danny 1

Berpikir dan Berjiwa Lucu

Oleh Danny Septriadi

Setiap hari, kita bersentuhan dengan berbagai aspek yang berkaitan dengan humor (Cucinella:2014). Di Facebook, Instagram, Twitter, Pinterest, kita menjumpai aneka meme, emoticons dan emoji yang menyentak perhatian; tak terkecuali kadang kita jumpai juga di iklan produk maupun TV.

Jika humor berada di sekitar kita, maka memahami humor menjadi suatu perjalanan berharga yang patut untuk dilakoni. Ini jadi mengingatkan kita tentang Christie Davies dalam (Franzini:2012) yang menyatakan bahwa “most people spend a larger portion of their lifetime in telling, reading, or listening to jokes than they do voting, stealing, and rioting. Maaf sengaja tidak saya terjemahkan karena saya tahu siapa pembaca tulisan ini.

Bahkan, Anonymous (Deena Baxter:2014) dalam buku berjudul Surviving Suicide-Searching for “Normal” with Heartache and Humor yang mengutip pernyataan bahwa “there is not much laughter in the medicine, but there is a lots of medicine in the laughter”. Nah!

Artikel ini berupaya untuk mendukung pernyataan Cucinella, Christie Davies, dan Anonymous bahwa banyak hal mengenai humor yang sangat sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari.

Peran Humor dalam Komunikasi

Keterampilan berkomunikasi adalah merupakan peringkat tertinggi dari keterampilan yang wajib dimiliki oleh semua pencari kerja. Menurut John Capps dan Donald Capps dalam bukunya “You’ve Got To Be Kidding!-How Jokes Can Help You Think” menekankan bahwa jokes mampu mengajak seseorang untuk berpikir kritis dan mempermudah untuk mendeteksi jika ada yang salah dalam berkomunikasi.

Hal ini sejalan dengan pernyataan Plato (Marques, Dhiman, dan Biberman:2012) bahwa “serious things cannot be understood without laughable things.” Kemudian timbul pertanyaan, mengapa untuk menjadi seorang komunikator yang baik harus menguasai komedi? (David Nihil:2015). Karena berdasarkan hasil penelitian, “The brain doesn’t pay attention on boring things,” tutur John Medina, penulis buku terlaris Brain Rules.

Saat ini publik telah terbiasa menerima informasi melalui humor. Publik sekarang menginginkan infotainment bukan information. Publik menginginkan informasi yang disampaikan dengan punchline.

Peran Humor dalam Mengurangi Tekanan

Filosofi dari “Creative at Work” melalui Humor Perspective (Meggert:2009) adalah dalam setiap situasi kita dapat memilih bagaimana untuk bereaksi. Kita dapat saja marah, sedih, frustrasi, bahkan stress; atau kita dapat memilih dengan berusaha mencari sisi lucu dari situasi yang sulit sehingga bisa menghasilkan tawa atau senyum. Salah satu contoh konkret dari aplikasi humor perspective adalah berikut ini. Sebelum liga Inggris musim 1994-1995 dimulai, secara mengejutkan Klinsmann hijrah dari AS Monaco (Perancis), ke Spurs (Kompas:2015). Kedatangan Klinsmann memicu kontroversi di pers Jerman karena khawatir sang bintang menjadi sasaran kritik pers Inggris. Maklum, Klinsmann tampil di tim Jerman yang menyisihkan tim Inggris di Piala Dunia Italia tahun 1990. Salah satu kontroversi yang paling riuh adalah aksi diving saat laga final kala Jerman bertemu Argentina, Klinsmann jatuh terguling-guling akibat pelanggaran Pedro Monzon, yang lalu diganjar kartu merah. Beruntung, Klinsmann, ia mendapat saran jitu dari Sheringham dan rekan-rekan lain di Spurs, “Di Inggris, sebagai seorang public figure, Anda akan sering terprovokasi oleh media karena mereka ingin melihat bagaimana reaksi Anda. Juga ini bagian dari humor ala Inggris, bahwa Anda seharusnya tak boleh tersinggung. Anda harus selalu berada dalam posisi ‘top’, di segala situasi provokatif,” ujar Klinsmann.

Singkat kata, Sheringham waktu itu memberi tips, “Jika Anda mencetak gol, diving-lah, bercandalah dengan situasi. Namun, jika tidak mencetak gol, Anda tak akan bisa bercanda.” Masih menurut Klinsmann, candaan itu membuatnya popular di Inggris. Seiring dengan aksinya yang memukau di lapangan dan humornya yang diterima publik, ia terpilih sebagai “Pesepak Bola Tahun Ini” (Musim 1994-1995) versi Asosiasi Penulis Sepak Bola.

Peran Humor dalam Pengajaran dan Kepemimpinan

Standford-Blair dan Dickmann dalam (Jonas:2004) percaya bahwa humor dapat menolong orang untuk mencapai tujuannya. Pemimpin dan pengajar pada umumnya menetapkan tujuan untuk menghasilkan hal yang konkret. Seorang pemimpin selalu dapat menggunakan jalur yang terencana yang sifatnya jangka panjang, akan tetapi cara lain dapat digunakan melalui video-video lucu. Salah satu aplikasi dari hal ini adalah ketika Steve Kerr mengakhiri puasa Warriors selama 40 tahun dengan percaya bahwa kesenangan bisa membawa motivasi (Tempo:2015). Asisten Kerr yang bertugas menganalisis video lawan, juga menyelipkan kartun-kartun lucu di sesi menonton video timnya. Asisten-asisten Kerr yang lain juga dengan sukarela menceritakan momen memalukan mereka untuk ditertawakan dan dijadikan bahan pelajaran.

Jangan dilupakan, puzzles juga dapat digunakan untuk problem-solving activity. Berikan puzzles di dalam kelas, diskusi, maupun rapat. Berikan setiap orang minimal 5 keping dari puzzles dan tanyakan “tebak gambar utuh dari puzzles tersebut”. Pada umumnya, setiap orang akan menebak berdasarkan 5 keping yang dimilliki; hanya, ketika semua orang bekerja sama untuk membentuk puzzles secara utuh, maka problem terpecahkan.

Aktivitas ini bisa menghasilkan diskusi yang bermanfaat dan dapat digunakan sebagai bahan refleksi. Salah satu refleksi yang terbaik dikutip dari David Beckham yang menyatakan bahwa dia sangat bangga bisa menyelesaikan puzzle dalam waktu 6 bulan, padahal di kotaknya tertulis 2-5 tahun.

Penutup

Seperti yang telah penulis uraikan di atas bahwa mengapresiasi dan mengaplikasikan humor adalah ketrampilan mutlak yang harus dimiliki oleh semua orang. Hanya saja sampai saat ini belum ada mata ajar khusus mengenai humor di sekolah atau universitas di Indonesia. Penulis berharap bahwa institusi pendidikan, terutama masing-masing fakultas dari berbagai disiplin ilmu dapat mengambil peran, melihat banyaknya manfaat dari mempelajari humor.

Conan O’Brien (Franzini:2012) mengakui: ”Saya telah menghabiskan waktu sepiuluh, seratus, bahkan ribuan jam untuk memikirkan apa yang lucu, mencoba untuk lucu, dan sampai sekarang masih berusaha untuk tetap lucu.” Rita Rudner (Garry Berman: 2012) melakukan riset selama satu bulan hanya untuk mendapatkan materi selama 5 menit.

Hampir semua komedian meluangkan waktu 22 jam (berpikir) untuk menghasilkan hanya satu menit materi untuk sebuah acara penting (David Nihil: 2015). Jay Leno dan timnya (Dave Berg:2014) minimal menyortir 1500 jokes setiap hari hanya untuk mendapatkan 25 jokes terlucu hanya untuk 12 menit pertunjukkan. Jay Leno hanya tidur rata-rata 4 jam setiap harinya.

DANNY SEPTRIADI