HumOr No. 28/27 November-10 Desember 1991 (Hasil Perburuan)

//HumOr No. 28/27 November-10 Desember 1991 (Hasil Perburuan)

HumOr No. 28/27 November-10 Desember 1991 (Hasil Perburuan)

HumOr-28-Nurul-Arifin

HumOr No. 28/27 November-10 Desember 1991 (Hasil Perburuan)

Wawancanda Nurul Arifin: Saya Nyoblos Golkar!

Seperti yang sudah diduga banyak orang, Nurul Arifin, bintang film yang seksi ini kalau bicara ceplas-ceplos dan menggemaskan. Jangan kaget kalau ia dengan enak nyeplos ke sana, nyeplos kemari. Tak terkecuali bicara soal Pemilu dan rencana bulan madunya ke Afrika. Semua meluncur saja tanpa beban. Benar-benar Nurul.

Sawungkampret

Dwi Koen: Warok Surobongsang 4

Sawungkampret sangat terpukul ketika diberitahu Ni Woro Sendang bahwa Warok Surobongsang adalah orang yang paling bertanggungjawab atas kematian ibunya. Sadar tidak mungkin menghadapi Warok sendirian. Sawung bersama “adik-adik”-nya berguru lagi pada Aki Badak Ngajentul. Warok membuntuti terus.

Banyak Jalan ke Amor

Adra P Daniel: Malam itu Anton Menyentuh Anto Metal

Mereka kasmaran. Betul-betul kasmaran. Mereka jatuh cinta. Betul-betul ketiban asmara. Entah panah amor mana yang menancap di hati kedua “jantan” itu. Mereka sumpah mampus bahwa mereka lelaki walau tidak tulen. Mereka adalah seperti yang suka kita sebut “gay”.

Zaman Edan

Permadi: Sepakbola Bukan Kalah tapi Mengalah

Persepakbolaan Indonesia pernah punya nama harum di dunia. Apalagi setelah menahan draw kesebelasan Soviet di Olimpiade Melbourne. Tapi sekarang? Selain prestasinya merosot disiplin dan sportivitas ikut anjlog. Perkelahian, sogok, mewarnai banyak event. Saling tuding dan menyalahkan di antara pengurus.

Putu Wijaya: Suksesi

Seorang konglomerat yang sudah gaek dan merasa hampir game, perlu menentukan siapa yang akan menjadi penerus di antara kelima anaknya. Maka anak-anak pun ribut, para mantu kasak-kusuk, orang luar pun tak cukup manggut-manggut. Sebelum surat wasiat dibuat, si gaek pun berkhotbah, bernasihat dan menyampaikan kehendaknya. Siapa yang terpilih?

Eksegosip

Prasanti: Konglomerat dan Media Massa

Di zaman normal dulu, yang menjadi penerbit pers itu pasti wartawan. Wartawan yang sarat dengan ide-ide. Sekarang lain, namanya juga sudah industri pers. Jadi sah saja jika ada konglomerat punya industri pers. Sepertinya bidang ini dapat membawa keuntungan lahir batin, deh!

Dan banyak lagi rubrik menarik lainnya….

By |2015-08-31T10:27:36+00:00Agustus 31st, 2015|Uncategorized|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment