Terbaru

Terapi Humor Bukan Mitos!

IHIK3, Jakarta—Ini kali pertama Ihik3 menggelar acara yang mengawinkan humor dengan disiplin ilmu psikologi. Sebuah langkah berani karena keluar dari tema diskusi yang sudah-sudah. Apa yang melatarbelakangi inisiatif kami? Dari hasil pembacaan literatur yang kami miliki di Library of Humor Studies, kami yakin betul bahwa humor sebenarnya bisa menjadi solusi atas darurat gangguan mental yang melanda Indonesia dan dunia saat ini. Hanya saja, tentu kami tetap membutuhkan perspektif dari para ahli disiplin ini untuk bisa mengelaborasikan sekaligus menerapkan solusinya.

Untungnya, kami dipertemukan dengan para akademisi dan pakar psikologi yang sevisi. “Humor Therapy”, yang juga diangkat dari buku karangan salah satu pembicara, pun jadi tema utama diskusi yang diadakan pada Rabu, 19 Februari 2020 di Lantai 4 Perpustakaan Nasional RI tersebut.

Total, 105 audiens berkumpul ke acara ini. Mereka berasal dari lingkaran yang sangat variatif, dari kampus (dosen dan mahasiswa), psikolog dan psikiater, suicidolog, tenaga medis di rumah sakit dan klinik, instansi pemerintahan, masyarakat umum, sampai pelaku industri hiburan Tanah Air.

Audiens yang hadir di diskusi Humor Therapy yang diadakan oleh Ihik3

Diskusi berjalan sangat cair dan menghibur. Para pembicara: Bambang Suryadi, Ph.D (Dosen Psikologi), Yufi Adriani, Ph.D (Dosen Psikologi), dan dr. Andreas Kurniawan Sp.KJ (Psikiater)., memang sarat pengalaman dan wawasan di bidang ini. Namun, mereka juga humoris. Tak satu dua kali, lho, mereka melempar humor yang direspons dengan baik oleh audiens. Makin seru karena mereka tek-tok-an dengan moderator sekaligus CCO Ihik3, Yasser Fikry, SE, M.Si, CHT, yang memang doyan nyeletuk yang lucu-lucu.

Saking enjoy-nya diskusi kami, acara sampai berlanjut ke diskusi di bawah panggung. Bahkan melebihi jam peminjaman ruangan di Perpusnas (maaf ya, pak, bu, hehehe). Animo dan energi yang luar biasa terpancar baik dari peserta maupun pembicara.

Soal konten diskusi, banyak sekali sebenarnya yang bisa dipetik. Pak Bambang, misalnya, walau sudah menjabarkan beragam cara untuk melakukan terapi humor di bukunya, tetap berkenan membagikan terapi lain: menulis humor. Terapi menulis humor ini asyik. Hasilnya bisa dirasakan secara instan, karena kita bisa langsung mentertawakan hal-hal lucu di tulisan kita sendiri.

Beberapa audiens mendapatkan bingkisan buku karena aktif dalam diskusi

Sementara Ibu Yufi, peraih gelar Ph.D dengan topik Positive Psychology di Deakin University, Australia, bilang kalau humor dapat mengubah kepribadian orang. Yang dulunya killer, kini jadi lebih santai, banyak tertawa. Untuk kasus Ibu Yufi, sepertinya kepribadiannya tidak berubah. Menurut seorang audiens yang juga temannya, sejak dulu, Ibu Yufi sudah lucu.

“Dulu padahal Anda juga lucu, kok sekarang setelah kerja di Kementerian jadi ketularan serius ya?” Ibu Yufi berkelakar membalas pujian temannya. Kebetulan, audiens dari instansi pemerintah tersebut memang menanyakan bagaimana cara menyuntikkan humor di lingkungan kementerian yang terkenal serius dan tegang. Tenang, pak, nanti bisa kami bantu hi hi hi.

Para pembicara di diskusi Humor Therapy berfoto bersama tim Ihik3

Oh iya, satu kabar yang menggembirakan bagi kami dan perkembangan kajian humor di Indonesia adalah menurut Ibu Yufi, saat ini sudah banyak mahasiswa psikologi yang tertarik meneliti tentang selera humor. Bagus! Jangan lupa perkaya referensi skripsinya dengan buku-buku di library kami ya, dik!

Pembicara terakhir, dr. Andreas, juga memberi perspektif menarik. Menurutnya, humor dan tertawa penting dalam psikoterapi. Humor dan tertawa bisa membuat pasien rileks. Akan tetapi, ia juga tak mengharuskan semua pasien diterapi dengan menggunakan humor. Sebab, psikiater menghadapi orang yang berbeda-beda, dengan latar belakang juga problematika yang beragam. Mungkin si A didiagnosis cocok pakai humor therapy, tapi bisa saja si C tidak. Tapi setidaknya, keduanya lebih baik daripada si B yang mengalami gangguan mental tapi tidak mencari bantuan ke orang yang tepat.

Dari respons para audiens dan pembicara, sepertinya mereka sangat puas dan masih butuh ajang untuk saling berbagi. Bikin diskusi lanjutan humor therapy lagi kali, ya? Salam ihik ihik ihik… (UlF, 25.02.2020)

    Leave Your Comment

    Your email address will not be published.*