Buku-buku Humor Koleksi Ihik (167) dan Laporan Bedah Buku di Malang, Jatim

//Buku-buku Humor Koleksi Ihik (167) dan Laporan Bedah Buku di Malang, Jatim

Buku-buku Humor Koleksi Ihik (167) dan Laporan Bedah Buku di Malang, Jatim

POSTING-167

Republik Badut
by Darminto M Sudarmo

Hanya di “Republik Badut” elit penguasanya mulai dari presiden, menteri, penegak hukum, aparat keamanan, dan anggota dewan yang katanya terhormat bisa dijabat oleh sekelompok badut-badut. (Tiyok, kartunis/illustrator Harian Media Indonesia)

Data Buku
Judul: Republik Badut
Penulis: Darminto M Sudarmo
Genre: Satir – Humor Dosis Tinggi
Cetakan : Beranda
Tebal : 240
Ukuran : 14 x 17 cm
Kertas : Book Paper
ISBN : 978-602-99277-8-8
Harga : Rp. 52.000,-

Gambar

Laporan Bedah Buku Republik Badut karya Darminto M Sudarmo

Togamas, Malang, Jawa Timur, 8 Juni 2014

Oleh: Roikan, S.Sos

Acara bedah buku di Togamas, dilaksanakan di lantai sebelah utara bangunan toko. Dihadiri oleh kurang lebih 20 orang, sebelum diskusi diawali dengan klentingan gitar dari Alikustik, dengan membawakan beberapa lagu. Kemudian diskusi dibuka oleh moderator dan ada penampilan puisi dari Komunitas Sastra Lembah Ibarat.

Dalam Diskusi kali ini dimoderatori oleh salah satu wartawan dari Radar Malang dan yang menjadi pembicara Prof. Hariyono M. Pd. (dosen Sejarah dari Universitas Negeri Malang). Awalnya langsung mendatangkan penulis bukunya Darminto M Sudarmo (Kartunis, Kolumnis, Blogger, Pendiri KOKKANG), namun dikarenakan suatu kondisi yang menjadi halangan, maka selaku wakil penulis dialihkan kepada Roikan S.Sos (Kartunis, peneliti Kartun dan Pengajar Antropologi UB).

Diskusi dibuka oleh moderator dengan apresiasi terhadap Pak Dar dan kekaryaannya, beliau mengatakan seandainya Pak Dar hadir ingin belajar teknik lucu-lucuan dan menyatakan kesalutannya dengan majalah Humor yang pernah mengalami masa kejayaan dalam menebar humor dalam skala nasional. Sempat terjadi miss communication antara panitia dengan moderator, karena ketika Prof. Hariyono dipanggil ke depan, moderator tidak memanggil juga pembicara cadangan Roikan. Namun, masalah dapat teratasi setelah ada koordinasi ulang dan moderator menyatakan kalau yang duduk di depannya adalah pembicara karena dipikir sebagai peserta diskusi dan tidak menyangka kalau masih muda juga telah menjadi seorang dosen.

Secara panjang lebar, Prof Hariyono menyampaikan tentang apresiasi terhadap bedah buku semacam ini, buku humor. Walaupun secara segmentasi pasar masih dirasa kurang menjanjikan dibandingkan dengan buku-buku yang bertema lebih populer. Namun dengan adanya buku humor menjadi semacam oase bagi masyarakat di tengah kondisi yang membuat galau. Politik menjadi hal yang  jauh dari kesan tragis jika didekati oleh humor.

Ada dua pemikian yang disampaikan oleh Prof Hariyono setelah melakukan pembacaan terhadap buku Republik Badut, pertama, bahwa buku ini menjadi sebuah teks yang oleh J. Derrida (tokoh filsuf kontemporer aliran postrukturalisme dan posmodernisme), karena menjadi sebuah teks dan ada ‘jejak’ yang ditinggalkan pada pembacaan-pembacaan selanjutnya. Teks menurut Derrida menjadi sesuatu yang bebas, bebas untuk diapresiasi dan bebas untuk dinilai.

Oleh karena itu, pemaknaan teks dapat melahirkan makna baru yang jauh dari makna yang dipersepsikan penulisnya sendiri. Masyarakat setelah membaca buku Republik Badut berhak membuat penafsiran tentang apapun dari isi buku yang dihubungkan dengan ranah kontekstual. Kedua, pemikiran Jurgen Habermas tentang demokrasi. Buku Republik Badut memberikan keleluasaan bagi penulis untuk menulis dengan visi misi ingin menyuarakan keresahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Secara khusus, Prof Hariyono menyatakan apresiasi kepada penulis tentang data dalam buku ini yang bersifat faktual dan sesuai dengan konteks, permasalahan apa yang sedang menjadi wacana umum diramu oleh Pak Dar menjadi humor yang dapat membuat orang mengingat peristiwa tertentu.

Selanjutnya, giliran Roikan yang menyampaikan materi, diawali dengan menceritakan bagaimana bisa kenal dengan Pak Dar terkait peran Pak Dar sebagai informan kunci dalam tesis tentang Kelompok Kartunis Kaliwungu (KOKKANG). Sebelum menyampaikan materi ada materi titipan dari Pak Dar yang dibacakan yaitu Extra Session, Sunday Morning Live Comedy, semacam Trailler untuk Republik Badut jilid II.

Apresiasi penonton antusias ketika pembacaan beberapa cerita terutama membicarakan masalah singkatan kata dari koalisi tokoh, bahkan tawa lepas menggema datang dari peserta diskusi. Setelah membacakan materi dengan semi stand up comedy, Roikan melanjutkan pembahasan tentang materi dari buku Republik Badut dari perspektif isu sosio-kultural. Melalui pendekatan humor, semua masalah dapat diolah kembali untuk menjadi sesuatu yang lebih renyah dan ini membantu dalam proses perenungan sekaligus mencari solusinya.

Humor bersifat universal, dapat diterima oleh semua golongan, suku, warna kulit dan usia. Merujuk pada pemikiran Maria Plaza tentang fungsi humor, Roikan menyampaikan bahwa humor dapat berfungsi sebagai sarana pelepasan dan penghimpunan energi. Hal ini merupakan gabungan antara pemikiran psikoanalisis ala Freud yang dipadukan dengan pemikiran sosiologis ala Spencer, melahirkan wacana bahwa humor dapat menjadi energi bagi kehidupan masyarakat, energi melepas masalah dan menghimpun energi balik untuk mencari penyelesaikan dari masalah itu sendiri. Roikan juga menyatakan bahwa tertawa adalah urusan biologis, sedangkan apa yang diketawakan (humor) menjadi urusan sosiokultural.

Sesi selanjutnya adalah tanya jawab ada beberapa penanya yang kemudian dijawab bersama oleh dua pembicara. Pertanyaan pertama dari Sipin Putra M.Si. (selaku pengajar di Antropologi UB) yang mempertanyakan tentang aspek metodologis dari penulisan buku ini, referensi buku dan apakah buku ini dapat menjadi referensi bagi penulisan ilmiah serta efek samping dari membaca buku ini. Ada tambahan pertanyaan tentang bagaimana hobby yang menjadi passion dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang banyak, khususnya hobi melucu.

Pertanyaan kedua datang dari Ahmad yang mempertanyakan bahwa buku ini termasuk fiksi atau ilmiah? Serta bagaimana relevansinya terhadap situasi yang tengah terjadi?; sedangkan pertanyaan ketiga, dari salah satu anggota Komunitas Sastra Lembah Ibarat, yang menanyakan posisi pembaca setelah membaca buku ini dan bagaimana mekanisme agar dapat aktif dalam penerapan wacana yang telah diterima.

Secara umum refleksi dari diskusi ini terdapat pada beberapa poin berikut: pertama, bahwa humor yang cerdas tidak membuat orang spontan tertawa terbahak-bahak, namun tersenyum sambil mikir bahkan ada yang bilang tidak lucu dan dapat menimbulkan efek skeptis. Inilah yang disebut tersenyum dan merenung, bahwa humor dapat menjadi suatu motivasi setelah melakukan kontemplasi yang mendalam; kedua, buku humor Republik Badut merupakan ramuan oplosan antara komedi dengan tragedi yang dapat menjadi salah satu bentuk dari humor terapan. Lucu itu bersifat universal, namun melucu yang cerdas harus memperhatikan relevansi tentang situasi, ranah konsumsi media dan mana yang mengikuti arus atau justru melawan arus.

Humor berkaitan dengan situasi sosial dapat ditelusuri melalui dua hal yaitu secara representatif dan reflektif; akhirnya, teks dalam buku Republik Humor dapat menjadi ruang untuk menciptakan wacana dan ruang baru, bukan sekadar diskusi terus bubar tanpa tindak lanjut. Humor dengan teks sosial dapat dilanjutkan dengan diskusi yang lebih intensif, menjadi sebuah kebiasaan yang menciptakan kelas tertentu (dalam kajian Pierre Bourdieu dinamakan sebagai habitus). Kelas masyarakat progressif yang selalu menyuarakan perubahan dan pergerakan sosial, aspirasi ditelusuri sampai menjadi sebuat tindakan nyata. Era Cyberspace dapat menyatukan banyak pihak dan suara dari berbagai arah, seperti salah satu contoh, situs Change.org merupakan situs yang kerap membuat petisi dan mewacanakan perubahan untuk perbaikan kehidupan sosial yang lebih baik dan bermartabat.

Demikian sedikit laporan seputar diskusi bedah buku Republik Badut, dan sebelum mengakhiri tulisan ini saya menyatakan angkat topi dan kesalutan pada Pak Dar karena tetap mengangkat teman-teman kartunis. Ibarat pepatah Kacang Tidak Lupa Pada Kulitnya, merintis proses hidup menjadi seorang kartunis (Odios) setelah menjadi penulis tidak melupakan menampilkan karya dari beberapa kartunis editorial diantaranya: Jitet Koestana, Ifoed, Gom Tobing, Toni Malakin, Martono Loekito dan Joko Luwarso. Salam Kartun.

2014-06-27T14:09:01+00:00Juni 27th, 2014|Uncategorized|0 Comments

Leave A Comment