Institut Humor Indonesia Kini (IHIK)

Kajian Humor Indonesia dan Mancanegara

Dulu, Profesi Pelawak Dinyatakan Bebas Pajak

edi-sediawati

Dulu, Profesi Pelawak Dinyatakan Bebas Pajak

Kompas, 19 September 2016

Ketika humor disimposiumkan, para pembicaranya mengetengahkan pengetahuan-pengetahuan yang menggelitik, termasuk mantan Direktur Jenderal Kebudayaan Edi Sedyawati. Di tengah hangatnya pembahasan pengampunan pajak (tax amnesty), ia mengisahkan bahwa pelawak adalah profesi yang bebas pajak pada masa Jawa Kuna.Zaman Jawa Kuna ditandai dengan data teks berbahasa Jawa Kuna. Bahasa ini memang menyerap banyak kosakata Sansekerta, tetapi tetap memiliki sejumlah kosakata lokal yang tidak memiliki keterkaitan dengan bahasa Sansekerta. Agama yang dominan pada masa itu ialah Hindu dan Budha.

Zaman Jawa Kuna menyisakan data teks berupa tulisan karya sastra pada lembaran- lembaran lontar ataupun pernyataan sosial-politik berupa prasasti serta inkripsi-inkripsi pendek. Edi Sedyawati menunjukkan kata amirus dan abanyol sebagai contoh kosakata lokal Jawa Kuna yang tidak terikat bahasa Sansekerta. Amirus dan abanyol dalam bahasa Jawa Kuna bermakna pelawak atau seniman lawak.

“Kedua istilah itu (amirus dan abanyol) sering disebut di antara nama-nama profesi yang dinyatakan bebas pajak,” ujar Edi Sedyawati dalam Simposium Humor Nasional 2016 “Humor yang Adil dan Beradab”, Kamis pekan lalu, di Jaya Suprana School of Performing Arts, Jakarta.

Jaya Suprana hadir sebagai pembicara kunci simposium. Menurut dia, tema simposium bermakna humor yang tidak melecehkan.

“Humor yang adil dan beradab itu menjunjung kehidupan dan martabat manusia,” ucap Jaya Suprana.

Filsafat dan humor
Dosen Filsafat Universitas Indonesia, Rocky Gerung, menjelaskan hubungan antara humor dan filsafat. Menurut dia, keduanya sama-sama bekerja dengan nalar. “Sesungguhnya, filsafat tidak pernah berseberangan dengan humor. Mereka memakai jembatan yang sama, yaitu reasoning (penalaran),” jelas Rocky. Bedanya, filsafat menjaga keutuhan penalaran, sedangkan humor justru memorakporandakannya.

Menurut dia, menemukan nalar dalam humor merupakan momen intelektual tertinggi. Humor menghasilkan pengetahuan dan kesenangan sekaligus. Melalui humor, manusia memperoleh pengetahuan berpikir, sekaligus kegembiraan berpikir. “Humor dan filsafat dapat tertawa bersama,” kata Rocky.

Humor dinilai juga merupakan bentuk kecerdasan alternatif. Menurut Rocky, humor mampu menghina kecerdasan mainstream (arus utama).

Bagi dosen Psikologi Universitas Indonesia, Sarlito Wirawan Sarwono, humor yang serius mengajak penikmatnya berpikir. Si penikmat dilibatkan dalam proses pencarian titik ledak dari setiap lelucon yang diluncurkan.

“Dengan demikian, tiap penikmat juga merasa mempunyai andil mencipta pada setiap lelucon yang ada,” jelas Sarlito.

Komunikasi politik
Ketika humor disimposiumkan, perhatian para narasumber juga tidak jauh-jauh dari politik. Dunia politik menyangkut kepentingan hidup orang banyak, sementara humor dinilai mempunyai peran penting di dalam komunikasi politik.

Narasumber Daniel Dhakidae mengutip penulis Rusia, Nikolai Zlobin, bahwa Mikhail Gorbachev, pemimpin Uni Soviet pada 1985-1991, sangat menyukai lelucon atas dirinya. Lelucon diceritakannya sendiri dalam berbagai pertemuan dan diulang- ulang dalam berbagai kesempatan.

Dikisahkan, seseorang yang tidak sabar mengantre untuk membeli Vodka ingin membunuh Gorbachev. Menurut orang itu, antrean terjadi gara-gara Gorbachev mengeluarkan kebijakan Glasnost dan Perestroika (Keterbukaan dan Restrukturisasi). “Maka, sekarang saya ingin pergi ke Kremlin untuk membunuhnya,” ucap orang itu.

Sesudah dua jam, ia kembali ke antrean Vodka dan mengumpat, “Di Kremlin, barisan antrean orang untuk membunuh Gorbachev lebih panjang lagi dari ini.”

Soal humor politik oleh pemimpin bangsa lainnya disampaikan Rocky Gerung. Ia menceritakan, suatu ketika Presiden Soekarno dipojokkan wartawan karena dianggap patah dalam kompetisi politik dengan Sutan Sjahrir. Namun, Soekarno menjawab, “Seperti rotan, saya hanya melengkung, tidak patah.”

Ungkapan Soekarno itu adalah metafora dari seorang pemimpin politik. Kini, kemampuan bermetafora para pemimpin dinilai melemah. “Hal ini membuat para politisi kita mudah marah. Rakyat pun dibiasakan marah,” ujar Rocky.

Narasumber lainnya, Deddy “Mi,ing” Gumelar, menyebut humor yang adil dan beradab mungkin saatnya menjadi bahan ajar atau menjadi disiplin ilmu.

Kalau begitu, nanti lulusan sekolah humor bisa bebas dari urusan pajak. (NAWA TUNGGAL)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 19 September 2016, di halaman 11 dengan judul “Dulu, Profesi Pelawak Dinyatakan Bebas Pajak”.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 13 November 2016 by in Comedy, Home, Joke, Laughter, Satire and tagged .
%d bloggers like this: