Terbaru

Oase Satire di Tengah Bisingnya Media Sosial

Peradaban manusia telah lama mengenal satire. Feinberg dalam The Introduction to Satire (1967) menuliskan bahwa kritik atas suatu penyimpangan yang dibawakan dengan cara yang “main-main” itu sudah ditampilkan di teater-teater Yunani Kuno sejak abad ke-7 SM dan lazim dialamatkan pada elite pemerintahan. Satire lantas berkembang menembus zaman, diadaptasi sedemikian liarnya, dari tulisan-tulisan puitis-satire Gaius Lucilius yang memperkaya peradaban literasi Romawi di masanya sampai satire-politik Stephen Colbert dengan Late Night Show-nya yang kini telah menjadi alternatif dari hard-news.

Namun realitanya, satire mengandung paradoksnya sendiri. Meski satire lahir dari peradaban manusia, tak semua orang kenal betul dengannya. Bahkan di era internet kini, satire masih beberapa kali dilirik sebagai fakta. Soal ini, banyak contohnya. Media satire Amerika Serikat, The Onion misalnya, pernah menahbiskan Kim Jong-un sebagai pria terseksi pada 2012 silam –yang tentu saja dengan sederet alasan humoristis yang sengaja dilebih-lebihkan. “Umpan” The Onion itu ternyata ada yang menyambar.

Media daring asal Tiongkok, People’s Daily menyirkulasi ulang satire tersebut dan memperlakukannya layaknya sebuah fakta membanggakan (sembari mengunggah foto-foto sang supreme leader itu dalam pelbagai pose untuk memvalidasi klaim ngawur The Onion itu).

Apakah ini salah satire? Tentu saja bukan. Justru, menurunnya kemampuan kita dalam mencerna satire menjadi kritikan pedas bagi kita sendiri. Literasi satire pun kini menjadi sebuah urgensi tersendiri.

Perubahan Positif

Satire standarnya memuat elemen, juga seni dalam berbahasa, seperti ironi, parodi, hiperbola, anthromorphisme (mengatribusikan karakteristik manusia ke karakter non-manusia), dan lain sebagainya. Tetapi, dalam keterbatasan waktu dan medium ini, karakteristik satire yang mendesak kita pahami lebih dulu adalah sifatnya yang mendorong pada perubahan positif.

Highet (1962) melalui The Anatomy of Satire secara gamblang menjelaskan bahwa tujuan satire, lewat humor dan cercaannya, adalah untuk mengobati kedunguan dan menghukum kejahatan. Caufield (2008) memperjelasnya lagi peran satiris dalam The Influence of ‘Infoenterpropagainment’: Exploring the Power of Political Satire as a Distinct Form of Political Humor, yakni mereka yang optimistis untuk memperbaiki keretakan yang ada di tengah masyarakat. Intensi baik penciptaan satire inilah yang menjadi perbedaan utamanya dengan hoaks atau berita bohong yang kental dengan misi untuk menjatuhkan.

Menukil Simpson (2003) dalam On the Discourse of Satire, benar adanya bahwa satire turut mengandung nuansa agresif atau ofensif. Sebab, memang ia mempunyai objek untuk diwejangi. Walau begitu, target satire ini lazim disamarkan atau disimbolisasi sedemikian rupa, sehingga si objek acap tidak terasa bahwa dirinyalah yang sedang disenggol.

Maka dari itu, satire tidak mungkin mengada-ada. Sindiran yang coba diungkapkan dalam satire tidak bakal mengeuforia atau terasa menyakitkan kalau tidak berbasis pada realita yang terpampang nyata dan dirasakan banyak orang. Apabila fenomena yang diangkat dalam satire itu salah, palsu, atau tidak pernah ada sebelumnya, tidak mungkin muncul apresiasi terhadapnya dari orang-orang yang merasa suara atau pemikirannya terwakilkan serta perubahan –setidaknya dalam pikirannya– dari para objek yang berhasil memetik esensi dari satire itu.

Dari efek itulah ciri satire kedua muncul, yakni kontemplatif. Satire tidak bisa dipahami dengan terburu-buru, asal-asalan, dan dengan pemikiran yang tertutup. Menyitir McClennen dan Maisel (2014) dalam Is Satire Saving Our Nation?: Mockery and American Politics, satire memuat fakta yang cenderung komprehensif sekaligus berani, dan lumrahnya, humor yang cerdas. Hal ini tercermin dari penelitian yang dikutip dalam tulisan Satire as Persuasion (Gruner, 1992) yang menunjukkan bahwa humor dalam satire cenderung dapat dinikmati konsumennya tanpa benar-benar dipahami sarinya.

Esai menampar Arwa Mahdawi di The Guardian lima tahun lalu –yang menyoroti potensi penyakit rabun satire kita– masih menyakitkan sampai sekarang. Menurutnya, cara kita memandang satire telah terdistorsi oleh penurunan rentang perhatian kita di era informasi ini.

Kajian Lorenz-Spreen dan kawan-kawan (2019) terhadap data-data daring dan luring memang membuktikan bahwa attention span global telah menurun. Bisingnya media sosial sekaligus informasi yang begitu cepat bersirkulasi nyatanya tak cuma berdampak pada bentuk perhatian warganet di media sosial dan keingintahuan mengeksplor suatu topik via search engine, tetapi juga merembet ke tren lain, seperti konsumsi film bioskop yang cenderung lebih cepat bergeser. Selain meditasi dan yoga, barangkali mengkontemplasikan satire sembari menajamkan rentang perhatian kita juga perlu digalakkan sebagai tren aktivitas peningkat kualitas diri.

Bahan Belajar

Seraya mengenang Dwi Koendoro yang berpulang pada 22 Agustus lalu, mari menjadikan karya agungnya, Panji Koming, sebagai bahan belajar. Kartun yang arsipnya masih bisa dinikmati di platform daring Harian Kompas tersebut bak alusio beragam aspek realita kita. Dalam bukunya Antara Tawa dan Bahaya: Kartun dalam Politik Humor (2012), Seno Gumira Ajidarma mengejawantahkan bahwa Panji Koming bermula dari buncahan atas represi rezim Orde Baru dalam menjaga citra positif pemerintah. Dwi Koen pun sengaja mengambil latar belakang “Majapahit” sebagai metafora Indonesia, lengkap dengan feodalisme Jawa yang mewarnai pemerintahan, untuk merealisasikan seni mengkritiknya.

Analogi Majapahit turut dirasa tepat sasaran untuk khalayak karena sifat pemerintahan kala itu yang bagai sebuah “kerajaan”. Presiden Soeharto bervisi menuntun Indonesia ke zaman kejayaan Majapahit, tetapi juga mengekang kebebasan berbicara karena opini publik yang menyeruak berpotensi menjatuhkan “takhtanya”. Praktis, Panji Koming sebagai bagian dari pers harus capai-capai bermetafora, bersemiotika, atau memayungi diri dengan simbol-simbol yang kreatornya seringkali kadang terasing sendiri.

Dalam tulisan Koentjoro dan Poespodihardjo (2010) berjudul Metafora Visual dan Bahasa Analogi dalam Panji Koming: Kritik Politik Lewat metafora Kartun” ditunjukkan bahwa Dwi Koen tidak hanya menelanjangi para petinggi negeri lewat kartunnya, melainkan saya, Anda, kita semua. Tokoh Panji Koming yang digambarkan suka menangkupkan kedua tangannya sembari “menjaga perasaan” Denmas Arya Kendor –yang lekat dengan representasi penguasa yang congkak, tamak, dan licik– juga merupakan sindiran terhadap masyarakat Indonesia pada umumnya yang hobi memosisikan dirinya lebih rendah demi menyenangkan orang lain yang status sosial atau ekonominya lebih tinggi.

Adapun Pailul, kompatriot si Panji, bersama kekasihnya, Ni Dyah Gembili, diciptakan dengan tabiat jujur, kritis, dan berani mengemukakan pendapat, bahkan kepada orang yang perilakunya tidak elok. Mereka merupakan utopia masyarakat versi Dwi Koen dalam menghadapi era dan pejabat yang makin koming (gila) ini. Secara khusus, Ni Dyah Gembili –karakter hasil rembuk dengan sang istri– juga menjadi representasi hati nurani perempuan dalam merespons fenomena yang sedang panas.

Selain memunculkan karakter berwujud manusia, Dwi Koen pun mengadopsi unsur-unsur alam. M Nashir Setiawan dalam Menakar Panji Koming (2002) menjelaskan bahwa pohon, petir, air, dan lain-lain melambangkan karma atas perilaku-perilaku menyimpang manusia. Tak jarang kita melihat alam menghukum Denmas Arya Kendor dan “bangsawan” lain atas sikap pragmatis hingga paternalisnya. Sementara Panji juga kadang kena batunya karena terlalu lugu dan penurut, tak sadar telah terhegemoni oleh penguasa.

Terus Lestari

Kalau kualitas kita begini-begini saja, paradoks satire bakal terus lestari. Lantas, akankah masa depan literasi satire Indonesia akan suram? Masih ada secercah harapan.

Survei dari Widiyastuti dan Fikry (2019) di Jurnal Prisma berjudul Analisis Humor Generasi Milenial di Internet berkesimpulan bahwa secara garis besar generasi milenial Indonesia memiliki selera humor yang sama dengan generasi milenial global. Namun secara khusus, generasi milenial Tanah Air masih menyukai guyonan parikena, yakni sindiran halus kepada orang lain. Ia lebih santun dari satire, tetapi tetap berjiwa nakal dan kental akan latar belakang masyarakat Indonesia yang punya niat perlawanan terhadap feodal.

Bekal ketertarikan milenial terhadap satire ini perlu dipelihara dan dipupuk. Andaikata pemerintah dan elite politik ingin turun tangan, minimal dengan tidak memblokir video satire seperti yang dilakukan terhadap produk The Juice Media dan membuang jauh-jauh keinginan menjerat para satiris sipil dengan UU ITE.

(Telah terbit di Detik)

    Leave Your Comment

    Your email address will not be published.*