Terbaru

Anak-anak bermain di tengah banjir (ilustrasi: aktual.com)

Salah Kaprah Menginterpretasi Kebahagiaan Warga saat Banjir

“Bahagia itu sederhana… anak-anak berenang di jalan raya…”

Narasi semacam itu biasa dilontarkan oleh aparat pemerintah dan/atau politisi di kala genangan air masih tinggi-tingginya. Tak satu atau dua kali. Mereka seakan-akan mencoba menunjukkan bahwa musibah yang dialami warga tidak sepenuhnya buruk, walaupun itu musibah yang diakibatkan oleh kelalaian pihak tertentu.

Namun sejatinya, ini adalah sesat pikir yang kurang patut untuk dilanggengkan. Mohon maaf, bukan banjirnya yang tidak punya harga diri di mata masyarakat Indonesia, pak, bu, tetapi memang masyarakat sedang butuh beradaptasi dengan kegelisahan, kesusahan, penderitaan yang tidak bisa mereka (dan Anda-Anda) selesaikan.

Di zaman sekarang, hal-hal yang membuat kita stres (stressor) makin beraneka ragam. Banjir, misalnya, merupakan contoh stressor dari aspek lingkungan yang kompleks. Jangankan ancaman secara fisik, dari arus deras sampai penyakit-penyakit yang dibawanya, psikologis juga dapat terganggu karenanya. Dari sinilah kita butuh mekanisme koping. Inilah cara yang secara naluriah dilakukan tiap individu untuk beradaptasi dengan perubahan, menyelesaikan masalah, serta merespons situasi yang mengancamnya.

Berenang, bermain perosotan, memancing, berlagak seperti sedang surfing atau main jetski, membikin konten lucu-lucuan di media sosial adalah beberapa koping – bahkan bisa juga diinterpretasikan sebagai sindiran – yang masyarakat kita umumnya lakukan ketika banjir. Itu bukan bentuk kebahagiaan yang kita impikan atau sengaja kita cari. Itu cara manusia untuk sekadar bertahan hidup.

Ingat video viral belakangan tentang seorang ayah di Suriah yang mencoba menghibur anak perempuannya di tengah perang yang melanda negaranya? Di tengah besarnya potensi mereka kehilangan nyawa, Abdullah Mohammed, si ayah, malah mengajak putrinya bermain. Aturan mainnya sederhana, mereka tinggal menebak asal suara dentuman yang mereka dengar. Setiap mereka mendengar ledakan bom, mereka harus tertawa.

“Apakah ini suara pesawat jet atau bom?” tanya Abdullah.

“Bom! Dan saat ada bom, kita akan tertawa!” jawab buah hatinya girang, yang disusul dengan tawa melengking sejurus setelah bom itu meledak.

Permainan ini ternyata menjadi tameng psikologis bagi bocah bernama Salwa tersebut di saat konflik yang sudah menewaskan lebih dari 500 ribu orang itu masih berlangsung sejak tujuh tahun lalu. Laiknya penyintas tragedi-tragedi kemanusiaan lain, sebut saja penyintas dari kamp konsentrasi Nazi, strategi Abdullah menggunakan humor ini merupakan cara dia memelihara harapan di tengah situasi sulit.

“Mungkin bom yang kami tertawakan itu menghancurkan tenda atau mengenai anak kecil, dan ini jelas tidak lucu. Ini sangat menyedihkan,” terang Abdullah pada Associated Press (25/02/2020). “Saya tertawa supaya anak saya tidak ketakutan. Andaikata bom itu pun sampai mengenai kami, lebih baik kami meninggal dalam keadaan tertawa daripada meninggal dalam ketakutan.”

Koping Humor

Kata Sigmund Freud (1856-1939), humor adalah salah satu mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) paling canggih yang dapat dilakukan oleh manusia. Dalam implementasinya terhadap proses koping, pikiran atau perilaku humoristis dapat dipakai salah satunya untuk mereduksi atau menghindari emosi tidak menyenangkan yang dibawa stressor.

Mengutip Doosje (2014) dalam Encyclopedia of Humor Studies, koping humor dapat dibagi menjadi dua: preventif (antecedent-focused humorous coping) dan reduktif (response-focused humorous coping). Perbedaan inti dari keduanya berada pada tahapannya. Proses preventif condong sebagai pencegahan dampak yang ditimbulkan stressor dan terjadi di tahap awal. Sementara cara lainnya, reduktif, lebih bermaksud untuk menekan keadaan tidak menyenangkan, seperti stres, yang telah dialami seseorang gara-gara stressor.

Soal banjir sebagai stressor, koping humor bisa saja berlaku di kedua tahap itu. “Mempermainkan” banjir barangkali adalah cara orang-orang untuk menangkal rasa cemas yang berlebihan dari kontaminasi penyakit bawaan banjir semacam demam, tifus, atau kolera yang saat ini mungkin belum mereka rasakan. Boleh jadi juga, melucu-lucukan banjir itu merupakan upaya untuk mengalihkan rasa tidak aman dan nyaman dalam beraktivitas yang telah terenggut dari hidup mereka.

Bagi orang-orang dewasa, banjir bukan jenis “liburan” yang menentramkan: tidur tidak nyenyak karena khawatir debit air meninggi karena hujan susulan, rasa was-was barang rusak atau hilang, belum lagi harus menyiapkan tenaga untuk membersihkan rumah kala surut nanti. Kerugian materiil ini makin menjadi-jadi karena ada di antara kita yang tidak bisa mengais rezeki karena banjir atau malah hanya bisa pasrah karena gaji dipotong perusahaan karena absen bekerja.

Anak-anak yang terlihat berbahagia berenang di lautan “teh tarik” itu kemungkinan juga sedang berusaha membebaskan diri dari realita menjemukannya. Realita itu bisa saja berupa tidak adanya rasa enjoy di sekolah dan rumah, kesenjangan akses serta ekonomi, dan lain sebagainya.

Mereka semua memang sama-sama tampak ceria, tapi rasa-rasanya, bukan itu keceriaan yang sebenarnya mereka dambakan. Kerugian materiil dan psikologis ini terlalu kompleks untuk direduksi hanya karena warga terlihat berbahagia di tengah bencana banjir.

Humor bisa menjadi mekanisme koping yang efektif karena sulit bagi seseorang untuk merasa sedih dan senang dalam waktu yang bersamaan. Penelitian monumental Martin dan Lefcourt (1983) tentang humor dalam psikologi telah membuktikan itu. Mereka menemukan bahwa individu yang menggunakan koping humor untuk melewati tragedi-tragedi dalam hidupnya mempunyai kesehatan psikologis yang lebih baik.

Di sisi lain, tingkat kebahagiaan Indonesia sebenarnya juga tidak tinggi-tinggi amat. Menukil World Happiness Report (WHR) tahun 2019, memang Indonesia sudah duduk di peringkat 92 dari total 156 negara, naik dari setahun sebelumnya yang masih di nomor 96. Namun untuk level Asia Tenggara, kita kesulitan mengejar peringkat Malaysia (80), Filipina (69), Thailand (52), apalagi Singapura (34).

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Indeks Kebahagiaan tahun 2017 pun “hanya” memberikan nilai 70,69 dari skala maksimal 100 untuk tingkat kebahagiaan rata-rata penduduk Indonesia. Secara deskriptif, nilai ini artinya “Cukup Bahagia”. Akan tetapi, indikator dimensi perasaan, seperti Perasaan Tidak Tertekan (68,31) dan Perasaan Tidak Khawatir/Cemas (64,33), masih rendah, sehingga memengaruhi nilai reratanya.

Memanfaatkan humor sebagai koping maupun sindiran, semuanya sah-sah saja untuk dilakukan warga terdampak banjir. Yang kurang pas, adalah pihak-pihak yang secara naif menafsirkan masyarakat kita happy-happy saja di kala bencana melanda.

*Catatan: Ternyata, “tradisi” membanjiri bencana banjir dengan narasi serupa belum usai. Selisih beberapa jam tulisan ini dipublikasikan, masih di hari yang sama, Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta, Saefullah, memberikan keterangan di media agar masyarakat menikmati banjir. “Jadi dinikmati saja (banjirnya). Itu kan soal manajemen air. Tubuh kita dua per tiga persen air. Sering keluar air. Kan banyak. Bisa dari kepala, bisa dari mana. Air mata saja harus pake manajemen. Tergantung situasi.”

Ulwan Fakhri – peneliti Institut Humor Indonesia Kini (Ihik3)

Sumber ilustrasi: aktual.com

Daftar referensi:

Associated Press. (2020, February 25). Syrian father teaches daughter to laugh when the bombs fall. Retrieved from https://apnews.com/51df794bed52199cc1dfe1497d58ec03.

Doosje, S. (2014). Coping Mechanism. In Attardo, S. (Ed.). Encyclopedia of Humor Studies (p.179-180). Thousand Oaks: SAGE.

Martin, R. A., & Lefcourt, H. M. (1983). Sense of humor as a moderator of the relation between stressors and moods. Journal of Personality and Social Psychology, 45, 1313-1324.

    Leave Your Comment

    Your email address will not be published.*