Terbaru

Melihat Humor dan Politik Bekerja

Akhir-akhir ini, penting bagi para politisi untuk menjadi sosok yang nyaman berbicara tentang kebijakan seperti menceritakan lelucon. Tidak ada ruginya bagi politisi untuk bisa bercanda. Sebenarnya, politik dan komedi memiliki sejarah panjang dan bertingkat. Dalam beberapa dekade terakhir komedi dan politik telah berubah dari teman canggung menjadi aliansi yang tak terpisahkan.

Acara satir seperti The Daily Show dan The Colbert Report telah menjadi bagian dari budaya politik warga AS. Lebih dari sekadar hiburan, keduanya menjadi sumber utama berita dan informasi bagi kaum muda. Tontonan seperti Saturday Night Live terus menyajikan pertunjukan politik yang menghibur, sementara bentuk komunikasi lebih baru seperti video Youtube, Twitter, dan meme secara teratur menangani tema politik dan mengolok-olok kandidat politik.

Perkembangan ini menimbulkan masalah penting. Apakah humor, dalam bentuk komedi mempengaruhi perilaku politik anak muda? Apakah seseorang menjadi lebih atau kurang terlibat secara politik sebagai hasil dari menonton tayangan kandidat di televisi? Apakah bahasa dan gaya komunikasi Jon Stewart atau Karni Ilyas menawarkan wacana publik? Dan, reaksi macam apa yang dimiliki audiens terhadap ocehan presenter yang menertawakan tokoh politik? Atau yang paling dekat, apakah Indonesia Lawyers Club yang penuh perdebatan itu bisa membuka pandangan segar terkait hiruk pikuk politik Indonesia?

Ketika liputan media cenderung berspekulasi tentang dampak komedi politik, para peneliti humor telah tertarik untuk mempelajari dan benar-benar menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Komedi lebih dari sekadar cara yang menyenangkan untuk melewati malam, humor lebih dari sesuatu yang menghibur. Humor masuk ke jalinan kehidupan sehari-hari. Baik saat seseorang berbagi cerita lucu di warung, membuat lelucon mencela diri sendiri atau orang lain; humor ada di mana-mana. Tapi untuk apa? Dan bisakah humor, sebagai komedi, mengubah perasaan, mengubah apa yang sedang dipikirkan atau bahkan apa yang dilakukan seseorang?

Sebagai bagian integral dari interaksi manusia, humor telah ada di benak para pemikir selama berabad-abad. Seperti yang dijelaskan Peter McGraw dan Joel Warner dalam The Humor Code (2014), “Plato dan Aristoteles merenungkan makna komedi sambil meletakkan dasar-dasar filsafat Barat. Charles Darwin mencari benih tawa dalam tangisan gembira simpanse yang menggelitik. Sigmund Freud mencari motivasi yang mendasari lelucon di celah alam bawah sadar kita.”

Terlepas dari apa yang disebutkan McGraw, salah satu teori humor yang paling bertahan lama adalah dari Thomas Hobbes. Hobbes menegaskan bahwa humor seolah-olah mengolok-olok yang lemah dan menonjolkan superioritas. Meskipun konsep ini jelas merupakan fungsi dari beberapa komedi, misal, komedi slapstik yang mengolok-olok tubuh atau kedunguan disengaja. Tentu saja, teori superioritas ini bukanlah tujuan satu-satunya dari humor. Masih banyak konsep lain hingga saat ini yang masih dipakai.

Dalam buku Ha! The Science of When We Laugh and Why, Scott Weems (2014) menunjukkan bagian otak yang merespons ketika kita menemukan kelucuan. Menurut Weems pada dasarnya humor adalah suatu bentuk proses psikologis, mekanisme koping yang membantu orang untuk menangani pesan kompleks dan kontradiktif, “respons terhadap konflik dan kebingungan di dalam otak”. Inilah alasan mengapa seseorang tertawa dalam menanggapi peristiwa yang gelap, membingungkan, atau tragis dan di saat bersamaan dalam situasi tersebut kita tidak boleh tertawa sama sekali.

Mulai dari pengertian paling filosofis hingga psikologis, humor lebih dari sekadar tertawa. Seiring perkembangan media yang terus mereproduksi berbagai makna humor itu, hubungan humor dan politik semakin terbentuk. Misal dengan meleburnya lanskap berita dan hiburan, muncullah acara komedi politik seperti The Daily Show. Bahkan, karena interaksi yang lebih masif dan siapa saja bisa menggunakannya, humor dan politik digunakan sebagai alat kampanye atau sekadar melawan oposisi, bahkan digunakan sebagai alat kritik paling canggih oleh rakyat.

Melihat humor dan politik bekerja, khususnya di ranah media, terlihat fungsi sosialnya yang nyata. Selama bertahun-tahun para peneliti telah membangun bukti yang kuat bahwa beberapa jenis komedi, termasuk satire tingkat tinggi yang semakin populer, melakukan fungsi sosial yang kuat, mulai dari melanggar tabu hingga membuat mereka yang berkuasa terusik. Avner Ziv, penulis banyak buku tentang humor, mengeksplorasi tema ini secara luas. Ketika menulis dalam Personality and Sense of Humor (1984), ia mengatakan, “Komedi dan satire memiliki kesamaan dalam arti keduanya mencoba mengubah atau mereformasi masyarakat melalui humor. Kedua bentuk ini bersama-sama merupakan ilustrasi terbaik dari fungsi sosial humor.” Komedi dapat dikatakan sebagai platform untuk memajukan keadilan sosial.

Bagi beberapa komedian, humor bukan hanya soal tertawa, tapi juga tentang mengubah apa yang dipikirkan dan bahkan mungkin apa yang dilakukan seseorang. Satu komika yang benar-benar mempersonifikasikan isu ini adalah Josie Long. Seorang aktivis keadilan sosial dan komedian, Long memiliki reputasi humor menyenangkan, optimis, aneh, dan penceritaan yang gesit. Dia telah melakukan komedi sejak remaja dan acara Radio BBC terbarunya, Romance and Adventure dipuji secara luas.

Karier Long kini telah berkembang, ia secara sadar telah menempatkan topik sosial dan politik di jantung komedinya. Dia percaya bahwa komedian memiliki peran dalam mengartikulasikan dan menantang beberapa masalah paling mendesak saat ini. Apapun yang terjadi dalam masyarakat Inggris, komedian segera berdiri memulai proses analisis dan menafsirkannya kembali. “Politik bisa membuat Anda terkepung, terganggu, sengsara,” kata Long. Satire adalah untuk menindas yang nyaman dan menghibur yang menderita. Long menyaring realitas politik Inggris kontemporer terutama apa yang ia lihat sebagai ketidakadilan yang dilakukan pemerintah melalui humor.

Dalam kasus Long, apapun yang terjadi dalam masyarakat Inggris, stand-up segera memulai proses mendiskusikan dan menafsirkannya kembali. Proses ini tentu melibatkan lebih dari sekadar ekspresi sudut pandang individu. Jenis pengamatan yang dilakukan oleh komika seperti Long seolah menampilkan bercanda secara sosial adalah cara membangun ikatan dengan orang-orang. Komedi politik dapat menumbuhkan rasa cita-cita bersama. Selain itu, komedi bisa menjadi cara menyampaikan ide-ide kritis, memperkuat atau melemahkan stereotip.

Naiknya komedi politik adalah salah satu aspek paling menarik dari peran humor dalam dunia hiburan AS, dan dalam budaya negara yang lebih luas. Meskipun hanya membutuhkan sesuatu acara TV konyol untuk ditonton, komedi memiliki resonansi yang jauh lebih besar. Dalam kasus AS, komedi telah menjadi sangat baik karena berita telah menjadi sangat buruk. Dengan kata lain, komedian terbaik adalah antropolog dan kritikus budaya yang paling efektif. Komedi politik, jika dilakukan dengan benar, adalah sistem penyampaian kebenaran.

Memenangkan Pemilu

Ketika Presiden Barack Obama merencanakan strateginya untuk menyebarkan berita di internet terkait asuransi Obamacare pada 2014, ia memilih komedian Zach Galifianakis.

Komik dan aktor Galifianakis telah menjadi pembawa acara talk show dan pemenang penghargaan Emmy parodi Between Two Ferns sejak 2008. Obama mengakui bahwa penampilan talk show tiruan ini akan mencapai target audiens muda, warga Amerika yang tidak punya asuransi.

Obama dan Galifianakis menunjukkan hubungan yang saling tergantung antara politik dan komedi sepanjang abad ke-21. Dalam mengakrabkan keduanya, hadirnya satire dan parodi sebagai alat setara komedi politik penting untuk mendorong pertukaran terbuka antara politisi, komedian, dan masyarakat untuk mempengaruhi, menghibur, dan berkomunikasi dalam proses politik.

Sementara para kandidat menyeimbangkan “antara keaslian dan ilusi” menuju jalan ke kepresidenan, komedian menyeimbangkan satire dan parodi untuk menghasut, mencerahkan dan menghibur masyarakat. Pada tingkat ekstrem ini, satire bisa begitu panas di luar kendali sehingga bisa menyebabkan orang mempertanyakan gagasan mereka sendiri tentang pemerintah dan masyarakat mereka. Sebagai contoh, Saturday Night Live telah membangun keseimbangan satire dan parodi yang baik, dan mempunyai dampak paling dilembagakan pada reputasi presiden.

Komedian dan humoris hari ini melakukan lebih dari sekadar mengomentari politik; mereka juga membantu membentuknya. Kita bisa mulai berpikir, bagaimana lelucon bisa memenangkan pemilu dan mulai mengeksplorasi efek meme dan humor politik selama kampanye presiden. Secara online, lelucon adalah akselerator kuat untuk membuat kampanye yang mulus, tapi tweet lucu beberapa kalimat dari netizen juga punya daya kritis sendiri. Lanskap media online saat ini mengaburkan perbedaan antara seorang lawan dan seseorang yang berpura-pura menjadi kawan. Iklan tampak seperti berita, begitu pula propaganda dan komedi yang sebenarnya, baik di kanan maupun di kiri memiliki muatan tersendiri.

Dan tentu saja, kemudahan saling balas tidak membuat orang terus-menerus kritis. Menjelang hari-hari terakhir kampanye, perlombaan tersebut dirasa kurang didorong oleh perselisihan kebijakan dibandingkan dengan perang disinformasi yang buruk, di balik itu semua seseorang sedang bermain untuk tertawa. Bagaimana bisa melawan musuh yang sedang bercanda?

Seperti yang telah kita lihat, humor dapat digunakan dalam berbagai cara dan untuk berbagai tujuan, beberapa yang bahkan mungkin bertentangan, tergantung pada tujuan seseorang. Sepanjang sejarah salah satu tujuan utama dari komedi adalah untuk menerangi cara kita hidup secara politis dan untuk mengkritik bagaimana dunia ini dijalankan. Seorang komedian kawakan, George Carlin pernah mengatakan, “Tidak ada yang lebih dari dirinya sendiri daripada ketika seseorang benar-benar tertawa. Mereka benar-benar terbuka sepenuhnya ketika pesan sampai ke otak dan tawa dimulai. Saat itulah ide-ide baru dapat ditanamkan. Jika ide baru menyelinap masuk pada saat itu, ia memiliki kesempatan untuk tumbuh.”

Apa yang dikatakan Carlin sebenarnya adalah hasil dari ketidaksesuaian (Incongruity Theory). Teori ini menggambarkan humor sebagai pengalaman menyenangkan dari ketidakcocokan antara apa yang kita harapkan dengan apa yang kita alami. Harapan yang dipatahkan ini dekat sekali dengan kita sejak masyarakat Indonesia dibangun dengan cita-cita demokrasi, tetapi dibanjiri realitas sosial dan ketidaksempurnaan politik. Komedi dapat membawa kesadaran perbedaan dan dengan cara inilah seseorang bisa mendengar. Fakta ini membuat humor menjadi alat komunikasi kuat dan agen perubahan, jauh melampaui nilai umumnya sebagai hiburan.

Kembali melihat komedian Jon Stewart dan bagaimana The Daily Show menjadi fenomena budaya pop dan kekuatan politik, menantang kita menangkap kekuatan yang dimiliki humor untuk mengubah cara kita berpikir dan memilih.

(Telah terbit di Detik)

    Leave Your Comment

    Your email address will not be published.*