Buku-buku Humor Koleksi Ihik (217)

//Buku-buku Humor Koleksi Ihik (217)

Buku-buku Humor Koleksi Ihik (217)

fira-basuki

Wimar Witoelar: “Hell Yeah!”*
by Fira Basuki

Tubuh subur, rambut keriting,, berkacamata tebal, dan gemar memaki kemeja santai dengan warna dan motif meriah. “Siapa Wimar sesungguhnya memang tak mudah dirumuskan. Tetapi, boleh saja pria kocak ini kita sebut sebagai seorang entertainer alias penghibur.
Wimar Witoelar adalah salah seorang tokoh yang saat berani disaat pemerintahan Soehaarto. Ikon yang sangat tak terlupakan adalah ‘Perspektif’, sebuah Talk Show “beran” di jaman Soeharto. Selain berani, Perspektif adalah talk show yang unik. Topiknya menantang arus. Ketika bayak orang menyatakan kebulatan tekad mendukung Orde Baru, Perspektif tidak ikut-ikutan. Ia menawarkan alternatif. Paling tidak, ada pilihan selain program-program rancu seperti Kelompencapir, Liputan khusus, dan propaganda-propaganda Orde Baru lainya.
Walau pada akhirnya acara talk show Perspektif diberedel karena dinilai terlalu berani, Namun Nama Wimar Witoelar semakin melambung Pujian maupun decak kagum memang pantas diberikan padanya. Anda penasaran? Ikuti kisah dan sepak terjangnya dalam buku karya Fira Basuki ini.

Paperback, 273 pages
Published 2007 by Grasindo
original title
Wimar Witoelar: “Hell Yeah!”*
ISBN
9797595226
edition language
Indonesian
other editions
None found

About Fira Basuki
Fira Basuki (born June 7, 1972) is a well-known Indonesian novelist. Arguably her most famous work is her trilogy debut consisting of Jendela-Jendela (The Windows), Pintu (The Door) and Atap (The Roof). The trilogy concerning the journeys of Javanese brother and sister Bowo and June; from graduating high school, studying abroad in the US, their meta-physical experiences (especially Bowo’s “second..

Komentar Pembaca:

Farah
Jan 16, 2010 Farah rated it 2 of 5 stars
Shelves: reviewed

Membaca biografi Wimar Witoelar, menurut gue, seharusnya seperti naik roller coaster yang seru sekali. Yang setelah naik sekali, kita akan ngantri sekali lagi untuk naik, dan mungkin, sekali lagi.
Sayangnya, perasaan super excited a la naik roller coaster itu tidak gue temukan di buku ini. Apa mungkin gue berekspektasi terlalu tinggi ya?

Bukan, bukan isi biografinya yang nggak seru. Tapi cara penulisannya yang menurut gue ngga asik.
I mean, ini adalah kisah seorang Wimar Witoelar! Yang sejak kecil sudah bolak-balik liburan ke Eropa, sepak terjangnya di dunia mahasiswa dan politik Indonesia, yang kemudian jadi spokesmannya Gus Dur, kehidupan pribadinya dan cerita-cerita lain yang seharusnya, bisa dijabarkan dengan menarik.

Bagian yang gue baca secara lengkap adalah bagian pendahuluan yang ditulis oleh Fira (sisanya gue berusaha sekuat mungkin untuk tetap konsen, apa daya suka nyerah juga di tengah jalan).
Yang dia bilang pengen bikin biografi populer lah, yang dia bilang dia takut saat membuat karya ini lah, yang dia bilang, bahan mentahnya sudah ada, tinggal bagaimana dia menyampaikan, mengutip, dan “menjahit”nya saja.

Kemudian saat memasuki bagian pertama, mulai berasa deh, saat membaca bukunya seperti dikejar-kejar. Cara nyeritainnya ngebut. Apa yang Fira katakan sebagai “menjahit” sama sekali ngga terasa.
Malah gue jadi merasa sedang menonton wawancara kasar yang sama sekali belum diedit. Jadi masih amburadul. Si anu ngomong ini, si itu ngomong juga, si dia-si dia-dan si dia ngomong juga, lagi, dan lagi.

Mungkin ya, gue sudah beberapa kali membaca biografi orang lain.
Mungkin juga, biografi yang gue baca penuh dengan foto-foto yang membosankan, dengan gaya penyampaian yang juga kaku, sekaku raut wajah orang-orang di foto hitam putih yang diambil gambarnya pada tahun 1800-an dengan kamera yang masih diputar engkolnya dan cameramannya masih ditudungi pake kain hitam.
Mungkin juga biografi-biografi yang gue baca itu tebal dan berat, tapi gue jadi benar-benar tahu, bagaimana kehidupan si anu kecil, bagaimana masa kecilnya, masa remajanya, masa-masa kejayaannya, masa tuanya, dan sebagainya, dan sebagainya.
Dan jujur aja, gue bukan orang yang fanatik sama sejarah. Gue ngantuk kalo baca sejarah. Gue suka bingung baca sejarah yang penuh dengan tanggal-tanggal, tahun-tahun, dan orang-orang 🙁

Tapi ada kok, biografi yang nggak se-membosankan itu cara penulisannya.
Ada yang enak dibaca, dan ada beberapa yang pengen gue baca lagi, dan lagi.
Yang aneh dari buku Wimar ini, saat sedang menceritakan masa kecil dan perbandingan sifat Wimar dan kakak-kakaknya, kutipan langsung dari anaknya Pak Wimar, langsung ditemplokin disana.
I mean, kalo ini section tentang masa kecil, biarpun narasumbernya adalah anaknya sendiri yang notabene beda generasi, ya ndak perlu dong, dikutip langsung…
Dan ada banyak kalimat-kalimat yang bikin gue mikir, “ini maksudnya apa sih?” “Hah? Maksudnya?” “DOH! Ini apa lagi coba maksudnya???” *facepalm*

Lebih anehnya lagi, Fira memasukkan begitu banyak unsur “Saya” sebagai penulis ke dalam biografinya Wimar.
Oke, kalo gitu ngga usah bilang bahwa ini Biografi deh. Bilang aja, “Ini adalah kumpulan pengalaman saya saat saya berusaha membuat biografinya Wimar Witoelar”.

Contohnya:

P. 216
Still Loud & Clear
“Saya bukan orang yang bersabar untuk datang mengikuti seminar, apalagi yang topiknya tidak familier untuk saya. Namun, thanks to Wimar, beberapa kegiatannya dengan topik yang menurut saya membosankan, bisa saya nikmati bahkan herannya sesekali tertawa bersama para peserta.”

Gue suka cerita hidupnya Pak Wimar, tapi gue ngga suka penulisannya Fira Basuki. Udahlah, bikin novel aja. Ngga usah merambah jadi penulis biografi segala. Ketakutannya terbukti kok, dia ngga bisa bikin buku ini enak dibaca. Apanya yang nge”jahit”? Wong yang baca masih suka dibuat bertanya-tanya sama maksud penulisannya..

Gue menantikan biografinya Wimar Witoelar yang ditulis oleh orang lain saja, deh. Gapapa membosankan, yang penting bisa dibaca. Eh tunggu deh, kayaknya nggak mungkin gue akan benar-benar menemukan biografinya Wimar Witoelar sebagai salah satu bahan bacaan yang membosankan..

2014-07-05T16:22:09+00:00Juli 5th, 2014|Uncategorized|0 Comments

Leave A Comment