Institut Humor Indonesia Kini (IHIK)

Kajian Humor Indonesia dan Mancanegara

Sehari Mengikuti Simposium Humor

simpo-humor

Hidup Hanya Numpang Ketawa

Sehari Mengikuti Simposium Humor Nasional 2016

INDOPOS , Rabu, 14 September 2016 – 17:28

Simposium tentu berbeda dengan pertunjukan humor. Meskipun demikian, simposium humor yang dilangsungkan pada Kamis, 8 September 2016, di Jakarta, berlangsung lancar dan sesekali terdengar ledakan gerrr, saat pembicara memberikan contoh materi-materi lucu. Acara ini terselenggara atas kerjasama IHIK 3 (Institut Humor Indonesia Kini) dan Pertamor  (Perhimpunan Pencinta Humor).

Acara dibuka dengan pembacaan puisi oleh Romo Sandyawan, aktivis kemanusiaan, yang belakangan ini sedang giat menggalang solidaritas warga Bukit Duri, Jakarta. ’’Di masa lalu hanya Gus Dur yang bisa memerintah saya, dan di masa kini hanya Jaya Suprana,’’ kata Romo Sandyawan tanpa bermaksud melucu.

Mengapa humor perlu adil dan beradab? Tanya Jaya Suprana dalam sesi sebagai pembicara kunci, yang kemudian dia jawab sendiri, karena tidak semua humor itu adil dan beradab. Humor memang selalu terkait dengan kelucuan dan kelucuan selalu terkait dengan tawa, tetapi tawa para Kurawa saat mengusir Pandawa adalah jauh dari makna humor yang adil dan beradab.

’’Saya sebenarnya sudah menyiapkan materi dan materi itu sudah dimuat di katalog, tetapi seorang panitia membisiki, katanya saya keliru mengambil topik, harusnya topik agama dan bukan budaya. Maka untuk itu, kali ini saya akan membawakan makalah agama dan humor, yang sama sekali belum pernah saya tulis atau persiapkan sebelumnya,’’ ujar Mohamad Sobary ketika tampil sebagai pembicara pertama. Makalah Sobary tertulis berjudul “Urip Mung Mampir Ngguyu” (Hidup Hanya Numpang Ketawa).

Rocky Gerung yang tampil usai Sobary, langsung menembakkan joke pedas (satire): Humor itu selalu berhubungan dengan IQ. Orang-orang yang ber-IQ bagus umumnya jadi humoris atau filsuf. Sedangkan yang ber-IQ sebaliknya…jadi penghuni Senayan! Tawa dan tepuk tangan penonton langsung bergemuruh di ruangan berisi tak lebih dari 150 orang itu.

Paradoks adalah alat berpikir yang jitu untuk mengeksploitasi humor. Di sisi lain, humor juga memiliki irisan dengan konsep relativitas, dialektika, bahkan nihilisme. Pada humor, posisi adalah soal sudut pandang, yang baik berasal dari buruk, dan bahwa setiap makna mengandung kontradiksi. Bagaimana relasi yang sebenarnya antara filsafat dan humor, sekutu atau seteru?

Sesungguhnya, filsafat tak pernah berseberangan dengan humor. Mereka memakai jembatan yang sama, yaitu penalaran. Bedanya, bila filsafat menjaga keutuhan penalaran, humor justru memporak-porandakannya. Jadi, dua-duanya adalah aktivitas kecerdasan. Untuk memporak-porandakan logika, seorang harus memiliki kecerdasan tinggi. Humor adalah filsafat yang mendialektisir dirinya sendiri.Humor adalah kecerdasan alternatif. Ia mampu menghina kecerdasan mainstream.

Menyusul tampil, Miing Bagito. ’’Tadi pembicara sebelumnya bilang bahwa kedudukan humor itu lebih tinggi dari politik. Itu tidak salah. Makanya, saya insaf. Dulu pernah jadi pelawak, eh kebawa-bawa masuk Senayan,’’ katanya. Pembicara berikutnya juga menarik dengan gaya dan celetukan masing-masing. Pipit R Kartawidjaja dengan materi Raden Baron Politik & Humorannya. Membandingkan humor politik di era Orde Baru dengan humor politik di Jerman, bahkan Eropa, di periode yang sama, sarat satire.

Hadir pula Toeti Heraty dengan Humor, Kritik dan Tragik. Menurutnya sebagaimana dikatakan Arthur Koestler, Humor adalah ekspresi kreativitas, sejajar dengan ilmu pengetahuan dan kesenian. Pada ilmu pengetahuan logikanya adalah integrasi dan distansi. Pada kesenian menganut logika intensifikasi dan empati. Logika pada humor beda, yaitu: kontradiksi dan agresi. Kontradiksi menyebabkan orang tertawa melepas ketegangan. Dan agresi memang tidak melukai namun serangannya dalam bentuk menertawakan.

Semetara itu Edi Sedyawati dengan Humor dalam Budaya Kuna, menyitir bahwa dari hasil penelusuran sejarah masa lampau lewat data tekstual dan visual, menunjukkan bahwa pada zaman Jawa Kuna, istilah yang artinya terkait dengan humor sudah dikenal. Tradisi berlelucon ternyata telah lama hidup dalam masyarakat kita. Istilah yang dimaksud adalah kata amirus dan abanyol yang berarti pelawak atau seniman lawak. Kedua istilah itu sering disebut di antara nama-nama profesi yang dinyatakan bebas dari pajak.

Pembicara lainnya, Daniel Dhakidae, lewat kajian Humor dan Politik: Pekerja Humor sebagai Cendekiawan, menuturkan bahwa kaum pelawak, penulis lelucon, justru berada di dalam dunia: serius dan main-main. Tanpa bermain-main mereka tidak bisa bersungguh-sungguh. Mereka hanya bisa bersungguh-sungguh ketika mereka bermain-main. Mereka berada di tengah modal, money capital, dan social capital, dan knowledge, pengetahuan. Dalam posisinya mereka menggabungkan beberapa perkara berbeda yaitu pengetahuan, modal, dan kekuasaan. Hampir semua kaum pekerja humor adalah mereka yang berkecimpung dengan pengetahuan dalam arti seluas-luasnya, dalam science dan humanities, sejarah, musik, olahraga, dan lain-lain.

Sarlito Wirawan Sarwono sebagai pembicara terakhir menyajikan Humor: Suatu Kajian Psikologi mengguncang penonton lewat contoh-contoh slide show yang sangat lucu. Menurutnya, humor adalah pekerjaan serius, karena disonansi kognitif yang berulang-ulang jadi tidak disonan lagi, jadi kehilangan kelucuannya juga. Bahkan akan membosankan. Karena itu pelawak-pelawak/pekerja humor profesional harus punya kecerdasan yang tinggi untuk selalu menciptakan disonansi-disonansi kognitif yang baru. Dia tidak boleh mengulang lawakan, bukan hanya lawakannya sendiri, melainkan juga lawakan orang lain. Di sinilah diperlukan daya inteligensi dan kreativitas yang sangat tinggi.

Setelah Radhar Panca Dahana, meringkas materi simposium yang naskahnya sudah jadi sebelum simposium dimulai, lalu disusul konklusi penutup oleh Arswendo Atmowiloto. ’’Dunia lawak, dunia humor, sebagaimana dunia kesenian lain, selalu mempunyai sesuatu yang tersembunyi, tapi akan dikenali. Tanpa itu, hanya akan menjadi pamphlet,’’ katanya. Padahal pamflet pun telah diubah secara kreatif menjadi puisi. Ada yang hilang ketika jenis komika ala stand up comedy yang kini merajalela. Jenis ini renyah, tapi kurang gizi. Jenis yang mengingkari makna utama sebuah peristiwa humor. Membawakan pesan demi kebaikan bersama—selain  yang tertawa dan gerrr. Ini diingatkan melalui tokoh Semar. Semar tak meminta penonton bertepuk, dan tidak membungkuk pada iklan.

Syaifuddin Ifoed, KELAPA GADING

– See more at: http://indopos.co.id/sehari-mengikuti-simposium-humor-nasional-2016/#sthash.ArRsCmA8.dpuf

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: