Institut Humor Indonesia Kini (IHIK)

Kajian Humor Indonesia dan Mancanegara

Selera Humor yang Rumit-Rumit Susah

jitet selera humor

Selera Humor yang Rumit-Rumit Susah

“Sense of humor is seeing the reality, recognizing the truth, and using your judgement to respect the truth.” – K. Sathyanarayana

Mari memulai tulisan ini dengan sebuah perenungan. Apakah Anda mempunyai selera humor?

Sense of humor, mengutip pendefinisian Seaward (2018) yang cukup sederhana, adalah cara berpikir seseorang dalam menerima serta memanfaatkan humor dan tawa dalam hidupnya. Selera humor juga acap diklasifikasikan sebagai kualitas seorang insan yang lazim diidam-idamkan (Billig, 2005). Mengutip Billig (2005) lebih lanjut, menyebutkan bahwa seseorang yang tidak mempunyai sense of humor dewasa ini identik dengan orang-orang yang kurang asyik di pergaulan, sampai tidak memegang kunci penting hubungan yang harmonis. Ya, menurut survei yang dilakukan oleh Profesor Jeffrey Hall dari University of Kansas terhadap lebih dari 15 ribu partisipan dalam 39 studi terkait pentingnya humor dalam sebuah hubungan percintaan, humor yang dibuat bersama oleh sepasang insan terbukti bisa meningkatkan kebahagiaan dalam hubungan mereka sekaligus merekatkannya (Hellman, 2017).

Sayangnya, tak semua orang punya selera humor yang tinggi atau baik. Walaupun para pemikir macam Voltaire dan McDougall berargumen bahwa manusia adalah satu-satunya hewan yang tertawa, selera humor tidaklah diturunkan secara biologis (Billig, 2005). Selera humor, yang konsepnya baru mulai digunakan di era 1800-an, lebih dibentuk oleh budaya ketimbang DNA. Sebab dalam selera humor, ada banyak unsur pembentuk, misalnya kompetensi kognitif. Itulah mengapa menurut Morreal (1983), bayi walaupun juga seorang manusia tidak atau belum memiliki selera humor yang baik. Perret (1989) – yang kemudian juga dikemukakan kembali oleh Sathyanarayana (2007) – juga punya kesimpulan kalau sense of humor amat berkaitan dengan logika. Alhasil, untuk bisa mempunyai selera humor yang tinggi, seseorang harus memenuhi syarat sebagai berikut: kemampuan untuk melihat, mengenali, dan menerima realita sebagaimana mestinya.

Namun, Sathyanarayana (2007) percaya semua orang punya karunia berupa selera humor. Hanya saja, perlu upaya untuk mengasahnya. Dalam bukunya, ia mencontohkan bagaimana Cary Grant, seorang aktor Hollywood, mempertajam selera humornya dengan meniru sikap atau perlakuan orang-orang lucu yang dia kagumi. Komedian Arie Kriting pernah berpesan kepada peneliti Institut Humor Indonesia Kini (IHIK3) bahwa kalau sering berkumpul dengan sesama comic atau orang-orang yang lucu juga bisa membantu diri meraba-raba selera humor yang ingin kita bentuk.

Nah, sekarang, jika Anda ingin mengukur seberapa tinggi tingkat sense of humor Anda, Raymond Moody Jr. punya patokan yang cukup cocok untuk dijadikan instrumen. Moody (1978, dalam Sathyanarayana, 2007) mengklasifikasikan manusia dalam enam kelompok berdasarkan tinggi atau rendahnya selera humor mereka. Ia memajukan penggolongan ini dengan konsep yang unik, yakni mengukur sense of humor para pasien alias orang-orang yang sedang sakit. Moody sendiri adalah orang yang percaya bahwa tertawa adalah proses natural, bahkan termasuk salah satu mukjizat dari Tuhan, untuk memberikan kesembuhan atas penyakit fisik maupun mental, sehingga yang memiliki selera humor tinggi dapat membantu pemulihan yang bersangkutan.

Tingkat pertama, atau yang terendah, adalah untuk orang-orang yang bisa dan mau tertawa pada lelucon atau cerita lucu, tetapi hanya jika yang lain tertawa atau menikmatinya.

Tingkat kedua adalah strata di mana seseorang bisa menertawakan lelucon atau cerita lucu sendiri, tanpa terpengaruh tawa orang lain.

Tingkat ketiga adalah untuk Anda yang memiliki koleksi lelucon yang lucu nan bagus, bisa mengingatnya, hingga membawakannya untuk membuat orang-orang di sekitar ikut bahagia serta menikmatinya.

Tingkat keempat, adalah kelompok orang-orang yang memiliki tingkat kreativitas tertentu dalam membuat leluconnya sendiri.

Sementara tingkat kelima menjadi tempatnya orang-orang yang dapat menertawakan diri sendiri di hadapan orang lain. Pun jika orang lain mengolok-olok Anda, Anda masih dapat bergabung dengan tawa mereka dan tidak buru-buru naik pitam.

Sedangkan tingkat “Firdausnya” khusus untuk pemilik selera humor yang tidak menganggap dirinya terlalu serius, hingga akhirnya bisa melihat setiap situasi – termasuk yang buruk-buruk – dengan perspektif yang lebih luas dan positif. Andalah orang-orang yang tidak kecewa dengan kegagalan dan bahkan dapat tetap berpikir positif sembari bisa menertawakannya. Kevin Hart, dalam autobiografinya yang ditulis bersama Neil Strauss (h.18, 2017), mempunyai elaborasi menarik terkait tingkat tertinggi selera humor ini.

“Life is a story. It’s full of chapters. And the beauty of life is that not only do you get to choose how you interpret each chapter, but your interpretation writes the next chapter. It determines whether it’s comedy or tragedy, fairy tale or horror story, rags-to-riches or riches-to-rags. You can’t control the events that happen to you, but you can control your interpretation of them. So why not choose the story that serves your life the best?”

Menutup tulisan ini, penulis sengaja meninggalkan Anda dengan renungan lain. Di tingkat mana selera humor Anda?

 Ulwan Fakhri Noviadhista. Penulis adalah peneliti Institut Humor Indonesia Kini (IHIK3).

 Referensi:

Billig, M. (2005). Laughter and Ridicule: Towards a Social Critique of Humor. London: Sage Publications Ltd.

Hart, K. & Strauss, N. (2017). I Can’t Make This Up: Life Lessons. New York: Atria Books / 37 INK.

Morreal, J. (ed.). (1987). The Philosophy of Laughter and Humor. New York: State University of New York Press.

Perret, G. (1989). Business Humor: Jokes & How to Deliver Them. New York: Sterling Publishing Company Inc.

Sathyanarayana, K. (2007). The Power of Humor at the Workplace. New Delhi: Response.

Seaward, B. (2018). Managing Stress: Principles and Strategies for Health and Well-Being (9th ed.). Burlington, MA: Jones & Bartlett Learning.

Hellman, R. (2017, August 02). Relationship success tied not to joking but shared sense of humor, researcher says. Diakses dari http://news.ku.edu/2017/02/08/relationship-success-tied-not-joking-shared-sense-humor.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 12 Mei 2018 by in Home and tagged .
%d blogger menyukai ini: