Terbaru

Bagaimana Satire Melawan Ekstremisme?

Ahmed berlari dan menghindari tembakan, ia berlindung di balik tembok usang khas bangunan Suriah. Pada awalnya Ahmed terlihat seperti jihadis serius, tapi tidak setelah dia melontarkan sumpah serapah tidak jelas lalu melemparkan bedilnya ke tanah. Ia terseok-seok melintasi gundukan tanah kering, ia menutupi dirinya dengan burqa sambil mengedipkan matanya menggoda penjaga pos keamanan. Burqa itu membantunya kabur dari Suriah yang penuh bedil, lalu ia terbang ke Jerman.

Ahmed bermigrasi dari Marzahn ke Suriah dua tahun lalu. Ternyata Suriah tidak selalu ideal untuknya. Sekarang dia kembali, mencoba membangun kehidupan baru. Namun, Ahmed masih kembali ke pola perilaku lama dan bimbang.

Cerita Ahmed adalah bagian dari cerita satire yang dapat kita lihat di Youtube. Channel “Jihadi Fool” yang lucu mengemas cerita-cerita semacam itu, diluncurkan pada hari Kamis, 22 Agustus lalu oleh pemerintah Nordrhein-Westfalen (NRW) di pameran Gamescom di Köln, Jerman, dengan format komedi. Channel ini sebagai memberi pendidikan lewat video satire dan melawan propaganda Salafi dengan menyuguhkan fakta.

Jihadi Fool sebenarnya adalah plesetan dari Jihad Cool yang digunakan oleh para ekstrimis yang ingin mengubah citra jihad sebagai gaya hidup modis. Menariknya, gerakan kreatif seperti ini diinisiasi oleh pemerintah. Herbert Reul, Menteri Dalam Negeri NRW, melihat pentingnya menggunakan platform online yang sama untuk memerangi radikalisme dengan target kaum muda. Reul bahkan berkata, “kecerdasan, humor, dan fakta adalah senjata terkuat demokrasi.

Video satire yang berdurasi 5 menitan itu adalah senjata yang selalu siaga. Sekaligus menjadi pelajaran penting, bahwa satire dan humor mendapat tempat penting dalam merespon kalahnya Negara Islam (ISIS) dan fakta 3.100 ekstremis Salafi yang tinggal di negara bagian berpenduduk paling padat di Jerman itu bukan berarti hilang begitu saja.

Memang humor bisa menyinggung dan memecah belah, terutama lelucon tentang isu-isu sensitif, seperti ras dan agama. Selera humor seseorang mungkin merupakan pelanggaran bagi orang lain. Kontroversi kartun Muhammad dan kasus Charlie Hebdo misalkan, hanyalah ilustrasi kecil dari konflik sengit yang telah meletus karena masalah humor yang tidak pantas atau ofensif dan batas kebebasan berekspresi.

Kita semua telah melihat sisi buruknya. Tapi masih banyak sisi positifnya sebagaimana terlihat dalam keoptimisan cerita satire Ahmed dan Menteri Dalam Negeri NRW, Herbert Reul. Setidaknya dari proyek video Youtube mereka, kita bisa melihat keakraban humor dan agama sebagai media komunikasi efektif dalam menangkal ekstremisme.

Hubungan manusia dan membangun jembatan lintas komunitas memang berbeda dan beragam. Proyek Jihadi Cool menawarkan cara lain untuk melihat dunia dan melihat berbagai hal secara berbeda. Lelucon menyentuh isu-isu tidak nyaman atau sensitif, yang mereka bawa di tempat terbuka, dalam upaya untuk memecahkan tabu, stigma dan hambatan sosial, dan mengekspos kedangkalan radikalisme.

Agama dan humor sering dipandang dengan curiga atau sangat hati-hati. Sebagian karena agama berpijak pada kebenaran moral dan kepastian kepercayaan dan ada otoritas. Sebaliknya, humor berkembang pada ambiguitas dan penyelewengan, pembelokan dari norma sosial dan aturan moral.

Namun, agama dan humor lebih banyak kedekatan daripada yang biasa kita lihat selama ini. Kedekatan itu bisa kita periksa dari ilustrasi di atas. Selain mendapat tugas penting dalam memerangi radikalisme, satire Ahmed adalah contoh menarik untuk menjawab bagaimana humor (satire) dan agama saling terkait. Koneksi yang perlu kita pahami karena humor dan agama mempunyai ceritanya sendiri.

Misalnya, tertawa dan bercanda diperbolehkan dalam Islam asalkan pedoman dari Al-Quran dan hadits diikuti. Agar humor sesuai dengan Islam, lelucon tidak harus menghujat dan harus dalam batas adab. Bahkan ada hadits yang menyatakan Nabi mendorong lelucon tentang kebenaran. Abu Hurairah meriwayatkan hal itu: Ketika beberapa temannya berkata kepada Nabi Muhammad, “Wahai Nabi Muhammad, Anda bercanda dengan kami!” Dia menjawab: “Ya, saya tahu. Tapi saya hanya mengatakan yang sebenarnya.”

Sedangkan dalam tradisi agama lain, menaruh humor secara berlebih merupakan tindakan kasar dan tidak patut. Andrew Stott dalam Comedy (2014) memberikan contoh bagaimana agama dan humor dipisahkan. Stott (2014) menggambarkan pandangan Kristen Roma bahwa, “Teologi Kristen secara aktif menghargai kesederhanaan dan kemiskinan,… privasi dan kontrol diri “. Sangat kontras dengan budaya pagan pada waktu itu. Sekali lagi, dari sudut pandang non-religius, dan orang-orang secara tegas mengekspresikan diri mereka sebagai manusia melalui lelucon dan tawa, mereka bernyanyi bersama berkerumun dalam komedi.

Baik dalam tradisi Islam atau Kristen di masa lalu, sejarah ini mengingatkan kita, bahwa humor dan agama tidak bisa lepas dari konteks masa tertentu. Apa yang dilarang dan apa yang lucu sangat berbeda seiring pemahaman manusia atas humor dan agama. Secara keseluruhan, komedi dan agama seringkali dapat bertentangan dan terpisah. Tetapi keduanya saling mengisi dalam banyak bagian.

Humor, tawa dan kegembiraan, ditemukan dalam Alkitab, dan topik khotbah ataupun komedi yang membahas agama dan humor membantu membentuk dalam ikatan sosial satu sama lain. Humor dalam budaya masa kini sebenarnya dapat hidup berdampingan, dan sejauh memperbaiki, mengkritik, dan saling menginformasikan.

Satire bisa jadi alat yang kuat, alat untuk mengkomunikasikan ide-ide tentang hak-hak agama dan peran dalam masyarakat. Cerita Ahmed di atas dan tindakan  Herbert Reul yang menggaris bawahi satire itu penting, membawa kita untuk kembali melihat dan menyuarakan ide-ide dan hak-hak agama dalam ruang-ruang humor maupun agama.

(Telah terbit di GEOTIMES)

    Leave Your Comment

    Your email address will not be published.*