Terbaru

Danny Septriadi di webinar Humor in de Kantoor

Jangan Takut Garing, Ini 5 Tips Bercanda di Kantor

Masa sih zaman sekarang kantor masih anti sama humor?

Jakarta, 19 April 2020 – Belakangan ini, sudah banyak perusahaan besar maupun startup yang mempromosikan dirinya sebagai kantor dengan budaya perusahaan yang “fun”, “seru”, “cocok untuk anak muda”, dan semacamnya. Hal ini umumnya ditunjukkan dari dekorasi ruangan yang berwarna-warni, gaya berpakaian yang kasual, hingga tersedianya berbagai macam hiburan yang bisa dimanfaatkan para karyawan secara gratis.

Namun, investasi untuk menciptakan budaya perusahaan yang menyenangkan atau positif sejatinya tidak berhenti di situ saja. Menurut Barbara Plester dan Kerr Inkson, dalam bukunya Laugh Out Loud: A User’s Guide to Workplace Humor (2018), budaya berhumor juga termasuk faktor yang ikut membentuk budaya perusahaan itu sendiri. Mereka membagi budaya berhumor di kantor dalam tiga kategori: Low-humor culture (humor tidak dilarang, tapi sebisa mungkin diredam); Moderate-humor culture (humor diizinkan dan didorong); serta High-humor Culture (humor melekat secara ekstrem dengan keseharian di tempat kerja).

Andaikata kantor Anda sekarang berada pada kategori pertama (low-humor culture), kira-kira, bagaimana cara kita untuk berhumor secara aman di kantor?

Institut Humor Indonesia Kini (IHIK3) mengupas problematika ini dalam webinar episode ketiganya Kamis (16 April 2020) malam lalu pukul 19.00-21.00 WIB. Dalam webinar yang diadakan secara gratis ini, para narasumber diskusi daring tersebut membagikan sejumlah trik bercanda di kantor yang aman berdasarkan kajian dari beberapa literatur yang tersedia di Library of Humor Studies milik IHIK3 dan pengalaman memberikan beberapa kali pelatihan humor at work.

Screenshot akhir sesi webinar Humor in de Kantoor
Screenshot akhir sesi webinar Humor in de Kantoor


Tangkapan layar peserta di akhir sesi webinar Humor in de Kantoor

Pertama-tama, gunakan bentuk humor sederhana untuk disisipkan dalam interaksi. Anda bisa menggunakan perumpamaan (mengaitkan dua objek yang berbeda dalam suatu konsep) atau bisa juga dengan plesetan (menggandakan makna sebuah kata dengan mengurangi huruf di dalamnya), seperti “sapidol”, “skandal jepit”, dan lain-lain. Humor jenis ini sejatinya sangat mudah diterima, asalkan Anda tetap memperhatikan momen penggunaannya.

“Buat saya, humor sama dengan fotografi: ‘momennya dapet enggak, nih?’. Misalnya kita lagi rapat, tiba-tiba Anda angkat tangan dan memberi tebakan, ‘Pak, tahu enggak skandal yang tidak membahayakan orang itu apa? Skandal jepit pak!’. Selucu apa pun humornya, pasti langsung krik krik krik karena tidak berhubungan dengan yang sedang dibicarakan,” jelas Yasser Fikry, yang berprofesi sebagai akademisi, komedian, sekaligus Chief Creative Officer (CCO) IHIK3.

Yasser Fikry di webinar Humor in de Kantoor
Yasser Fikry di webinar Humor in de Kantoor


Yasser membagikan formula berhumor di kantor

Kedua, gunakan humor yang sifatnya tulus untuk menghibur orang lain dan mempererat hubungan Anda dengan yang bersangkutan dengan topik yang ada di sekeliling kita atau kejadian yang sama-sama kita rasakan. Jenis humor ini juga disebut dengan affiliative humor.

Misalnya, saat kita dan rekan yang lain sedang naik lift dengan membawa banyak makanan untuk persiapan rapat, kita bisa membercandai situasi ini dengan komentar semacam, “Wah, kalau kita terperangkap di lift tiga hari nih, kayaknya masih bisa hidup deh kalau bawa makanan segini banyaknya.”

Ketiga, seandainya Anda ingin berhumor di kantor, jangan terpacu untuk membuat orang lain tertawa terbahak-bahak dengan humor kita. Pasalnya, kita bukan komedian yang tampil di atas panggung, sehingga kita tidak perlu terbebani ekpektasi untuk selalu menghibur dengan ucapan atau perilaku lucu.

“Ketika berusaha mencairkan suasana dengan orang baru, saya biasanya mencoba untuk melempar humor tentang diri saya sendiri. Enggak perlu sampai dia ketawa ngakak gitu, tipis-tipis saja, paling tidak humornya bisa bikin kita diingat,” papar Novrita Widiyastuti, akademisi dan Chief Executive Officer (CEO) IHIK3.

Novrita Widiyastuti di webinar Humor in de Kantoor
Novrita Widiyastuti di webinar Humor in de Kantoor


Novrita memaparkan materinya tentang penggunaan humor di kantor

Keempat, jangan menjadikan topik yang “disakralkan” di lingkungan kerja Anda sebagai olokan atau ejekan. Hal ini bertujuan agar Anda tidak dianggap melecehkan profesi, perusahaan, bahkan rekan kerja Anda. Contohnya, dengan tidak menjadikan project atau tugas yang kita kerjakan sebagai olok-olokan saat mempresentasikannya.

Kelima, milikilah kepercayaan diri yang cukup dan reputasi yang sudah baik. Nah, tips terakhir ini cocok sekali untuk diterapkan oleh atasan atau pemimpin perusahaan agar bisa dekat dengan para stafnya saat berhumor tanpa kehilangan wibawa.

Pada webinar tersebut, Danny Septriadi, praktisi pajak senior Danny Darussalam Tax Center (DDTC), turut membagikan pengalamannya sebagai leader yang suka tertawa bersama para stafnya bertahun-tahun tanpa takut wibawanya luntur.

“Saya tidak pernah ada masalah dengan kewibawaan saat mentertawakan diri sendiri. Ketika kita menggunakan self-deprecating humor (mentertawakan diri sendiri), kita perlu menunjukkan bahwa kita kompeten di bidangnya. Sebelum seorang leader bisa mentertawakan dirinya sendiri, pastikan ia sudah punya kelebihan, kompetensi, atau success story, sehingga ketika ia mentertawakan diri sendiri di depan orang lain, nilai dirinya sebagai pemimpin tidak sampai minus apalagi hilang,” pesan salah satu pendiri IHIK3 tersebut.

Danny Septriadi di webinar Humor in de Kantoor
Danny Septriadi di webinar Humor in de Kantoor


Danny membagikan pengalamannya berhumor di kantor sebagai leader

Kendati di masa kini kegiatan di banyak perusahaan atau kantor sedang kurang optimal, IHIK3 berharap webinar ini tetap dapat bermanfaat, di antaranya membekali para peserta diskusi dengan wawasan baru untuk diimplementasikan usai pandemi serta mengajak untuk refreshing sejenak dengan saling berbagi cerita dan humor. Adapun para peserta webinar episode ketiga ini sebanyak 34 orang mayoritasnya berasal dari profesional berbagai bidang, dari karyawan swasta, pegawai negeri sipil (PNS), pekerja kreatif, sampai manajer perusahaan. Kalangan akademisi, yakni dosen, peneliti, dan mahasiswa, pun tak ketinggalan.

Silakan tonton rekaman diskusi daring Humor in de Kantoor dari IHIK3 di tautan berikut ini: https://www.youtube.com/watch?v=gaf-X_V02VE&list=PLJRTkxG9g3P2wvFR5WUGX6As_I-jT-AA-&index=2&t=0s.

Tentang Institut Humor Indonesia Kini (IHIK3)

IHIK3 adalah pusat kegiatan humor di Indonesia yang mengelola humor secara serius dan profesional berbasis pengalaman, ilmu pengetahuan, dan riset dengan pendekatan multidisiplin ilmu juga multiprofesi. Didirikan oleh tiga orang penikmat, pelaku, sekaligus pemikir humor: Seno Gumira Ajidarma, Darminto M. Sudarmo, dan Danny Septriadi, IHIK3 menunjang kepakarannya di bidang humor melalui Library of Humor Studies, perpustakaan humor berisi ribuan literatur serta produk humor dari dalam maupun luar negeri. Program IHIK3 sendiri sejauh ini adalah penerbitan buku humor, simposium humor, hingga hibah untuk penelitian humor. Humor itu serius, sehingga perlu diseriusi, dan IHIK3 berkomitmen untuk “menyeriusi” humor sehingga tercipta ekosistem dan ekonomi komedi.

Tekad kami: Demi Humor yang Adil dan Beradab!

Informasi lebih lanjut hubungi:
Novrita Widiyastuti +62818486185

https://IHIK3.com | email: IHIK3@yahoo.com

    Leave Your Comment

    Your email address will not be published.*