Terbaru

Seno Gumira Ajidarma (foto: ihik3)

Etika Berhumor di Saat Corona, Menurut Seno Gumira Ajidarma

Para produsen maupun konsumen humor, menurut Seno, sama-sama memerlukan kedewasaan.

Jakarta, 12 April 2020 – Masyarakat Indonesia dan humor sejatinya tidak terpisahkan. Di tengah situasi sesulit apa pun, humor terbukti tetap hidup dan tidak bisa dibendung, termasuk di masa pandemi virus covid-19 ini. Format-format humor bertemakan virus corona ini bahkan telah beredar luas atau mudah kita temui, dari video dan status di media sosial, gambar meme, kartun atau ilustrasi, mural, sampai papan imbauan humoristis.

“Di Indonesia ini, segala hal bisa dihumorkan. Dulu yang sering jadi sasaran humor adalah penguasa, sekarang corona. Bedanya, sekarang corona tidak bisa tersinggung saja,” kata Seno Gumira Ajidarma, dalam seminar daring yang diadakan oleh Ihik3, Sabtu (11/04/2020) pukul 14.00-16.00 WIB, yang mengambil tema “Etika Berhumor”.

poster etika berhumor
poster etika berhumor


Poster Acara Etika Berhumor (11/4/2020)

Walau corona tidak bisa merasa tersinggung dan berbuat sesuatu untuk melampiaskan emosinya itu, tetapi berhumor tentang corona di masa saat ini juga ada aturan tak tertulisnya. Sebab, seperti halnya humor-humor lain, banyak pihak berpotensi tersinggung dibuatnya, terlebih para pasien covid-19 dan keluarganya serta pihak-pihak yang merasakan langsung dampak dari pandemi ini di hidupnya.

Sastrawan dan pemikir humor tersebut mengingatkan kembali bahwa humor sejatinya memiliki etika, yakni humor harusnya berpihak kepada yang lemah, sedang tidak beruntung, dan semacamnya. Ia berpesan jangan sampai humor bertema corona yang bermunculan malah menambah penderitaan orang. Justru seharusnya humor menjadi pelampiasan atau sarana relaksasi dari situasi darurat seperti sekarang ini.

Tidak hanya bagi komedian, para pejabat pun perlu tahu etika berhumor dan siap bertanggung jawab saat berhumor di ruang publik. Seno mengaku tidak anti dengan para pejabat negara yang berhumor. Hanya saja, kualitas humor pejabat kita saat ini mayoritas belum bisa menyamai atau melebihi mantan Presiden RI, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), sehingga alih-alih menghibur malah menjadi blunder.

Seno Gumira Ajidarma memberikan paparan di webinar Etika Berhumor
Seno Gumira Ajidarma memberikan paparan di webinar Etika Berhumor


Seno Gumira Ajidarma membedah salah satu humor tentang corona yang ada di tengah kita

Pendapat Seno ini dikonfirmasi oleh pembicara lain di webinar Ihik3, Yasser Fikry. Sore itu, Yasser membagikan pengalamannya di luar kegiatannya sehari-hari sebagai dosen di suatu perguruan tinggi, yakni sebagai seniman komedi.

Sebagai eks penyiar radio humor pertama di Indonesia, Suara Kejayaan, Yasser patuh pada etika berhumor. Di ruang dengar publik, misalnya, ia tidak diperkenankan untuk membercandakan bencana, dark jokes, serta humor bertema SARA, ideologi tertentu, dan aparat pemerintah.

“Etika humor sangat diperlukan jika materi yang ingin disampaikan bakal menjadi konsumsi publik. Untuk itu, wajib hukumnya untuk mengenali dan memahami siapa lawan bicara Anda, agar Anda dapat mengukur seberapa jauh dia dapat menerima humor Anda,” jelas pengurus Persatuan Seniman Komedi Indonesia (PASKI) sekaligus Chief Creative Officer (CCO) Ihik3 itu.

Yasser Fikry memberikan paparan di webinar Etika Berhumor
Yasser Fikry memberikan paparan di webinar Etika Berhumor


Yasser Fikry membagikan pengalamannya tentang etika berhumor

Alasan lain mengapa etika perlu diterapkan dalam berhumor adalah karena sifat humor itu sendiri kaya akan konteks. Alhasil, cara setiap orang untuk mencerna suatu humor berbeda-beda, sangat bergantung dari wawasan, pengalaman, pandangan politik, agama atau kepercayaan, dan lain sebagainya. Maka dari itu, apa yang menurut seseorang lucu bisa saja dianggap tidak oleh orang lain.

Nah, ketika pelaku humor perlu memiliki etika dan tanggung jawab, para konsumen juga perlu tahu etikanya tersendiri. Etika sebagai konsumen humor ini, dicontohkan Seno, adalah dengan tidak menjadikan subjektivitasnya sebagai justifikasi tunggal terhadap suatu humor. Sebelum marah-marah atau memprotes humor, kita sebagai konsumen juga perlu berwawasan dulu, sehingga bisa melihat konteks humor tersebut secara luas dan tidak terjebak pada satu perspektif saja.

“Humor itu sering dipermasalahkan oleh orang yang marah. Karena saat seseorang marah [terhadap humor], dia bisa menunjukkan siapa dirinya. Pada masa politik identitas ini, marah terhadap humor bisa jadi alat aktualisasi diri. ‘Apa lagi ya yang harus saya tunjukkan untuk memperlihatkan saya ini siapa?’,” jelas satu dari tiga tokoh pendiri Ihik3 tersebut.

Seno juga berpendapat konsumen humor kalau bisa tidak hanya mengkritik balik humor yang dianggap tidak beretika atau kelewat batas dengan serius, tetapi dengan humor pula.

Diskusi daring ini merupakan upaya Ihik3 sebagai lembaga kajian humor untuk berkontribusi terhadap bangsa dan negara, utamanya dengan mengedukasi manfaat, etika, cara penggunaan dan lain-lainnya terkait humor. Humor harus tetap ada di tengah masyarakat kita, apalagi di tengah pandemi ini, karena humor bisa memberikan ketenangan dan membuat hati gembira yang pada akhirnya juga berguna untuk menangkal virus corona. Akan tetapi, masyarakat juga harus tahu bahwa berhumor itu juga ada etikanya.

“Humor memerlukan kedewasaan. Tanpa kedewasaan, humor ya hanya menyinggung dan tersinggung saja,” tutup Seno.

Tangkapan layar webinar Etika Berhumor
Tangkapan layar webinar Etika Berhumor


Tangkapan layar jalannya diskusi daring Etika Berhumor

Tentang Institut Humor Indonesia Kini (Ihik3)

Ihik3 adalah pusat kegiatan humor di Indonesia yang mengelola humor secara serius dan profesional berbasis pengalaman, ilmu pengetahuan, dan riset dengan pendekatan multidisiplin ilmu juga multiprofesi. Didirikan oleh tiga orang penikmat, pelaku, sekaligus pemikir humor: Seno Gumira Ajidarma, Darminto M. Sudarmo, dan Danny Septriadi, Ihik3 menunjang kepakarannya di bidang humor melalui Library of Humor Studies, perpustakaan humor berisi 5.000 lebih literatur serta produk humor dari dalam maupun luar negeri. Program Ihik3 sendiri sejauh ini adalah penerbitan buku humor, simposium humor, hingga hibah untuk penelitian humor. Humor itu serius, sehingga perlu diseriusi, dan Ihik3 berkomitmen untuk “menyeriusi” humor sehingga tercipta ekosistem dan ekonomi komedi.

Tekad kami: Demi Humor yang Adil dan Beradab!

Informasi lebih lanjut hubungi:
Novrita Widiyastuti +62818486185

Email: ihik3@yahoo.com
https://ihik3.com

    Leave Your Comment

    Your email address will not be published.*