Teaching with Humor bareng Pelaku Humor di Kemendikbud

IHIK3, Jakarta—Tidak terasa pelaksanaan pelatihan “Teaching with Humor” sudah memasuki kali ke-5. Dilaksanakan pada 25 April, program yang mengajak para pendidik untuk menggunakan humor didalam ruang ajar ini memang sudah beberapa kali diselenggarakan. Tapi ada yang berbeda pada pelaksanaan kali ini, karena Institut Humor Indonesia Kini (Ihik3) bekerjasama dengan Pengurus Pusat Persatuan Seniman Komedi Indonesia (PaSKI) dan didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, menggelar kegiatan ini untuk para Guru SMA dan orang-orang yang terkait dengan Pendidikan. Peserta yang hadir beragam dari mulai Guru, calon Guru hingga mahasiswa yang ingin belajar mengenai penerapan humor di dalam ruang ajar. Jarwo Kwat selaku ketua Umum Pengurus Pusat PaSKI dalam sambutannya berharap kegiatan ini dapat berlanjut dan menjadi agenda rutin dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Acara ini terselenggara untuk memperingati hari Pendidikan Nasional dan merupakan salah satu rangkaian acara hari jadi PaSKI ke-14 yang bertajuk “PaSKI Bhakti Komedi”.

Acara berlangsung di Aula kantor Kemendikbud Gedung F lantai 6 yang beralamat di jalan Jendral Sudirman, Senayan Jakarta Pusat. Acara pelatihan hari itu dibuka oleh Bapak Iskandar Eko mewakili Direktur Kesenian Kemendikbud RI dan dalam sambutannya beliau memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pengurus Pusat PaSKI atas terselenggaranya acara tersebut. Kegiatan pelatihan diawali dengan sesi berbagi dengan para Komedian yang hadir hari itu seperti Rudi Sipit, Komeng, Jarwo Kwat, Denny Chandra, Maman Suherman sampai Oppie Kumis. Dari para komedian senior ini peserta mendapat pencerahan bagaimana seharusnya humor digunakan mengingat ketika semasa sekolah dulu kenangan yang tersimpan sampai saat ini adalah wajah galak para guru di masa itu. Sesi diskusi dengan komedian berakhir di jam 12.00 wib untuk istirahat, sholat dan makan siang untuk kemudian dilanjutkan jam 13.30.

Maman Suherman selaku Pembina PaSKI sekaligus penggiat literasi membuka sesi pelatihan dengan mengingatkan betapa pentingnya kebiasaan membaca. Dalam paparannya, Kang Maman menyampaikan fakta miris seputar dunia literasi di Indonesia karena menyedihkan sekali ketika membaca studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Itu artinya Indonesia berada persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Botswana (61). Di sisi lain, Kang Maman menggambarkan bahwa seorang guru layaknya seperti seorang komedian juga harus mempersiapkan diri ketika menyampaikan materi ajarnya di kelas dan persiapan itu termasuk “amunisi literasi” serta penggunaan pendekatan jurnalistik untuk mempersiapkan materi pendukung lainnya.

Paruh kedua pelatihan diisi oleh Novrita Widiyastuti selaku CEO dan Yasser Fikry selaku CCO dari Ihik3. Pembukaan paparan peserta diajak memahami humor melalui metafora humor di dalam musik klasik, layaknya suasana kelas yang hening, humor hadir coba memberikan warna lain agar suasana menjadi lebih ceria dengan tanpa mengorbankan materi yang disampaikan. Selain itu, Novrita dan Yasser juga menyoroti keengganan para pendidik untuk menggunakan humor dalam ruang ajar karena diserang kekhawatiran akan turunnya wibawa di depan siswa ajar termasuk merasa dirinya tidak punya kemampuan hebat layaknya para komedian professional. Padahal, keengganan tersebut tidak beralasan karena seperti layaknya penggunaan obat untuk penyembuhan penyakit, humor digunakan tidak setiap saat dan jika digunakan di momen yang tidak tepat jelas akan mengurangi kewibawaan. Terkait dengan kemampuan berhumor yang dikomparasi dengan komedian professional jelas tidak “apple to apple” karena keduanya adalah dua profesi yang berbeda. Komedian mempunyai tolak ukur keberhasilan melalui parameter Laugh Per Minute (LPM) sedangkan guru tolak ukurnya adalah daya serap materi yang disampaikan. Selain teknik dan formula, pemaparan hari itu juga dilengkapi dengan etika berhumor di kelas agar penggunaan humor tidak melemahkan posisi pengajar yang tentunya akan berefek pada turunnya wibawa.

Pelatihan berakhir tepat pukul 16.00 dan ditutup dengan diskusi sambil menikmati coffee break, momen ini menjadi penting karena diskusi yang bersifat personal akan membuat peserta bisa berbagi pengalaman. Dan akhirnya Institut Humor Indonesia Kini (Ihik3) mengucapkan terima kasih kepada Pengurus Pusat Persatuan Seniman Komedi Indonesia (PP PaSKI) untuk kerjasama yang telah terjalin serta tentunya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia atas terselenggaranya kegiatan ini. Besar harapan kami agar virus humor ini bisa terus ditularkan kepada para pendidik lain agar pengajar dan siswa ajar dapat menciptakan ruang ajar yang jauh lebih menyenangkan. Salam ihik ihik ihik… (YaF, 06.05.2019)

    Leave Your Comment

    Your email address will not be published.*