Kokkang dan Behind The “Gojeg” Strategy

//Kokkang dan Behind The “Gojeg” Strategy

Kokkang dan Behind The “Gojeg” Strategy

roikan-dpn

Kokkang dan Behind The “Gojeg” Strategy

Judul Buku: Gojek, Gojlok, Momong – Studi Budaya Kreatif Kelompok Kartunis Kaliwungu (Kokkang)

Penulis: Roikan

Penerbit: Kepel Press, Yogyakarta

Cetakan Pertama: Agustus 2015

Jumlah Hal: 255+xxiv

ISBN: 978-602-356-021-9

Oleh Darminto M Sudarmo

Ada dua cara yang gampang dan sederhana untuk memahami dan menikmati karya kartun cetak (bukan animasi). Pertama, bagi masyarakat yang ingin mendapatkan lelucon murni (lokal atau universal) fokuskan saja perhatian pada kartun-kartun lucu (gag cartoon). Kartun-kartun ini bisa satu kotak atau lebih, terdapat pada koran, majalah, buku atau media cetak lainnya, di antaranya bisa diakses juga dalam format pdf atau format lainnya di berbagai website.

Kedua, bagi masyarakat yang ingin mendapatkan lelucon aktual, bersifat kekinian, umumnya menyangkut kiprah para elit dan kebijakan penguasa, fokuskan saja perhatian pada kartun-kartun opini (political cartoon atau editorial cartoon) yang di Indonesia secara salah kaprah disebut karikatur. Kartun-kartun ini dimuat di berbagai media yang sama seperti disebutkan di atas. Posisi gambar acapkali ditampilkan di tempat yang menonjol. Kalau tidak di halaman Opini biasanya ditampilkan di halaman depan, bahkan sebagai (Head Line: lihat Indopos, Jakarta).

Akan halnya istilah karikatur (caricature) makna sebenarnya adalah gambar sindir-lucu tentang tokoh atau peristiwa yang menonjol di masyarakat dan divisualkan secara deformatif, bahkan eksageratif . Terjadi pemiuhan wajah atau peristiwa (secara plethat-plethot) dan ditonjolkan secara berlebihan di bagian yang menjadi sorotan tanpa menghilangkan karakter dasarnya. Jelas ini berbeda dengan kartun opini yang di barat lazim disebut political cartoon atau editorial cartoon.

Strategi Gojeg ala Kokkang

Membincangkan Kokkang (Kelompok Kartunis Kaliwungu), sebagai warga Kokkang sendiri, sebenarnya saya merasa kikuk, namun karena ini amanat dari sang penulis Roikan dan Penerbit, saya lalu teringat, bahwa saya punya “pakaian dinas” sebagai seorang pemerhati humor (humor observer atau humor critic). Maka setelah memakai “kostum” tersebut, mudah-mudahan saya segera dapat menanggalkan subyektivitas yang tak lucu itu. Masyarakat jelas sudah sangat jenuh dengan hadirnya banjir bandang narsisme yang kebablasan sejak adanya berbagai model media sosial belakangan ini.

Tentang Kokkang, saya ingin menghadirkan sesuatu, yang mudah-mudahan dapat ikut memperkaya buku ini. Karena pengetahuan saya cupet tentang metodologi, sistematika dan sebagainya itu, maka saya hanya akan menghadirkannya saja. Apakah ini masuk kategori informasi, filosofi, ideologi, strategi, atau apalah istilah ilmiahnya, silakan simpulkan sendiri. Kata strategi dalam judul, itu cuma pemancing daya tarik saja, sifatnya sementara. Selanjutnya adalah hak Anda, pembaca, untuk menyimpulkannya.

Ada hal yang sangat esensial berkaitan dengan “ruh” Kokkang yang belum banyak dipahami anggota Kokkang, meskipun mungkin mereka hanya bisa merasakannya, yaitu spirit inti, mengapa kelompok tersebut didirikan. Spirit ini tak dapat dirumuskan dalam kata-kata. Kadang ia diekspresikan dalam etos kerja, di kali yang lain diwujudkan dalam profesionalitas, dan di kali yang lainnya lagi, diartikan seolah-olah sebuah elan perjuangan berharga mati.

Mengapa begitu? Para pendiri Kokkang telah membuat garis pemisah yang sangat tegas, sebagai sebuah paguyuban kebudayaan, Kokkang tak boleh bermain atau bermain-main atau terlibat dalam politik praktis. Interest-interest itu bisa mengacaukan bioritme organisasi. Ketika salah seorang anggota pernah minta izin untuk menjadi anggota partai politik, para pendiri hanya memberi dua pilihan: masuk parpol artinya di luar anggota Kokkang atau menjadi anggota Kokkang berarti bukan anggota parpol manapun. Syukurlah, anggota Kokkang itu tidak pernah terdengar terdaftar sebagai anggota parpol, bahkan kini menjadi wartawan di sebuah media di Jakarta. Masih satu lingkaran profesi dengan kartunis.

Para senior Kokkang juga telah mewariskan berbagai kiat terkait dengan spirit inti itu. Pertama-tama adalah tentang pola pikir (mind set). Jangan sampai terjadi sesat pikir, apalagi cacat pikir, seperti yang banyak diselorohkan para anggota dewan di Senayan. Bahwa kartunis, serendah-rendahnya harus menjadi agen kontemplasi. Menjadi agen perubahan, itu hebat kalau bisa. Bahkan yang paling keren dan bermartabat, apabila seorang kartunis telah mencapai kemampuan sebagai “Anjing Penjaga” norma. Menggonggong saat merasakan akan datangnya sebuah bahaya (orang jahat). Early warning system.

Dalam olah profesionalitas, seorang kartunis telah memahami perannya bahwa di dalam melaksanakan tugasnya, setidak-tidaknya ia memiliki tiga kompetensi dasar yang tak dapat ditawar-tawar lagi, yakni sebagai “wartawan”, “humoris”, dan “penggambar” yang memadai. Sebagai wartawan terkait dengan akurasi, humoris terkait dengan lelucon dan sebagai penggambar terkait dengan komunikasi visual. Mustahil seorang kartunis mengaku menggambar kuda, padahal semua orang yang melihat menyebutnya: sapi.

Kompetisi di kantor-kantor redaksi media cetak sangat keras. Tiap hari datang bertarung beratus-ratus kartun untuk bisa dimuat. Kalau kartunis lain, mengirim kartun satu amplop yang isinya lima gambar dan berminggu-minggu menunggu untuk melihat karyanya dimuat, maka Kokkang “menganjurkan” untuk terus mengirim kartun-kartun baru, sehari atau tiga hari sekali bisa lima atau lebih gambar dalam satu amplop. Menuggu dimuat dulu baru membuat kartun lain untuk dikirim, sebuah etos kerja yang tidak dianjurkan, bahkan di awal-awal Kokkang, hal itu bisa menjadi bahan ejekan atau gojlokan yang mentradisi.

Anggota Kokkang, sampai dengan 2015 ini, telah memasuki sekian lapis angkatan. Ada angkatan 1981/1982-an, ada pula angkatan 1986/1987-an, 1990-an dan seterusnya hingga tahun 2015. Situasi dan kondisi media cetak belakangan ini yang tanda-tandanya mulai agak tergerus oleh media noncetak, merupakan “warning” tersendiri yang tak dapat dinafikan begitu saja. Beruntung di dalam diri kartunis memiliki tradisi ber-olah kreativitas, maka apapun medianya, kartunis tetap dibutuhkan dan bisa berkarya, karena kreativitas itu sendiri sesungguhnya yang memegang peran penting dalam setiap kompetisi. Kokkang, tampaknya masih tanggap akan hal itu.

Kokkang di Tengah Sejarah Kartun Nasional

Dalam sejarah perkartunan nasional, tahun 1970-an ke atas dapat dikatakan sebagai tahun ladang persemaian yang subur bagi tumbuhnya “tradisi” kartun lelucon. Kartun-kartun yang bertema sosial, situasi sehari-hari atau bahkan yang penting kartun lucu dan menghibur. Pada tahun-tahun 70-an ke atas, Indonesia, khususnya Jakarta, diramaikan terbitnya majalah-majalah dari Selecta Group; seperti: Selecta, D&R (Detektip & Romantika), Stop (Humor) dan lain-lain.

Di halaman majalah-majalah tersebut dimuat secara bertebaran maupun sebagai stopper, kartun-kartun karya Johnny Hidayat, Subro, Oet, FX S Har, Zen, Harry Pede, dan lain-lainnya. Dua nama yang dianggap paling ngetop untuk kartun lelucon (gag cartoon) pada masa itu adalah Johnny Hidayat dan Subro. Nyaris setiap terbit tiada halaman tanpa kartun mereka. Media yang termasuk longgar memuat kartun sejenis adalah Majalah Variasi, Intisari, Varia, Yunior dan Warnasari. Karena kartun-kartun lelucon itu bersifat kontributif, maka banyak kartunis baru atau yang masih tahap belajar berpartisipasi mengirimkan kartun ke media-media tersebut dengan harapan dapat dimuat dan mendapatkan honor yang cukup memadai.

Satu hal yang sangat penting untuk dicatat kaitannya dengan fenomena tersebut adalah tumbuhnya keberanian di kalangan pemula untuk mencoba menjadi kartunis dan tersedia wadah untuk menguji kebisaan mereka.

Bibit-bibit kartunis baru pun akhirnya bermunculan. Tahun 1980-an, kartunis yang dulunya belajar secara otodidak lewat kartun-kartun lelucon yang dimuat di berbagai media cetak, kini telah tumbuh menjadi sosok yang beda dan tak ragu menyebut diri sebagai kartunis. Tolok ukurnya apa? Tentu saja karena kartun-kartun karya mereka juga telah terbukti ikut meramaikan dunia penerbitan di Jakarta maupun kota-kota lain (daerah) yang menyediakan lahan untuk diisi kartun-kartun lelucon.

Maka pada periode ini pula muncul semangat untuk tergabung dalam paguyuban atau komunitas. Itu terjadi lantaran secara faktual, jumlah mereka lumayan banyak, dan semangat mereka juga tinggi.

Diawali oleh sekelompok kartunis Yogyakarta: Bagong Soebardjo (Inan), Gunawan R, Gunawan P, Gessi Goran, Anwar Rosyid, T. Nurjito, Wachid Elba Beach, Ashady dan lain-lain bertekad mengikat dalam sebuah komunitas yang dinamakan Pakyo (Paguyuban Kartunis Yogyakarta). Deklarasi pendirian Pakyo ini ditandai dengan mengadakan pameran kartun bersama di Galeri Seni Sono, Yogyakarta.

Seperti gayung bersambut, pemberitaan mengenai Pakyo ini mengusik dua kartunis Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah; yaitu Odios (Darminto M Sudarmo) dan Itos (Boedy Santosa). Tanpa banyak buang waktu, keduanya lalu bersepakat mendirikan Kokkang (Kelompok Kartunis Kaliwungu). Tanpa banyak buang waktu pula, keduanya lalu mengadakan pameran kartun bersama di Pendopo Kawedanan Kaliwungu (1982).

Situasi menjadi semakin menarik ketika orang menggunjingkan lahirnya Kokkang karena kemunculan Pakyo; sepertinya peristiwa itu terjadi karena pengaruh teori efek domino saja. Tetapi, ada pula yang menyanggahnya. Pakyo lahir karena memang harus lahir. Kokkang lahir karena memang sudah waktunya lahir. Rasanya tak perlu menghubung-hubungkan gejala itu sebagai akibat dari teori efek domino segala. Intinya, kalau itu bisa terjadi karena kebetulan semata. Tetapi apa yang terjadi kemudian?

Pameran kartun Odios dan Itos yang saat itu dihadiri Jaya Suprana dan para kartunis Semarang, benar-benar membuktikan bahwa teori efek domino itu tak dapat dikecilkan artinya; karena kurang dari seminggu setelah mereka mengunjungi pameran di Kaliwungu, kartunis-kartunis Semarang lalu mendeklarasikan berdirinya Secac (Semarang Cartoons Club).

Sekelompok kartunis Semarang lainnya yang punya prinsip beda mendirikan Wak Semar (Wadah Kartunis Semarang). Begitulah jejak yang tertinggal. Jejak yang masih dapat dilacak. Bila sesudah itu masyarakat menyaksikan suburnya pendirian paguyuban atau kelompok kartunis lain yang tak kunjung putus tak kunjung rampung, maka tak sulit untuk menarik benang merah korelasi, bahwa itu semua terjadi karena pengaruh virus latah atau trend atau efek domino tadi.

Jangan heran kalau Anda kemudian menjumpai nama-nama komunitas kartunis seperti ini: Terkatung (Terminal Kartunis Ungaran), Pakarso (Paguyuban Kartunis Solo), Pecahban (Pecandu Kartunis Bandung), Pokal (Persatuan Kartunis Tegal), Perkara (Persatuan Kartunis Rawamangun), Ikan Asin (Ikatan Kartunis Banjarmasin) dan masih banyak lagi lainnya.

Ternyata paguyuban-paguyuban atau kelompok kartunis yang marak dan bertebaran di berbagai titik lokasi di Jawa, Bali, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi itu sedikitnya membuahkan hasil berupa kompetisi sehat dan adu kuat dalam survival kelompok atau individu melawan gerusan waktu.

Hasilnya lumayan. Alam menyeleksi lewat kebajikannya. Akhirnya muncul nama-nama yang pada saat naskah ini ditulis, mereka masuk kategori second grade. Siap mengintip singgasana maestro yang sebetulnya juga milik mereka sendiri. Siapapun boleh setuju atau tidak setuju, tetapi keputusan menyebut sebagian nama mereka semata-mata karena pertimbangan: prestasi, penilaian kritikus dan pengakuan publik (dalam atau luar negeri).

Nama-nama itu misalnya: Jitet Koestana, M. Najib, Jango Pramartha, Thomdean, Joko Luwarso, Benny dan Mice, Tyok, Gessi Goran, Non-O S. Purwono, Gunawan Pranyoto (Goen), Muchid Rahmat, M. Syaifudin Ifoed, M. Nasir, Hanung Kuncoro, Koesnan Hoesie, Muslih, Ibnu Thalhah, Wiednyana, Gun Gun, Gus Martin, Den Dede, Deny Adil, dan banyak lagi yang tak dapat ditulis di sini karena keterbatasan halaman. Bahkan kartunis Pri S (Priyanto Sunarto) yang telah meraih doktor dengan disertasi “Metafora Visual Kartun Editorial pada Surat Kabar Jakarta 1950-1957”, di depan para peminat kartun mengatakan, bahwa Jitet Koestana itu sebenarnya sudah layak dimasukkan ke dalam kategori salah seorang maestro kartunis Indonesia.

Pendapat Pri S itu sah. Tinggal menunggu proses pengakuan publik, yang juga memerlukan waktu. Apakah sistem nilai di negeri kita sudah dapat melihat masalah dengan kaca mata adil dan bijak? Misalnya wacana tentang Jitet apakah perlu harus menunggu dia berumur lanjut lebih dulu, kenyataannya, kendati secara usia dia masih tergolong muda namun kualitas karyanya tidak terlalu jauh dari para maestro yang ada saat ini.

Akhirnya, saya mengucapkan selamat kepada Roikan, semoga buku Anda “Gojek, Gojlok, Momong” Studi Budaya Kreatif Kelompok Kartunis Kaliwungu (Kokkang) yang mengkaji bidang humor, khususnya tentang Kokkang dan kedalamannya, sungguh sumbangsih yang sangat berharga bagi dunia perhumoran nasional.

Ucapan yang sama perlu saya sampaikan kepada Penerbit Kepel Press, Yogyakarta yang masih memiliki idealisme dan optimisme bahwa orang yang membaca buku manual, cetak, itu masih ada dan bahkan banyak.

Salam humor.

(Odios) Darminto M Sudarmo dan (Itos) Boedy Santoso, adalah pendiri Kokkang.

2015-09-05T15:35:09+00:00September 5th, 2015|Uncategorized|0 Comments

Leave A Comment