Humor Itu Serius

/, Jokes, Laughter, Satire/Humor Itu Serius

Humor Itu Serius

Arwah-edan

Humor Itu Serius

Oleh Arwah Setiawan – Dimuat di Harian Kompas, Selasa, 9 Agustus 1977

Humor adalah suatu komoditi yang pengadaannya sekarang tidak terlalu mengkhawatirkan di Indonesia. (Dalam tulisan ini, kata “humor” dipakai dalam pengertiannya yang paling umum dan luas – segala rangsangan mental yang membuat orang tertawa). Di mana-mana, di tengah keadaan yang rata-rata dinilai belum tenteram-bahagia ini, kita masih lihat khalayak ramai tersenyum-senyum, bahkan terbahak-bahak. Kesenian tradisional tak sepi dari tawa: wayang, ludruk, lenong. Yang kontemporer pun tak ketinggalan: teater remaja, Arifin C Noer, Rendra. Humor dijadikan acara harian TVRI, dalam bentuk lawak maupun film-film serial komedi dan kartun. Penonton bioskop secara rutin dirayu gelaknya oleh seri badutan Benyamin dan Ateng-Iskak. Di seberang isak-ratap lagu-lagu pop, pendengar masih juga sempat terkekeh oleh urakannya Usman Bersaudara atau olok-olok Bimbo dengan “Tante Sun”-nya. Industri kaset menyebarkan model baru dagelan Basiyo sampai Surya Grup. Dan media massa bertebarkan gambar kartun dan tulisan humor.

Lain keadaannya, kalau kita bicara apresiasi humor, yang maksudnya daya tanggap atas humor dari segi kualitatifnya. Yang diadikan sumber tawa masih hal itu-itu juga: cebol, gembrot, bencong, zat dan gas buangan tubuh manusia. Sudjoko, itu penulis humor “tinggi” pernah mengeluh dalam suatu suratnya: “Di Indonesia sekarang saya melihat suatu kontradiksi yang mengkhawatikan. Bangsa kita ini ahli dagelan dan ludruk dan bebodoran, tapi ternyata tidak mengerti dan tidak paham humor.“ Salah tafsir rupanya sudah menjadi semacam risiko usaha bagi para penulis humor maupun bagi para humoris tampil seperti Kris Biantoro maupun grup Sri Mulat.

Humor itu pembantu

Salah satu cirri buruk manusia Indonesia, kata Mochtar Lubis, ialah bahwa ia munafik. Dan salah satu ciri baiknya, ialah bahwa ia punya rasa humor yang besar. Tapi payahnya, kata saya, ialah bahwa soal humor pun manusia Indonesia masih sempat munafik.

Stephen Leacock, humoris Kanada zaman pergantian abad akhir, pernah membuat pengamatan yang sekarang sudah nyaris jadi klise, yang di sini sudah di-“afdruk” OG Roeder dan Mukti Ali. Katanya, kita dapat menuduh orang dengan tuduhan apa saja kecuali bahwa ia tidak memiliki rasa humor. Dituduh begini ia akan gusar.

Tapi sementara manusia Indonesia akan gusar dituduh tidak punya rasa humor, tak akan kalah gusar bila ia dianggap pelawak. Dan sementara ia mengaku terpingkel-pingkel melihat film Inem Pelayan Sexy, ia akan sakit jantung bila anaknya mengikuti jejak Jalal menjadi “badut”. Yang ia inginkan tentunya anaknya menjadi dokter atau tentara, meski dokter dan tentara belum tentu lebih kaya dairpada Jalal.

Ketika saya masih mengasuh majalah humor Astaga, ada beberapa tokoh otak sebangsa doktor dan profesor yang mengirimkan tulisan humor mereka kepada kami. Tulisan mereka memang lucu, dan kami muat dalam majalah. Yang kurang lucu adalah pesan yang selalu menyertai naskah demikian, yang meminta agar nama asli mereka jangan disebut — pakai nama samara saja. Alasannya pasti bukan keselamatan, melainkan nama baik. Jadi orang-orang begini suka kelucuan, suka melucu, tapi tidak suka ketahuan suka melucu.

Sikap begini memang tercermin dalam (atau diakibatkan oleh?) seni tradisional. Dalam pewayangan saja tugas melawak diserahkan kepada Semar-Gareng-Petruk, itu punakawan atau tim “pembantu” para satria. Ndoro-nya, Arjuna, adalah satria sakti gagah berani, jadi harus halus dan serius meskipun boleh playboy. Buat atasan, seks masih lebih boleh daripada humor. Dalam bentuk-bentuk pementasan tradisional lain pun tokoh jongos dan babu merupakan obyek dan subyek humor yang tetap.

Memang bukan hanya di kalangan manusia Indonesia saja sikap begini bercokol. Dalam bukunya Asian Laughter, Leonard Feinberg memperhatikan bahwa “Di Negara-negara Asia, humor dan satire biasanya dipandang sebagai bentuk pengungkapan estetis yang lebih rendah …. Asia tak pernah memberikan pengakuan resmi kepada para satiris jeniusnya seperti yang diberikan dunia Barat kepada Aristophanes, Cervantes, Moliere, Rabelais.” Tetapi daripada mencari angin dari keadaan yang serupa dengan kita, sebaiknya kita jadi lebih menyadari bahwa ada masyarakat lain di dunia ini yang bisa memberikan penghargaan kepada para humorisnya dan menempatkan mereka pada kedudukan yang selayaknya.

Dan kalau tokoh-tokoh humoris masih disuruh jongkok sama rendah dengan pembantu dalam jenjang masyarakat kita, begitu pula humor itu sendiri baru dipandang sebagai unsur pembantu dalam kebudayaan kita. Seorang dari kelas atas masih boleh menyentuh humor, asal humornya sekadar untuk memeriahkan obrolan di antara teman, atau buat menyegarkan ceramah ilmiah serta menyemarakkan kampanye politik. Tapi kalau humor yang paripurna, berdiri sendiri, itu kurang gengsi — kerjaan badut-badut.

Manakala ada usaha mengaitkan humor dengan suatu budang budaya lain, susunannya akan seperti: “syair ini lucu”, “gambar ini menggelikan”, film ini “banyak banyolannya”. Jarang terpikirkan untuk menyusun seperti: satire ini indah bahasanya, kartun ini matang goresannya, komedi ini rapi dramaturginya. Maka kalau sudah diketahui ada humor dalam sastra, ada humor dalam pers, ada humor dalam drama, belum disadari adanya aspek sastra dalam humor, aspek komunikasi massa dalam humor, aspek teaterd alam humor. Ibarat masakan, humor dianggap bumbu penyedap belaka bagi hidangan lain. Kurang dipikirkan humor sebagai hidangan pokok penuh gizi.

Tapi andaipun sudah sampai sebegitu saja – humor sebagai unsur dari bidang budaya lain telah benar-benar dipelajari – sudah lumayanlah keadaannya. Payahnya, masih begitu sulit untuk menemukan artikel yang popular saja, karangan asli Indonesia yang membahas humor. Jangan lagi bicara buku, yang padahal di luar sudah ditulis oleh tokoh-tokoh berat seperti Henri Bergson, Sigmund Freud, Arthur Koestler, dan ratusan lainnya.

Semua bidang cipta diciptakan sederajat

Tapi benarkah memang “dari sono”-nya humor itu sepele? Benarkah humor tidak memiliki unsur-unsur yang memungkinkannya berdiri sama tinggi dengan sector-sektor budaya lain yang sudah lebih diakui?

Dalam bukunya, The Act of Creation, Arthur Koestler membagi kreativitas manusia ke dalam tiga wilayah (three domain of creativity): Humor, ilmu pengetahuan (discovery) dan seni (arts). Ketiganya sederajat, karena semua dapat diberlakukan pada peristiwa yang sama dan batasannya sering tumpang tindih. Kegiatan kreatif ketiganya berjalan di atas proses yang sama, yaitu mencari analogi tersembunyi. Yang membedakannya adalah iklim emosi yang terlibat, baik yang mendasarinya maupun yang diakibatkannya.

Humor membuat orang tertawa, ilmu pengetahuan mengakibatkan orang menjadi paham, seni membuat orang takjub atau terharu. Emosi yang mendasari humor bersifat agresif, ilmu pengetahuan didekati dengan emosi netral atau berjarak, seni diliputi rasa kagum atau belarasa.

Humor mempunyai logikanya sendiri. Logika humor, oleh Koestler didasarkan pada teorinya, bisosiasi. Bisosiasi adalah proses kreatif yang berjalan di atas lebih dari suatu bidang datar kerangka pemikiran atau konteks. Ini berbeda dengan proses kreatif lainnya, yang berlangsung di atas satu dataran konteks saja. Sebagai ilustrasi:

Seorang wanita cantik yang sok agung dirayu oleh seorang pemuda. “Maaf ya, Dik,” tolak wanita itu, “Hatiku adalah milikku sendiri.”

“Tapi, Say,” sahut pemuda itu, “sasaran saya tidak setinggi itu.”

Istilah “tinggi” di sini dibisosiasikan dengan konteks kiasan (ungkapan “tinggi hati”) dan konteks jasmaniah (letak anatomis). Penangkapan humor tergantung pada kelincahan rasio untuk meloncat dari bidang konteks pertama ke bidang konteks kedua. Emosi yang sejak dasarnya memang lebih lamban tidak dapat mengikuti rasio dan akan terhambur dalam tawa. Dari sini tampak, humor pertama-tama, merupakan kegiatan pikiran, intelek.

Kekreatifan dapat pula dilihat dari segi pentahapan proses cipta. Seorang wartawan yang ingin membuat laporan tentang persitiwa aktual, misalnya, harus melalui dua tahap penciptaan. Pertama adalah menganalisa peristiwa tersebut dan memilih unsur-unsurnya untuk diciptakan menjadi gagasan yang analogis dengannya. Tahap kedua adalah ketika ia mencipta sebuah karangan tulisan dari gagasan analogis itu.

Seorang humoris yang menulis sebuah satire dari peristiwa yang sama – maupun seorang sastrawan yang ingin membuat cerpen darinya – harus melalui tiga tahap dalam proses penciptaannya. Pertama ia akan menciptakan suatu gagasan analogis langsung dari peristiwanya. Lalu ia harus melalui tahap kedua, yaitu mencari analogi humoristik (pada cerpen analogi estetis) dari gagasan tadi. Barulah dari gagasan humoristis hasil tahap kedua itu diciptanya pada tahap ketiga, sebuah tulisan satire.

Humor sebagai sumber daya manusia

Di samping kreatif, humor memiliki dayaguna yang sangat luas. Dayaguna humor agaknya sudah secara universal disadari, meskipun belum tentu diamalkan. Tidak hanya bangsa-bangsa demokratis –liberal, bahkan masyarakat-masyarakat “terpimpin” pun menyadarinya. Di Uni Soviet misalnya, salah satu majalah yang paling menonjol adalah Krokodil, sebuah berkala yang isinya humor belaka. Dan dari ujung kanan spektrum politik, Presiden Park Chung Hee dari Korea Selatan pernah menyatakan: “Lebih dari masa lalu, sekarang humor dapat memainkan peran obat penenang guna mengendorkan ketegangan dan menguraikan keresahan umat manusia dalam masyarakat yang kini ditimpa dehumanisasi ini.”

Ada dua jenis kegunaan humor: yang langsung dan yang tak langsung. Kegunaan langsung humor yang sudah paling banyak diketahui adalah untuk menghibur. Karena sudah disadari di mana-mana tak perlu dipanjanglebarkan di sini.

Suatu kegunaan langsung yang penting dari humor adalah sebagai sarana koreksi sosial, sebagai bentuk kritik. Dalam setiap masyarakat di seluruh dunia sudah pasti ada ketidakpuasan tertentu terhadap keadaan dan pihak yang dianggap penanggungjawab keadaan tersebut, yakni “penguasa”. Ketidakpuasan bisa disumbat – kritik tak boleh dikeluarkan. Dalam hal begini, apabila alat-alat kekuasaan cukup ampuh, akan terjadi implosi, ledakan ke dalam, yang akan menghancurkan semangat warga. Sedang apabila alat kekuasaan kurang efektif, ketidakpuasan tadi akan membocor dalam bentuk gunjing dan sas-sus yang akibatnya tidak lebih baik dari pada apati.

Atau isi hati rakyat dibiarkan keluar, kritik dilepaskan leluasa. Tapi kritik yang memekik-mekik dan memaki-maki dapat meliar menjadi hasutan ke arah tindakan kekerasan. Dan kritik yang ilmiah, dan yang disampaikan secara langsung atau tertutup, tidak begitu membantu dalam segi penyaluran rasa tak puas masyarakat banyak. Harus diingat fungsi kritik sosial ada dua: untuk memperbaiki kekeliruan, dan guna menyalurkan ganjalan dalam hati si pengritik maupun khalayak yang sependirian dengannya.

Atau kritik bisa dilontarkan bersama tawa. Berbeda dengan kritik yang tertutup dan ilmiah, kritik humor yang terbuka akan mengikutsertakan masyarakat banyak. Keterbuaan menyababkan rakyat merasa diwakili, dan humor dinikmati khalayak ramai. Di sini keterangannya mengapa Rendra mendapat sukses yang begitu besar. Dan berbeda dengan kritik yang berkobar-kobar, kritik humor sulit menyulut nafsu massa untuk mengamuk. Sudah terkenal dalam ilmu jiwa, humor justru menjadi pengganti kekerasan, penyalur nafsu-nafsu agresif dalam jiwa manusia.

Dunia dan sejarah penuh dengan masyarakat-masyarakat yang memanfaatkan humor dari segi ini. Encyclopedia Britanica misalnya mengungkapkan tentang suku Ashanti di Afrika yang secara berkala menyelenggarakan kesempatan bagi rakyat untuk memperolok rajanya. Kepada seorang tamunya, pernah raja ini bahkan minta agar si tamu turut mengejek-ejeknya. Atau tentang Paus Adrianus VI yang semula sangat marah dengan syair-syair satiris yang ditulis orang mengenainya. Tapi kemudian dibiarkannya saja lawan-lawan pendiriannya bertindak demikian karena ia jadi sadar bahwa mereka, lewat cara yang relatif aman, hanya sedang menyalurkan perasaan yang kalau tidak begitu akan jauh lebih berbahaya akibatnya.

Salah satu kegunaan langsung lain dari humor adalah sebagai sarana yang menarik untuk menyampaikan informasi. Kita memang sedang diserbu informasi dari segala penjuru. Tapi segala informasi itu datang dengan jurus yang lempang, sehingga awam cenderung jenuh dengannya. Maka informasi lewat humor, karena masih langka dan terbungkus kesegaran, kiranya akan lebih mudah sampai pada khalayak ramai.

Ilmu humor

Di samping kegunaannya yang langsung, humor juga dapat dimanfaatkan secara tak langsung, sebagai cabang ilmu tersendiri. Ini baik guna memperkaya khasanan perbidangan ilmu, maupun guna melengkapi ilmu-ilmu lain yang sudah berjalan seperti psikologi, antropologi, sosiologi, sastra, politik dan sebagainya. Para psikolog sudah lama memandang humor sebagai semacam jendela darimana dapat dijenguk relung-relung yang lebih dalam dari jiwa manusia. Di samping sikap, tutur bahasa atau cara busana, humor merupakan indikator yang sangat penting untuk mengetahui watak seseorang.

Hal ini tentu dapat kita perbesar sampai lingkup masyarakat. Watak suatu kelompok masyarakat, maupun bangsa, tentu juga terpantul dari humor yang hidup di dalamnya. Tapi selama ini, untuk mengenal lebih banyak watak suatu kelompok masyarakat, yang dilakukan barulah penelitian terhadap kesenian tradisional, kepercayaan, folklore, atau struktur kekuasaan dalam masyarakat bersangkutan. Belum pernah yang terhadap humornya. Daripada dicap terlalu mengada-ada, sekali lagi saya terpaksa mengacungkan pembanding dengan menunjuk ke luar bahwa banyak sudah buku humor yang ditulis dalam kaitan demikian. Satu contoh yang bagus dan banyak dikutip adalah Constance Rourke punya American Humor, A Study in the National Character (1927).

Lembaga penelitian dan pengembangan humor

            Menyimpulkan segala yang dipaparkan di muka, kita dapat melihat adanya kepincangan besar antara besarnya kehadiran serta potensi humor di satu pihak dan kecilnya apresiasi serta pemanfaatan humor di lain pihak. Apalagi kalau dibandingkan dengan bidang-bidang budaya lainnya. Maka rasanya boleh juga kita mulai memikirkan penghapusan sistem kasta dalam dunia budaya kita, di mana ilmiah lebih terhormat daripada indah, dan indah lebih mulia daripada lucu. Atau di mana ilmu dan seni sudah diakui sebagai wilayah-wilayah kebudayaan yang “resmi” dan humor masih berkedudukan “underground”.

Barangkali ada baiknya dilancarkan suatu upaya yang lebih disengaja dan terkoordinasi untuk membudidayakan humor. Misalnya, antara lain: dengan membentuk semacam pusat pembinaan humor yang mengadakan dua jenis kegiatan, yaitu di bidang praktik dan di bidang teori. Di bidang ptaktik umpanya menerbitkan majalah atau buku-buku, mendirikan semacam perkumpulan humoris, membentuk bank naskah komedi. Atau menyelenggarakan secara berkala suatu (event) humor yang bisa mencakup bermacam kegiatan seperti festival lawak, pameran karikatur, sayembara penulisan humor, pembacaan anekdot (sebagai tandingan pembacaan puisi).

Di bidang teori, pusat ini dapat mendirikan suatu badan atau lembaga yang menjalankan penelitian humor, melakukan dokumentasi humor, menyelenggarakan ceramah, seminar atau diskusi tentang humor, menggiatkan kritik-kritik humor. Dan setelah tergeletak atau geleng-geleng kepala sejenak, baiklah dipikirkan lebih mendalam mengapa istilah-istilah seperti “Lembaga Penelitian dan Pengembangan Humor”, “Pengantar Ilmu Humor”, bahkan “Sarjana Humorologi” tidak boleh ditanggapi dengan serius.

Arwah Setiawan, Ketua dan Pendiri LHI (Lembaga Humor Indonesia). Artikel ini merupakan ringkasan ceramahnya di Taman Ismail Marzuki, tanggal 26 Juli 1977.

2016-02-29T11:29:59+00:00Februari 29th, 2016|Comedy, Jokes, Laughter, Satire|0 Comments

Leave A Comment