a very tough year for CNN. They’ve lost a tremendous amount of credibility this year. And your best reporter, Steve Bannon. That guy leaked more than the Titanic.” – Donald Trump

Humor sejatinya bukan hanya alat untuk mereka yang ingin melawan penguasa; sebaliknya, penguasa bisa memanfaatkannya pula untuk mempertahankan argumennya sampai menjatuhkan para rivalnya (Partington & Taylor, 2018). Meningkatkan elektabilitas dan popularitas yang bersangkutan juga merupakan faedah humor yang masih jarang dieksplorasi oleh politisi di Indonesia. Lebih lanjut dijelaskan oleh Partington dan Taylor (2018), acara terbuka publik – terlebih yang diliput oleh media massa dan diunggah ke dunia maya – biasa ditunggangi untuk menancapkan pamor positif atau menyenangkan di benak masyarakat oleh para elit di AS, dengan cara mempertontonkan kemampuan yang bersangkutan dalam melempar sekaligus legawa menerima joke dari lawannya. Agaknya, selain menarasikan kompetensi, menjual persona sebagai elit yang anti-rengat hati bisa menjadi senjata alternatif untuk mereka yang hendak mengambil peran di pesta demokrasi negeri ini untuk menghimpun simpati masyarakat.

Andaikata presiden kita yang sekarang atau nanti membutuhkan azimat, mungkin bentuknya yang paling cocok adalah kompetensi dan/atau sumber daya humor yang memadai. Sebab, seperti kata Segel dan LaCroix (2000, h.39), “When you humorize, you humanize.” Bagi presiden, memanusiakan jutaan rakyatnya, baik yang mendukungnya maupun yang tidak, adalah ikhtiar tak terelakkan, dan humor adalah solusi yang fit untuk itu.

Ulwan Fakhri Noviadhista. Penulis adalah peneliti Institut Humor Indonesia Kini (IHIK3).

Referensi:

Andrews, T. (2017, 26 April). With self-deprecation on menu for presidents at correspondents’ dinner, it’s no wonder Trump is skipping it. The Washington Post. Diaksea dari https://www.washingtonpost.com/news/morning-mix/wp/2017/04/26/with-self-deprecation-on-menu-for-presidents-at-correspondents-dinner-its-no-wonder-trump-is-skipping-it/?utm_term=.9112e537ada0.

Cole, D. (2018, 4 Maret). Trump’s top jokes from the Gridiron dinner. CNN. Diakses dari https://edition.cnn.com/2018/03/04/politics/trump-best-jokes-gridiron-dinner/index.html.

Deb, S. (2017, 1 September). David Litt, an Obama Speechwriter Who Wants No Credit. The New York Times. Diakes dari https://www.nytimes.com/2017/09/01/books/david-litt-speechwriter-thanks-obama-my-hopey-changey-white-house-years.html.

Lawrence, J. (2009, 11 Februari). White House Hopefuls Turn Up the Humor. ABC News. Diakses dari https://abcnews.go.com/Politics/story?id=3428232&page=1.

Levine, S. (2015, 25 April). Obama Makes Fun Of Those Who, Somehow, Still Think He Is A Muslim. The Huffington Post. Diakses dari https://www.huffingtonpost.com/2015/04/25/white-house-correspondents-dinner-2015_n_7112374.html.

Partington, A. & Taylor, C. (2018). The Language of Persuasion in Politics: An Introduction. Abingdon & New York: Rouletdge.

Shaltz, M. & Helitzer, M. (2016). Comedy Writing Secrets: The Best-Selling Guide to Writing Funny and Getting Paid for It. Cincinnati: Writer’s Digest Books.

Segel, R. & LaCroix, D. (2000). Laugh & Get Rich: How to Profit from Humor in Business. Burlington: Specific House Publishing.

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 27 Mei 2018 by in Home, Public Speaking and tagged , .
%d blogger menyukai ini: