Institut Humor Indonesia Kini (IHIK)

Kajian Humor Indonesia dan Mancanegara

Melucu di Udara

jitet first prize italy

Melucu di Udara

“… people will give more minutes of attention to something they find entertaining and amusing than they will to anything serious.” – Dan Kennedy

Belum lama ini, telah viral kisah pengalaman seorang penumpang Citilink yang mendengar secara langsung bagaimana awak pesawat yang menemaninya terbang melucu di udara. Warganet merespons, menganggapnya sebagai sensasi, walaupun sejatinya itu bukanlah kali pertama terjadi. Dalam penerbangan oleh maskapai yang sama tahun 2014 silam, Darminto M Sudarmo – peneliti humor senior sekaligus salah satu pendiri IHIK3 – menceritakan pada penulis betapa terpesonanya ia ketika mendapati pramugara dan pramugari Citilink bergantian menyampaikan joke, kutipan, sampai pantun kocak dengan dialek Betawi yang semuanya lucu dan segar. Katanya, cara awak yang melayani penerbangan Semarang-Jakarta itu dalam melontarkan materinya juga tidak kalah dengan komika-komika yang ada di televisi (komunikasi personal, 15 Mei 2018).

Dalam catatan yang penulis dapatkan dari buku Humor Works yang ditulis oleh Jon Morreall, Southwest Airlines sudah melakukannya sebelum era milenium kedua. Morreall (1997) menggambarkan kalau Southwest Airlines memang punya “pelayanan ekstra” dibandingkan maskapai lainnya. Seperti saat ada penerbangan yang ditunda, mereka turun menyentuh konsumennya, dengan cara memberikan hiburan dan hadiah kepada penumpang yang menyimpan benda teraneh di kantong atau dompetnya. Pengumuman standar keselamatan pun ditaburi dengan punchline-punchline yang menonjok, di samping memperagakannya dengan kostum lucu atau sambil dilagukan (Kerr, 2001). Bahkan, beredar pula di internet video-video pramugara Southwest Airlines memperagakan standar keselamatan dengan sangat kocak dan membuat para penumpang tenggelam dalam gelak tawa.

Layak menjadi pertanyaan, apa motif perusahaan aviasi macam Southwest Airlines, Citilink, atau WestJet dari Kanada yang sudah punya nama besar memilih untuk mengadopsi humor dalam pelayanannya?

Versi penulis, ada beberapa alasan mengapa maskapai penerbangan melucu di udara. Pertama-tama, Anda harus menyadari dulu bahwa maskapai – dan bisnis pada umumnya –berhubungan dengan manusia. Karena berhubungan dengan orang, maka humor sangat relevan untuk diadopsi para pelaku bisnis. Menyeret pelanggan ke hal-hal yang fun, menurut Kerr (2001), pun jadi cara yang efektif untuk terkoneksi dengan customer, menjaring dan mempertahankan pelanggan setia, sembari memberikan pelayanan yang berkesan. Tentang ini, Gini (2017) juga punya argumen menarik, bahwasannya, humor memanglah alat yang tepat untuk menggaet orang lain sekaligus sebagai alat kekariban. Ia bahkan menghargai suatu joke sebagai sebuah hadiah yang layak kita bagi-bagikan pada orang lain.

Kepentingan lain dalam konteks ini adalah untuk membuat penumpang tertarik dan mau mendengarkan prosedur keselamatan yang penting tapi membosankan itu. Menurut Segel dan LaCroix (2000), penyebab orang tak mau mendengarkan adalah karena pesan yang dialamatkan pada mereka menjemukan. Terlebih dengan rentang perhatian penumpang pesawat yang kebanyakan tak panjang, arahan keselamatan humoris macam “[dalam keadaan darurat] lampu hijau di lantai akan mengantarkan Anda ke pelaminan, maksud saya pintu darurat” memungkinkan pesan disampaikan dengan cara yang lebih efektif (Segel dan LaCroix, 2000).

Kerr (2001) juga menuliskan alasan penting lain mengapa humor dibutuhkan dalam organisasi atau lingkungan profesional yang berkaitan dengan contoh fenomena kali ini, yakni sebagai penghilang stres dan kebosanan yang mujarab. Para pramugara dan pramugari mengulangi pekerjaannya di satu penerbangan ke penerbangan lainnya. Terkadang, bahkan bisa terjadi dalam kurun dua jam sekali setiap harinya. Ketimbang tak maksimal melayani pelanggan, mereka memilih untuk menjalani rutinitasnya dengan cara yang menyenangkan sambil melihat orang-orang di sekitarnya berbahagia. Di sisi lain, tak semua penumpang pula naik ke dalam pesawat dalam keadaan suka cita karena hendak berlibur atau berada dalam suasana hati yang siap untuk menikmati perjalanan. Humor pun menjadi penawar terbaik untuk kedua belah pihak di situasi seperti ini.

Lalu, orang-orang bilang kalau “terima kasih” adalah satu dari tiga kata paling magis; humor pun bisa menjadi cara terbaik untuk mengekspresikannya (Kerr, 2001). Ketika humor sendiri bisa memudahkan suatu pesan untuk dikenang (Sathyanarayana, 2007) – yang juga telah dibuktikan lewat riset dari Madden dan Winberger (1982, dalam Warren, Barsky, & Mcgraw, 2018) yang menjelaskan kalau konsumen lebih mudah untuk mengingat kembali merek minuman keras ketika diiklankan dengan komedik – ungkapan terima kasih yang dibumbui humor pun dapat menancapkan lebih dalam kesan apik dari organisasi bisnis dan pelayanannya, terlebih sebagai penutup perjumpaan. Bukan tidak mungkin hal inilah yang membuat penumpang Southwest Airlines, Citilink, dan WestJet kembali lagi untuk perjalanan berikutnya.

“Bapak dan ibu, selamat datang di Jambi. Bagi warga Jambi, selamat datang kembali di kenyataan. Liburan selesai!” – salah satu lawakan dari awak pesawat Citilink yang diingat dan dicatat oleh pemilik akun Facebook dengan nama Ikky Cielers yang post-nya belakangan viral.

Jadi, cukup elok, kan, awak pesawat melucu di atas awan? Budaya ini perlu diapresiasi dan dipopulerkan. Asalkan tidak ada seorang pun yang melempar candaan kalau dirinya membawa bom dan berniat meledakkannya segera, sepertinya hari semua orang di dalam penerbangan itu akan cerah-cerah saja.

 

Ulwan Fakhri Noviadhista. Penulis adalah peneliti Institut Humor Indonesia Kini (IHIK3).

 


Referensi:

Gini, A. (2017). The Importance of Being Funny. London: Rowman & Littlefield.

Kennedy, D. (2010). Make ‘Em Laugh & Take Their Money. Garden City: Glazer-Kennedy Publishing.

Kerr, M. (2001). You Can’t Be Serious! Putting Humor to Work. Canmore, AB: Speaking of Ideas.

Morreall, J. (1997). Humor Works. Amherst, MA: HRD Press, Inc.

Sathyanarayana, K. (2007). The Power of Humor at the Workplace. New Delhi: Response.

Segel, R. & LaCroix, D. (2000). Laugh & Get Rich: How to Profit from Humor in Business. Burlington: Specific House Publishing.

Warren, C., Barsky, A., & Mcgraw, A. (2018) Humor, Comedy, and Consumer Behavior. Journal of Consumer Research. doi: https://doi.org/10.1093/jcr/ucy015.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 19 Mei 2018 by in Home, Public Speaking, Stand Up Comedy and tagged .
%d blogger menyukai ini: